CETAK BIRU KAJIAN ILMIAH - FORUM SYARIAH WAL QANUN
Bagian Pertama
Mengenal Lebih Dekat FSQ
(Sejarah, Langkah dan Kondisi Saat Ini)
Forum Studi Syariah wal Qânun atau yang lebih dikenal di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) dengan singkatan FSQ merupakan wahana kawah candradimuka bagi mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Mesir untuk mendalami disiplin ilmu Syâri’ah wal Qânûn di universitas Al-Azhar, di FSQ, mereka dapat concern pada sekian spesifikasi profesionalitas pendidikan.
Dibentuknya FSQ tidak terlepas dari beberapa motivasi yang melatarbelakanginya. Dibukanya Fakultas Syari'ah wal Qânun di Universitas Al-Azhar pada tahun 1970, merupakan salah satu motif terbentuknya FSQ, karena berawal dari itu mulai muncul para peminat dari calon mahasiswa Indonesia yang mendaftar pada fakultas tersebut. Banyak perbedaan pada materi-materi yang disuguhkan pada fakultas ini, bila dibandingkan dengan jurusan yang lain di Universitas Al-Azhar. Pada prinsipnya, pada Fakultas Syari'ah wal Qânun, terdapat dua jurusan dengan karakter dan ciri khas yang berbeda, yang pertama adalah jurusan Islamiyah yang konsentrasi dalam mengkaji seluk-beluk hukum Islam, dan yang kedua adalah jurusan Qânun atau Umum, yang lebih berkonsentrasi dalam pendalaman ilmu-ilmu hukum Islam dan juga ilmu-ilmu sosial, seperti halnya ilmu hukum positif, politik, ekonomi dan Hubungan Internasional. Namun seiring dengan perkembangan, istilah Syari'ah wal Qânun lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan jurusan Qânun atau Hukum (Secara Bahasa, kata al qânûn di sini atau Yurisprudensi dapat dimaknai sebagai mata kuliah bagi Filsafat Hukum, akan tetapi Yurisprudensi juga sudah umum menjadi sebutan untuk menunjuk fakultas Hukum secara umum). Sedangkan untuk jurusan Islamiyah di Universitas Al-Azhar lebih dikenal dengan Syari'ah Islamiyah. Maka ketika disebut Istilah Syari'ah wal Qânun, yang dimaksud adalah jurusan Qânun atau Hukum.
Dari mahasiswa dan mahasiswi yang mendaftar di jurusan terakhir inilah mulai berawal sejarah FSQ. Tepatnya pada tanggal 27 Juli 1993, atas dasar keinginan mahasiswa Syari'ah wal Qânun dari Indonesia. Pada waktu itu, untuk menekuni bidang studinya dilaksanakan dalam sebuah forum kajian yang secara intensif membahas dan mengkaji bersama diktat-diktat kuliah yang dirasa berat apabila dipelajari sendiri-sendiri seperti diktat-diktat ilmu politik, hukum, Hubungan Internasional dan Ilmu Ekonomi sebagai kegiatan ekstrakurikuler, maka dibentuklah forum kajian yang bernama FSQ.
Sebagai sebuah forum kajian, FSQ memiliki ciri khusus dibandingkan dengan organisasi lain yang berkembang di lingkungan Masisir, seperti halnya organisasi kekeluargaan, almamater, afiliatif dan lain sebagainya. Barangkali perbedaannya yang utama terletak pada format kegiatannya yang lebih mengarah pada pemberdayaan SDM mahasiswa Syariah wal Qânun itu sendiri. Pada awal berdirinya, FSQ tidak memiliki anggota yang banyak, ini karena mahasiswa yang terdaftar di fakultas Syari'ah wal Qânun saat itu masih sangat minim. Hanya tujuh orang anggota yang ada ketika itu, yang sekaligus sebagai founding father FSQ. Namun karena komitmen serta integritas yang tinggi dari para generasi pertama ini, minimnya anggota tidak menjadi halangan untuk terus berkarya dan mempersembahkan yang terbaik. Malah justru di tangan tujuh orang inilah, nama FSQ menjadi besar dan dikenal di lingkungan Masisir, sehingga tidak berlebihan jika ada yang mengatakan FSQ telah menghasilkan kader-kader yang handal dan mumpuni dalam bidang politik, hukum, hubungan internasional, serta ekonomi. Statement ini cukup beralasan mengingat banyak diskursus politik, hukum dan ekonomi di Cairo dibahas serta didiskusikan oleh mahasiswa Syari'ah wal Qânun yang notabenenya generasi pertama anggota FSQ. Mereka seringkali dimintai pendapat dan gagasan mengenai hal-hal diatas, atau bahkan menjadi pembicara pada acara diskusi atau seminar yang diselenggarakan oleh Masisir.
Seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa Indonesia yang mendaftar di Fakultas Syari'ah wal Qânun Universitas Al-Azhar, maka bertambah pula keanggotaan FSQ. Seperti layaknya organ yang hidup, dalam meniti langkahnya, lankah FSQ tidak selalu berjalan mulus, bahkan sering mengalami benturan-benturan yang berakibat pada terhambatnya perkembangan FSQ, yang justru terjadi pada saat bertambahnya jumlah anggota. Hal ini sungguh sangat disayangkan karena harapan FSQ dari kuantitas anggota yang banyak untuk menjadi forum yang lebih hidup, kandas. Perjalanan FSQ pasca generasi pertama mengalami pasang surut bahkan sempat mengalami kevakuman pada beberapa dekade. Fenomena ini tercermin secara empiris dengan minimnya kegiatan intern FSQ itu sendiri juga pada kegiatan eksternalnya yang terepresentasi pada minimnya partisipasi para anggota dalam berbagai aktivitas Masisir, baik diskusi, talkshow, seminar, tulisan-tulisan di majalah, jurnal, serta bulletin-buletin. Barangkali yang menjadi penyebab hal ini terjadi, selain permasalahan finansial, mungkin juga karena kurang cermatnya generasi selanjutnya dalam mewarisi loyalitas serta integritas yang dimiliki oleh generasi pertama terhadap FSQ.
Sejatinya kondisi seperti ini tidak baik dibiarkan berlarut-larut, dengan demikian, perlu adanya pembenahan demi tercapainya kemajuan dan kegemilangan FSQ kembali, semoga manfaat dari kehadiran FSQ tidak hanya terasa oleh anggotanya saja, bahkan mudah-mudahan dapat dirasakan oleh Masisir pada umumnya. Oleh karenanya, berbagai upaya telah dilakukan oleh pengurus FSQ pada setiap periode demi tercapainya tujuan di atas dengan cara penggalangan massa, sosialisasi program-program dan berbagai ekspansi, yang dapat menarik perhatian anggota dan Masisir.
Upaya tersebut ternyata tidak sia-sia karena titik terang mulai tampak, tepatnya pada periode kepengurusan tahun 2004, geliat para anggota untuk maju bersama FSQ cukup menggembirakan dengan mulai aktifnya para anggota dalam diskusi intern FSQ. Mempelajari diktat kuliah bersama-sama adalah salah satu indikasi yang mengarah pada perkembangan tersebut. Pada periode selanjutnya, terlihat FSQ tidak jalan di tempat, hal ini terbukti dengan format kegiatan yang berbeda dengan periode sebelumnya. Diskusi tidak hanya dilakukan pada tingkat anggota saja. Dalam kurun waktu antara 2005-2007, dua kali seminar umum yang terbuka untuk Masisisir berhasil terealisasi. Ini sebagai bentuk persembahan dari FSQ untuk Massisir dalam pengembangan wawasan dan keterampilan. Buletin pun dalam kurun waktu ini mulai diterbitkan walaupun belum begitu maksimal, namun yang jelas, semua ini merupakan gerakan-gerakan menuju kemajuan yang perlu mendapat respon dari berbagai pihak. Begitupun dengan prestasi dan karya yang telah diraih FSQ dalam masa ini cukup menggembirakan. Di antaranya; FSQ berhasil meraih nominasi senat terbaik pada Malam Anugerah PPMI Award tiga kali berturut-turut dari sejak tahun 2005-2007, dan dalam berkarya; sebanyak 6 kodifikasi makalah diskusi dengan berbagai spesilisasi ilmu Qânun telah dirampungkan.
Seperti telah disinggung di atas, bahwa FSQ adalah lembaga kajian yang karakternya berbeda dengan organisasi lain di lingkungan Masisir. Lembaga ini lebih bersifat fakultatif dan bergerak secara mandiri, namun seiring dengan perkembangannya, PPMI sebagai organisasi induk di kalangan Masisir mulai melirik dan merasa perlu untuk menjadikan FSQ sebagai organisasi senat yang secara kelembagaan—walaupun bersifat otonomi—berada di bawahnya. Dan hal ini berimbas pada terbentuknya senat lain seperti Senat Fakultas Syari’ah Islamiyah (FSI), Senat Fakultas Bahasa Arab (FBA), Senat Fakultas Dirosat Islamiyah (FDI) dan Senat Fakultas Ushuluddin (FU). Jadi, saat ini FSQ berperan ganda, di satu sisi ia sebagai forum kajian yang bergerak secara mandiri dan independen, tapi di sisi lain ia juga sebagai organisasi senat yang secara heirarki berada di bawah PPMI dan bersifat otonom.
Untuk menjalankan roda kegiatan FSQ, selain ketua, sekretaris dan bendahara, dalam struktur kepengurusan juga dibentuk beberapa divisi keilmuan yaitu Divisi Hukum, Divisi Politik, Divisi Ekonomi dan Divisi Hubungan Internasional. Hanya saja pada tiga periode terakhir, karena semakin bertambahnya kebutuhan intern. Maka diadakan perombakan pada divisi-divisi tersebut menjadi Divisi Riset dan Pengembangan SDM, Divisi Keilmuan dan Intelektual, Divisi Kaderisasi dan Sosial, serta Divisi Publikasi dan Perbuletinan. Dari sekian banyak program yang direncanakan oleh masing-masing divisi, untuk kepengurusan tahun ini hanya sebagian program yang dapat kami sosialisikan, pada kesempatan ini, sebagai program-program unggulan, di antaranya, pembuatan kamus istilah-istilah hukum, pengadaan referensi buku hukum dan politik indonesia, serta merespon gerak langkah Masisir yang ada kaitannya dengan kajian FSQ dalam bidang yang ditangani Divisi Riset dan Pengembangan SDM. Sedangkan Divisi Keilmuan dan Intelektual, di antara program unggulannya adalah menyelenggarakan diskusi reguler yang dilengkapi dengan silabus dan cetak biru pembuatan makalah, mengadakan diskusi telaah kasus, bimbingan diktat kuliah, seminar dan pelatihan, try out MABA Syari'ah wal Qânun, serta mengkodifikasi makalah-makalah diskusi. Adapun Divisi Kaderisasi dan Sosial mempunyai program menyelenggarakan orientasi MABA FSQ dan peringatan milad FSQ setiap tahunnya. Dan adapun Divisi publikasi dan perbuletinan, selain mempunyai program penerbitan buletin, juga mempunyai program penerbitan Jurnal dan updating mailist serta website.
Saat ini, dari sejumlah anggota FSQ, sekitar 50 persen-nya dapat dikatakan aktif sebagai pegiat FSQ. Hal ini cukup menggembirakan dibandingkan dengan sebelumnya, karena ini merupakan sebuah langkah menuju perkembangan, dengan harapan, semoga FSQ dapat terus maju di masa yang akan datang. Akhirnya, kami dari segenap pegiat FSQ mohon dukungan dari berbagai pihak baik berupa moriil ataupun materil demi terlaksananya target dan tujuan kami, dan semoga bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa Indonesia serta agama Islam.
Oleh: Akbar Hibban (ketua FSQ 2007 - 2008)
Bagian Kedua
Kaidah Dasar Penulisan Makalah
Forum Studi Syari’ah wal Qanun
2011
Keseragaman penggunaan kaidah dasar bahasa Indonesia perlu ditekankan, khususnya dalam tulisan. Karena salah satu tanggungjawab akademisi adalah menyampaikan wacana atau gagasan dalam sebuah tulisan dengan baik, benar dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Gagasan yang berkualitas juga harus diimbangi dengan kualitas tulisan yang dibuat dengan editing yang baik. Maka penyempurnaan kualitas editing mengikuti sebuah ‘standarisasi’ dinilai sangat penting. Dengan harapan akan meningkatkan kualitas dari gagasan atau wacana itu sendiri serta mempermudah proses editing sebelum naskah dipresentasikan atau diajukan ke pembaca atau diserahkan ke penerbit.
Berikut ini adalah beberapa kaidah dasar yang dilengkapi dengan contoh sederhana berkenaan dengan standarisasi penulisan makalah, kaidah pungtuasi, kaidah pengutipan, catatan pustaka, penulisan daftar pustaka, transliterasi Arab-Indonesia serta penyerapan bahasa asing.
STANDARISASI DAN KAIDAH-KAIDAH DASAR PENULISAN MAKALAH DALAM KAJIAN FORUM STUDI SYARI’AH WAL QÂNUN;
I. STANDARISASI PENULISAN MAKALAH
I. Makalah yang ditulis dapat menggunakan font “Times New Roman” atau “Calibri”;
II. Ukuran font tulisan yang ditentukan adalah 11;
III. Makalah dicetak dengan kertas ukuran standar “A4”;
IV. Makalah ditulis tidak kurang dari 3 lembar dengan margin standar yaitu; (margin atas; 2,54 cm), (margin bawah; 2,54 cm), (margin kanan; 3.18 cm) dan (margin kiri; 3,18 cm), ukuran ini adalah ukuran “default” yang diterapkan dalam program Microsoft Word;
V. Nama penulis ditulis di akhir tulisan dan dengan (align text right), dan tidak digabungkan dengan footnote maupun endnote.
VI. Setiap tulisan di dalam makalah di FSQ harus di-justify (diluruskan antara sisi kanan dan sisi kiri tulisannya). Pada program Microsoft Word, dapat menggunakan komando; (ctrl+J). Sedangkan dalam pengaturan kerapihan paragraf, penulis bisa memilih dua metode penyusunan paragraf. Metode pertama, adalah dengan meniadakan spasi satu baris antara satu paragraf dengan paragraf lainnya, akan tetapi harus memasukkan huruf pertama pada alinea baru pada paragraf baru tersebut kurang lebih empat huruf menjorok ke dalam, contohnya:
Setiap Negara memiliki tanggungjawab dan hak yang sama di depan Undang-undang Hukum Internasional. Hak dan tanggungjawab itu dapat dijalankan karena sebuah Negara mendapatkan hak identitasnya sebagai objek Hukum Internasional.
Sebagai haknya, sebuah negara mendapat perhatian serta mendapat pengakuan sebagai objek Hukum Internasional, sedangkan untuk memenuhi tanggungjawabnya, sebuah negara harus juga taat dan tunduk pada batasan-batasan yang telah diatur oleh Hukum dan Ketentuan Internasional.
Sedangkan pada metode kedua, adalah dengan memberikan ruang kosong (spasi) satu baris di antara dua paragraf, dengan tidak menjadikan huruf pertama pada alinea pertama menjorok ke dalam, contoh;
Setiap Negara memiliki tanggungjawab dan hak yang sama di depan Undang-undang Hukum Internasional. Hak dan tanggungjawab itu dapat dijalankan karena sebuah Negara mendapatkan hak identitasnya sebagai objek Hukum Internasional.
Sebagai haknya, sebuah negara mendapat perhatian serta mendapat pengakuan sebagai objek Hukum Internasional, sedangkan untuk memenuhi tanggungjawabnya, sebuah negara harus juga taat dan tunduk pada batasan-batasan yang telah diatur oleh Hukum dan Ketentuan Internasional.
Silahkan perhatikan perbedaan dari dua metode penulisan paragraf di atas.
VII. Penulis dapat memberikan bermacam variasi atau lay out tambahan bila perlu, dengan tanpa mengurangi esensi tulisan dan kerapihan makalah;
VIII. Penulisan beberapa tanda baca yang memungkinkan masih menimbulkan beberapa kerancuan distandarkan atau disamakan, di antaranya;
a. Penulisan kata-kata dalam kurung ((….)) tidak dipisahkan dengan spasi setelah tanda kurung buka maupun sebelum kurung tutup. Contoh:
Benar; (FSQ)
Salah; ( FSQ )
b. Penulisan kalimat yang diawali garis miring tidak diberi spasi. Contoh:
Benar; ayah/ibu
Salah; ayah / ibu
c. Bila tanda titik, tanda seru, maupun tanda tanya terdapat di dalam sebuah kalimat yang diapit tanda kutip, maka tanda titik diletakkan di dalam tanda kutip. Contoh:
Benar; Beliau berkata “Namaku Muadz.” Atau; beliau berkata “Namaku Muadz!”
Salah; Beliau berkata “Namaku Muadz”. Atau; beliau berkata “Namaku Muadz”!
d. Beberapa kata yang berhubungan dengan imbuhan “di-……-nya” atau berkaitan dengan preposisi, maka diseragamkan “dengan spasi”. Contoh:
Benar: Di antaranya, di dalamnya,
Salah: Diantaranya, didalamnya.
Catatan: bila imbuhan tersebut mengapit kata kerja, maka harus tanpa spasi. Contoh:
Dipotretnya, dikeluarkannya, diperbuatnya, disebutkannya dan lain-lain.
e. Penulisan dan pembagian subjudul dengan “numbering library” dapat dibuat bervariasi namun penggunaan “bullet library” dianggap tidak mengikuti standar penggunaan subjudul dalam makalah kajian FSQ. Menggunakan variasi yang berbeda-beda diperbolehkan, dengan tanpa membuatnya bertingkat dalam satu bagian (misalnya: I.a.1). Bisa dilihat contoh di bawah ini;
Benar
Benar
I. Abcde:
a. Abcde
b. Abcde:
1. Abcde:
a) Abcde
b) Abcde
2. Abcde
II. Abcde Salah
I. Abcde:
I.a. Abcde
I.b. Abcde:
I.b.1. Abcde:
I.b.1.a) Abcde
I.b.1.b) Abcde
I.b.2. Abcde
II. Abcde
II. PUNGTUASI
A. Titik (.)
Tanda ini lazim dipakai untuk hal-hal berikut:
1. Menyatakan akhir dari sebuah kalimat;
Purnama pergi ke kampus Al Azhar.
2. Diletakkan pada akhir singkatan atau gelar;
Dr.- dkk.- Saw.
3. Dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan dan seterusnya yang menunjukkan jumlah. Juga dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik: 1.00 – 5.00 WIB dan lain lain.
B. Koma (,)
Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menarik di tengah-tengah tutur digunakan untuk;
1. Memisahkan bagian-bagian kalimat, antara kalimat setara yang menunjukkan pertentangan, antara anak kalimat dan induk kalimat, serta antara anak kalimat dan anak kalimat yang lain;
Kita sudah mengundang Zainal Fanani, tetapi dia belum datang.
2. Digunakan untuk menandakan suatu buah bentuk parentetis (keterangan-keterangan tambahan yang biasanya juga ditempatkan dalam kurung) dan unsur-unsur yang tidak restriktif;
Pertama, tuliskan nama Irfan Islami di sini.
Teman-teman, bagi yang telah menyelesaikan tugas, dipersilahkan kembali ke tempat.
3. Dipergunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, atau untuk memisahkan induk kalimat dengan kata pengantar yang terletak sebelum induk kalimat:
Karena Wahyu khawatir, dia minta ditemani.
Sebagai penutup, kami persilahkan Saudara Sulthon Aziz memimpin do’a.
4. Dipergunakan untuk menceraikan beberapa kata yang disebut berturut-turut;
Karya-karya tulisanya terdiri dari lima judul buku, tiga belas artikel di koran dan beberapa judul makalah.
5. Dipergunakan di belakang kata atau ungkapan transisi yang terdapat pada awal kalimat, seperti;
Jadi, oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, di samping itu.
6. Selalu digunakan untuk menghindari salah baca atau keragu-raguan;
Dari setiap penampilan orasi, dia selalu memukau.
7. Dipakai untuk menandakan seseorang yang diajak bicara;
Saya setuju, kawan!
8. Dipakai untuk memisahkan oposisi dari kata yang diterangkannya:
Temannya, Desi Hanara telah tiba sejak pukul enam sore.
9. Tanda koma juga dipakai untuk memisahkan kata kata efektif seperti:
O, ya, wah, aduh, kasihan, dan lain-lain dari bagian kalimat lainnya
10. Dipakai untuk memisahkan sebuah ucapan langsung dengan bagian kalimat yang lainnya:
Kata Pak Wahyu, urusan dengan Samsul Bahri sudah beres.
11. Tanda koma juga dipergunakan untuk beberapa maksud di bawah ini:
a. Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian dari alamat dan tempat tinggal.
b. Menceraikan bagian nama yang dibalikkan; Hibban, Akbar.
c. Memisahkan nama keluarga dan gelar akademik; Ade Irma S.Sos., M.Si
d. Untuk menyatakan angka desimal: 31,07 m
C. Titik Koma (;)
Fungsi dari titik koma sebenarnya ada pada titik dan koma. Di satu pihak, orang ingin melanjutkan kalimatnya dengan bagian-bagian kalimat-kalimat berikutnya, akan tetapi di sisi lain dirasakan bahwa bagian dari kalimat tadi dapat diakhiri dengan sebuah titik. Dengan penggunaan titik koma, penulis dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan berikut:
1. Berhenti tiba-tiba pada suatu rangkaian kalimat-kalimat pendek yang terpisah, yang diakhiri dengan titik biasa.
2. Menghilangkan kejemuan (monotoni) dari suatu kalimat yang panjang.
3. Menghindari kekaburan dari kalimat yang berbelit-belit, jika hanya karena dipisahkan oleh koma saja.
Maka titik koma dapat dipakai untuk hal hal di bawah ini:
1. Untuk memisahkan dua kalimat yang sederajat, di mana tidak dipergunakan kata-kata sambung;
Andi adalah seorang ketua FSQ yang berbakat dalam bidang bisnis; seorang pemimpin yang menjadi teman bagi bawahannya; seorang mahasiswa yang mencintai pelajaran-pelajaran di kuliahnya.
2. Digunakan untuk memisahkan anak anak kalimat yang sederajat;
Ucok mengharapkan untuk dapat menggantikan ketua di tahun mendatang; karena itulah dia mulai mendekati Ustadz. Maskuri, Lc yang merupakan penasehat paling utama di FSQ.
3. Untuk memisahkan sebuah kalimat yang panjang dan mengandung subyek yang sama dan terdapat perhentian lebih lama dari koma biasa; teristimewa jika koma-koma itu dipergunakan dalam bagian terdahulu (telah digunakan koma);
Kualitas sebuah organisasi akademik tergantung pada kualitas individu anggotanya, kegiatan rutin akademis dan kegiatan non akademis anggotanya; semuanya akan memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa Indonesia di Mesir.
4. Memisahkan ayat-ayat atau perincian perincian yang bergantung pada suatu pasal atau pada suatu induk kalimat;
Kekurangan fasilitas yang mendukung bagi kelancaran pendidikan mahasiswa Indonesia di Mesir dapat merujuk ke beberapa faktor utama:
a. Adanya perbedaan pengelolaan administrasi di Universitas Al Azhar dalam distribusi dan penyediaan buku diktat;
b. Tidak tersedianya asrama bagi mahasiswa;
c. Kurangnya transportasi yang memadai bagi mahasiswa;
d. Kesadaran yang kurang dari mahasiswa itu sendiri.
D. Titik Dua (:)
Titik dua biasa digunakan untuk hal-hal berikut:
1. Sebagai pengantar sebuah kutipan yang panjang, baik yang diambil dari sebuah buku, majalah dan lain sebagainya, maupun dari sebuah ucapan langsung;
Dalam sebuah buku yang berjudul “Manajemen Kecerdasan”, Taufiq Pasiak menjelaskan: “Jadi otak bukan sekedar struktur (benda-oraganik) tetapi fungsi dan sifat”.
2. Dipakai sebagai akhir dari sebuah pernyataan yang lengkap, tapi diikuti oleh suatu rangkaian atau pemerian:
Manusia terdiri dari dua bagian: jiwa dan badan.
3. Dipergunakan juga sebagai pengantar sebuah pernyataan atau kesimpulan:
Kenyataannya adalah sebagai berikut: Hukum Indonesia bersumber dari Hukum Belanda dan Hukum Mesir bersumber dari Hukum Perancis, Hukum Belanda dan Hukum Perancis sama-sama bermadzhab “Hukum Kontinental”, demikian juga dengan hukum Indonesia dan Mesir, jadi Hukum Perdata Perancis, Belanda, Indonesia dan Mesir banyak memiliki kesamaan.
4. Dipakai sesudah kata atau frasa yang memerlukan pemerian:
Ketua Umum: Aidil Fida
Sekretaris Umum: Syafe’i
5. Dalam teks drama atau dialog, titik dua dipakai sesudah kata yang yang menunjukkan pelaku percakapan.
E. Tanda Kutip
Tanda kutip ini ditunjukkan dengan (“… …”) atau (‘… …’) apabila terdapat tanda kutip yang lain. Biasanya tanda ini dipergunakan dalam hal-hal berikut ini:
1. Untuk mengutip kata-kata seseorang, atau sebuah kalimat atau sebuah bagian penting dari bagian buku, majalah dan sebaginya:
Ia mengatakan, “Aku harus belajar.”
Catatan: bila hanya terdapat satu kata yang dikutip, tidak perlu menggunakan koma atau titik dua:
Hanara berkata dengan penuh semangat “Aku ingin menjadi diplomat!”.
2. Dipergunakan untuk menulis judul karangan, syair, bab buku dan nama sebuah badan:
Irvana menulis sebuah artikel berjudul “Melihat Syuting KCB Lebih Dekat”
Forum kajian Ekonomi FSQ bernama “Trading Study Club”
3. Dipakai untuk menyatakan sebuah kata asing atau sebuah kata yang diistimewakan atau kata yang mempunyai arti khusus;
Enam hari ke kuliah selalu mendapatkan jawaban “bukrah”
4. Tanda kutip tunggal (‘… …’) dipergunakan juga untuk mengapit terjemahan atau penjelasan sebuah kata atau kata asing:
Energi atom dapat dipahami secara mendasar dari ‘Hukum Kekekalan Energi’
F. Tanda Tanya (?)
Tanda tanya bisa digunakan untuk hal-hal berikut:
1. Dalam suatu pertanyaan langsung;
Bagaimana keadaan Arif Reza Syah?
2. Dipergunakan untuk menyatakan keraguan atau ketidaktentuan;
Muhammad Sulthon Aziz lahir pada tahun 1986 (?) dan datang ke Mesir pada tahun 2006.
3. Kadang-kadang juga dipergunakan untuk menggantikan suatu bentuk sarkastis;
Indonesia merupakan Negara besar dan disegani (?).
G. Tanda Seru (!)
Tanda seru biasanya digunakan dalam hal-hal berikut:
1. Untuk menyatakan suatu pernyataan yang penuh emosi
Luar biasa! Ade Irma bisa mendapatkan nilai setinggi itu!
2. Untuk menyatakan suatu perintah:
Cepat temui Nur Fuad Shofiyullah untuk mengkomfirmasi surat edaran!
3. Untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap suatu kutipan:
Belajar hukum di Mesir tidak akan banyak berguna di Indonesia (!).
H. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung umumnya dipakai dalam hal hal berikut:
1. Memisahkan suku kata yang terdapat pada akhir baris;
Mungkin tidak ada konsensus apakah pembangunan itu.-
apakah definisinya dan bagaimana caranya…
Catatan: Sebaiknya sebuah kata dasar maupun afiks yang terdiri dari satu huruf tidak terpisah, agar tidak terdapat satu huruf pada awal atau akhir baris: a-nak, di-a.
2. Banyak menyambung bagian bagian dari kata ulang;
Rumah-rumah, bermain-main, berdekat-dekatan.
3. Untuk memperjelas hubungan antara bagian kata dan ungkapan;
Ber-evolusi , be-revolusi,be-ruang, ber-uang.
4. Dipakai untuk merangkaikan:
a. “se-“ dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital;
se-Indonesia
b. “ke-“ dengan angka: ke-IV
c. Singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata: hari-H, di-UGD-kan.
d. “di-“ dengan alamat pada surat; di- kediaman
I. Tanda Pisah (—)
Apabila menggunakan komputer, tanda ini dimunculkan dengan jalan singkat: Alt+0151. Atau akan otomatis tertulis bila menuliskan tanda hubung (-) dua kali secara berturut turut di antara dua kata;
Ada beberapa macam tanda pisah:
1. Tanda pisah em (—)
a) Tanda pisah em (—) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
Contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar.
b) Tanda pisah em (—) menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.
Contoh:
Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
2. Tanda pisah en (–)
a) Tanda pisah en (–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.
Contoh:
1993–2010
Belitong–Blitar
2–4 Agustus 1984
b) Tanda pisah en (–) tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau bersama tanda kurang (−).
Contoh:
“dari halaman 45 sampai 65”, bukan “dari halaman 45–65”
“antara tahun 2005 dan 2010”, bukan antara tahun “2005–2010”
“−4 sampai −6 °C”, bukan “−4–−6 °C”
J. Huruf Kapital
Huruf kapital atau huruf besar biasanya digunakan dalam hal-hal berikut:
1. Huruf awal dalam kata pertama dari sebuah kalimat;
2. Di depan nama diri, tempat, bangsa, negara, organisasi, bahasa, nama bulan, dan hari, Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang menggunakan kata Maha;
3. Untuk judul-judul buku, pertunjukan, nama harian, nama majalah, artikel dan sajak. Dalam hal ini biasanya kata-kata penting saja yang ditempatkan dalam huruf kapital, sedangkan kata-kata hubung-nya tetap menggunakan huruf kecil;
Bahasa Indonesia dan Problematikanya
4. Juga untuk kata-kata biasa yang mendapat arti istimewa/definitive, terutama dalam personifikasi;
Kita harus berhati-hati saat menjelajah dunia Web.
K. Huruf Miring
Huruf miring atau dikenal secara teknis sebagai bentuk italic, biasanya dipergunakan untuk hal-hal berikut:
1. Untuk kata-kata berbahasa asing yang belum dialihkan;
2. Untuk kata berbahasa asing yang sudah dialihkan, tetapi tetap dipertahankan penulisannya sesuai dengan aslinya;
3. Untuk menuliskan contoh-contoh penerapan bahasa dan sebagainya;
4. Untuk menuliskan judul buku, pertunjukan, nama harian, nama majalah, artikel dan sajak, yang tidak menggunakan tanda kutip;
5. Untuk menuliskan kata-kata tertentu yang digunakan sebagai contoh, tanpa ditulis dengan tanda kutip;
6. Untuk menuliskan kata-kata yang ditulis dengan kata, bukan dengan angka, dan diintegrasikan ke dalam paragraf, seperti; pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
Catatan:
(1) Apabila tidak memungkinkan karena persoalan teknis (seperti menggunakan mesin ketik manual—misalnya), huruf miring bisa diganti dengan garis bawah;
(2) Apabila hal-hal di atas terdapat dalam kalimat yang sudah dihurufmiringkan, maka kata-katanya ditulis regular;
Teriakan-teriakan binatang dan orang primitif oleh Wundt disebut Lautgebarden (atau ‘gerak-gerik bunyi’).
III. KUTIPAN
1. Kiat-kiat sederhana yang perlu diperhatikan dalam membuat kutipan adalah sebagai berikut;
a. Kutipan ada dua macam; kutipan langsung, yang memindahkan isi secara apa adanya, dan kutipan tidak langsung, yang memindahkan isi (dan mempersingkatnya) dengan bahasa penulis sendiri.
b. Apabila sebuah kutipan terlalu panjang dan dianggap penting, tanpa bisa disingkat sama sekali, maka sebaiknya dimasukkan dalam lampiran/appendiks.
c. Dalam mengutip, harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut: (1) atas nama amanat keilmuan, jangan sekali-kali mengadakan perubahan yang menyelewengkan maksud penulis atau mempunyai kemungkinan akan membuat pembaca mempunyai pemahaman yang lain dari maksud penulis; (2) Bila ada kesalahan, apakah itu dalam persoalan ejaan, tata bahasa maupun substansi isi, pengutipan tetap harus dijelaskan apa adanya. Pengutip hanya berhak memberikan catatan atau perbaikan yang ditempatkan dalam tanda kurung segi empat ([…]); (3) Apabila pengutip ingin menghilangkan beberapa bagian kutipan, maka dilakukan dengan menggunakan tiga titik berspasi (…); (4) Hendaknya menisbahkan isi kutipan kepada penulis sebenarnya, dengan memperhatikan kaidah penulisan langsung, catatan kaki (foot-note) maupun catatan akhir (end-note).
2. Teknik Pengutipan
a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris, akan dimasukkan dalam teks dengan cara berikut:
(1) Kutipan langsung itu diintegrasikan langsung dengan teks;
(2) Jarak baris dengan baris satu garis-spasi;
(3) Kutipan itu diapit dalam satu tanda kutip;
(4) Setelah itu dinisbat-kan kepada penulis aslinya, dengan memperhatikan kaidah penulisan catatan langsung, catatan kaki (foot-note) maupun catatan akhir (end-note).
b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris, harus ditulis dengan cara berikut*:
(1) Kutipan itu dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 baris-spasi;
(2) Jarak antara baris dengan baris kutipan, satu spasi;
(3) Kutipan itu tidak harus, tapi boleh, diberi tanda kutip;
(4) Seluruh kutipan itu dimasukkan dalam 5-7 ketikan; dan bila dimulai dengan alinea baru, maka baris pertama dari kutipan itu dimasukkan lagi 5-6 ketikan;
(5) Apabila dalam kutipan itu terdapat kutipan lagi, maka kutipan baru itu diberi tanda kutip jika tulisan aslinya tidak diberi tanda kutip, dan jika tulisan aslinya sudah bertanda kutip ganda (“ . . . ”), maka kutipan barunya diberi tanda kutip tunggal (‘ . . . ’);
(6) Jangan lupa untuk menisbahkan kutipan itu kepada penulis aslinya sesuai dengan kaidah yang berlaku.
*Contoh dapat merujuk dan melihat contoh terdahulu tentang ‘Kaidah-kaidah Standarisasi Penulisan Makalah Di Forum Kajian FSQ’
c. Kutipan tidak langsung harus memperhatikan beberapa syarat berikut;
(1) Kutipan itu diintegrasikan dengan teks;
(2) Jarak antar baris satu spasi;
(3) Kutipan tidak diapit dengan tanda kutip;
(4) Selesai pengutipan harus dinisbahkan kepada penulisnya sesuai dengan kaidah yang berlaku.
d. Kutipan pada catatan kaki atau akhir, harus memperhatikan hal-hal berikut;
(1) Sebaiknya singkat saja, jika memang panjang, dapat dimasukkan dalam lampiran;
(2) Kutipan ditulis dengan menggunakan tanda kutip;
(3) Kutipan ditulis sesuai dengan teks aslinya;
(4) Penisbatan dilakukan dengan menggunakan metode catatan langsung.
e. Kutipan atas ucapan lisan, dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut;
(1) Harus dilakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan narasumbernya;
(2) Penisabahan dengan menggunakan catatan langsung, catatan kaki (foot-note) maupun catatan akhir (end-note) dilakukan dengan menyebutkan data-data penjelasan, yaitu nama pembicara, jabatan, hari, tanggal dan acara.
IV. CATATAN KECIL DAN PUSTAKA
1. Catatan Kecil
Yang dimaksud dengan catatan kecil adalah ulasan, pendapat ataupun keterangan tambahan dari penulis terhadap isi tulisannya atau isi tulisan yang dikutipnya. Penulisan catatan kecil ini bisa menggunakan dua cara: langsung dan tak langsung. Untuk yang pertama, perhatikan kiat-kiat sederhana pengutipan dan untuk yang kedua, bisa dilakukan dengan menggunakan foot-note ataupun end-note.
Apabila dalam catatan kecil ini ada penisbatan kepada pemilik asli pemikiran atau dengan tujuan untuk memperluas pembahasan dan bacaan, maka penisbatan itu menggunakan metode catatan langsung, seperti;
(lihat lebih jauh: M. ‘Imarah, Auqhutu’l-Ghuluw al-‘Ilmany, Dâr al-Ayurûq, Kairo, 1995, hal. 119)
2. Catatan Pustaka
Catatan pustaka adalah keterangan tentang sumber tulisan yang dikutip atau dijadikan sebagai landasan pemikiran atau menjadi referensi dari sebuah tulisan. Catatan pustaka ini dibuat untuk menyusun pembuktian dan menyatakan utang pikiran kepada si empunya.
a. Metode Catatan Langsung
Metode catatan langsung adalah sebentuk catatan pustaka yang langsung diintegrasikan dengan teks. Untuk menggunakan metode ini, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini;
(1) Apabila menggunakan metode ini, Anda diwajibkan untuk melengkapi tulisan Anda dengan pustaka;
(2) Yang ditulis dalam catatan langsung ini adalah nama lengkap penulis atau nama alias-nya—kalau yang pertama dianggap terlalu panjang—, tahun penerbitan buku dan halaman, bisa disesuaikan dengan contoh berikut: (‘Imarah, 1995a: 24);
b. Metode Catatan Kaki (foot-note)
Matode catatan kaki adalah bentuk lain dari catatan pustaka yang diletakkan di kaki halaman karangan yang bersangkutan.
Secara umum, cara penulisan catatan kaki mengikuti aturan berikut; nama lengkap (tidak dibalik), judul buku ditulis dengan menggunakan tulisan miring (italic), keterangan lain, penerbit, kota, cetakan, tahun dan halaman. Untuk contoh, bisa dilihat sebagai berikut;
(1) Untuk buku tunggal, diurut sebagai berikut; nama lengkap, judul buku (ditulis miring), penerbit, kota, cetakan, tahun dan halaman.
Contoh;
Dr. Ahmad Syalabi, Kayfa Taktub Bahtsan aw Risâlatan, maktabah An-Nadlah al Mishriyyah, Kairo, cet. XXIV, 1997, hal. 87
(2) Untuk buku dengan beberapa volume/jilid, urutan penulisannya; nama lengkap (tidak dibalik), judul buku (ditulis miring/italic), volume/jilid/juz, penerbit, kota, cetakan, tahun dan halaman.
Contoh;
Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), Juz I, hal. 213-216
(3) Untuk buku yang mempunyai editor/pentahkik/penterjemah, diurut sebagai berikut: nama lengkap (yang tidak dibalik), judul buku (ditulis miring), volume/jilid/juz, pentahkik atau editor (ed.)/penerjemah, penerbit, kota, cetakan, tahun dan halaman.
Contoh;
Abu Hamid al-Ghazali, Al Iqtishâd fil I’tiqâd, ditahkik oleh Muhammad Musthafa Abul Ula, Maktabah Al Jundi, Kairo, 1997, hal. 33
(4) Untuk karangan yang ditulis oleh dua orang, maka nama keduanya ditulis bersamaan di urutan atau tempat nama penulis.
(5) Untuk karangan yang ditulis oleh tiga orang atau lebih, maka ditulis nama pertama saja, dan menambahkan istilah et alli (disingkat et. all) yang berarti “dan lain-lain.”
Contoh;
Alton C. Morris, et. all. (dengan huruf miring), Colledge English, The First Year,
(6) Untuk karangan yang terdapat dalam majalah/jurnal, maka urutan yang dipakai sebagai berikut; nama penulis, judul artikel (ditulis miring), nama jurnal/majalah/bulletin (tidak digaris miring), volume/juz/edisi/tanggal/, penerbit, kota dan halaman.
Contoh;
M. Dawam Rahardjo, Krisis Peradaban Islam, dalam Bayang-Bayang Fanatisisme, cetakan I, Juli 2007, Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, hal. 23
(7) Untuk karangan yang terdapat dalam bunga rampai: nama lengkap penulis (tidak digaris miring dan tidak dibalik), judul artikel (digaris miring), penyusun/penyunting/editor, judul bunga rampai (tidak digaris miring), volume/jilid/juz, penerbit, kota, cetakan, tahun dan halaman.
Contoh;
Mahmûd Awan, The Faith Community and Word Order in The Perspective of Islam, dalam Ismail Raji’ Al Faruqy (ed), Trialogue of The Abrahamic Faiths, IIIT, Herndon, Virginia, cet. III, 1991, hal. 85
Kemudian, apabila terjadi pengulangan dalam pengutipan atau penisbahan kepada satu buku/karangan tertentu dalam satu tulisan, maka penulisannya dapat disingkat dengan menggunakan istilah Ibid, Op. cit. dan Loc. cit …adapun penjelasannya adalah sebagai berikut;
(1) Ibid. (ibidem)
Digunakan apabila pengulangan ini terjadi secara langsung tanpa ada selingan, seperti contoh berikut;
1. Fuad Muhammad An-Nadi, An Nudzumus Siyâsiyyah, Dirâsah Fil Mabâdi’il Âmmah Wa Tathbîqâtuhâ Lil Fiqhil Islâmy, Universitas Al-Azhar Cairo, tahun. 1424-1425 H/2004-2005 M, hal. 117
2. Ibid., hal. 59-60
(2) Op. cit. (opus citatum/opere citato)
Digunakan apabila catatan itu diselingi oleh satu atau lebih catatan yang diambil dari sumber lain, seperti contoh di bawah ini (bandingkan dua barisan kalimat yang tidak dicoret);
1. Dr. Fadhlullah Muhammad Isma’il, Ad Daulah Al Mitsâliyyah Bainal Fikril Ighrîqy Wal Fikri Al Islâmy, Jami’ah Al Iskandariah cabang Damanhur, Percetakan Bustânul Ma’rifah, hal. 45-46
2. Fuad Muhammad An-Nadi, An Nudzumus Siyâsiyyah Dirâsah Fil Mabâdi’I Âmmah Wa Tathbîqâtuhâ Lil Fiqhil Islâmy, Universitas Al-Azhar Cairo, tahun. 1424-1425 H/2004-2005 M, hal. 117
3. Dr. Fadhlullah Muhammad Isma’il, op. cit., hal. 52
(3) Loc. cit. (locus citato)
Digunakan dalam catatan yang bersumber dari majalah/koran/jurnal, yang diselingi oleh catatan yang diambil dari sumber lain, seperti contoh berikut (bandingkan baris tulisan yang tidak digaris);
1. Dr. Ahmad Fu’ad Pasha, “Madzâhirul Ihtimâmud Dauly Bit Turâtsil ‘Ilmy” dalam Majalah Al Azhar, Majma’ul Buhust Al Islamiyyah, Rabi’ul Awwal, 1431 H Juz III, volume 87, hal. 352.
2. Dr. Fadhlullah Muhammad Isma’il, Ad-Daulah Al-Mitsâliyyah Bainal Fikri Al-Ighrîqy Wal Fikri Al-Islâmy, Jami’ah Al-Iskandariah cabang Damanhur, Percetakan Bustânul-Ma’rifah, hal. 45-46.
3. Dr. Ahmad Fu’ad Pasha, “Madzâhirul Ihtimâmud Dauly Bit Turâtsil ‘Ilmy”, loc. cit, hal. 354.
c. Metode Catatan Akhir (end-note)
Metode catatan akhir adalah bentuk lain dari catatan pustaka yang diletakkan di akhir halaman karangan yang bersangkutan. Cara penulisan catatan akhir tidak berbeda dengan cara penulisan catatan kaki, hanya saja metode catatan akhir adalah metode catatan yang dikumpulkan pada akhir semua tulisan.
Bila dibandingkan antara dua metode ini, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari catatan kaki dan catatan akhir, di antaranya;
1. Catatan kaki akan memudahkan pembaca untuk mengetahui sumber tulisan langsung melihatnya di bagian bawah dari halaman, namun cenderung menghabiskan space (ruang) dari setiap halaman, sehingga artikel akan lebih banyak memerlukan lembar halamannya.
2. Sedangkan pada metode catatan akhir, akan menghemat lembar halaman, akan tetapi pembaca tidak dapat langsung mengetahui rujukan dari tulisan tersebut di lembar tulisan.
d. Tambahan
Ada beberapa istilah lain yang perlu dikenal dalam penulisan catatan pustaka, yang umumnya dimaksudkan untuk mempermudah, memperjelas, dan mempersingkat catatan itu sendiri;
supra : “Di atas, sudah terdapat terlebih dahulu dalam teks yang sama”
infra : “Di bawah, lihat pada artikel/karangan yang sama di bawah”
c. atau ca. : singkatan dari circa, yang berarti kira-kira atau sekitar; dipakai untuk menunjukkan tahun, tapi diragukan ketepatannya.
cap. Atau chap. : singkatan dari chaput (latin) atau chapter (inggris), artinya “bab”.
ed. : Editor atau edisi.
et sec. : et sequence, berarti “Dan halaman berikutnya.”
et seqq : berarti “Dan halaman-halaman berikutnya.”
passim : “Tersebar di sana-sini”, apabila merujuk kepada bahan yang tersebar di suatu majalah atau karangan tertentu.
ser. : seri
[sie!] : “Demikianlah seperti aslinya”, dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu kesalahan atau keganjilan tertentu terdapat dalam naskah aslinya. Kata ini harus ditempatkan dalam kurung siku dan menggunakan tanda seru.
cf. atau fonf. : confer, berarti “bandingkan”, atau “bandingkan dengan.”
V. DAFTAR PUSTAKA
Penulisan daftar pustaka dilakukan dengan urutan sebagai berikut: nama famili (keluarga)/akhir, nama kecil, judul buku (ditulis miring), (‘kurung buka’), kota, penerbit, tahun, (‘kurung tutup’), sehingga penyebutan nama-nama tokoh penulis buku yang menjadi referensi atau rujukan nampak seperti terbalik. Contoh:
Newton, Isaac, Mathematical Principles of Natural Philoshopy, terjemahan Gajori, F. (Berkeley: University of California Press, 1948).
Bandingkan dengan metode penulisan catatan pustaka, karena penulisan nama penulis ditulis dengan terbalik. Sedangkan untuk penulisan penerbit, kota dan tahun, sebenarnya lebih bersifat opsional (menjadi pilihan saja, apakah akan ditulis atau tidak). Karena fungsi daftar pustaka pada dasarnya hanya menjadi pelengkap dari catatan kecil atau catatan pustaka saja, Dalam daftar pustaka, tidak perlu lagi untuk menuliskan halaman.
Apabila makalah atau artikel merujuk pada tulisan yang terdapat dalam sebuah bunga rampai tertentu, maka penulisannya menggunakan urutan berikut: nama penulis, “judul tulisan” (mengunakan tanda kutip), nama editor, judul bunga rampai/jurnal (ditulis miring), (kurung buka) kota, penerbit, tahun (kurung tutup). Contoh:
Lathif, Yudi & Hakim, Abdul “Dubbun”, “Melampaui Kosmopolitanisme Politik”, dalam Rahardjo, M. Dawam, Bayang-Bayang Fanatisisme (Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, jakarta Selatan, 2007)
Dan apabila sumber tulisan yang dirujuk berasal dari majalah/jurnal/surat kabar, maka sudah cukup dengan menyebutkan nama majalah/jurnal/surat kabar, edisi dan tanggal dan penerbitnya (apabila ada/diperlukan). Contoh;
a. Dari koran;
Koran Kompas, Otak Tua Bukan Otak Tumpul, (IHT/Diah Marsidi) edisi Minggu, 21-04-1991. Halaman: 3.
b. Dari sebuah jurnal;
Jurnal Al-Muslim Al-Mu’âshir, edisi 82/tahun XXI (Nopember-Desember 1996 - Januari 1997), IIIT. Heendon, Virginia.
VI. TRANSLITERASI
Transliterasi dari kalimat Arab ke kalimat Latin, dalam ketentuan penulisan makalah di diskusi FSQ mengikuti standarisasi sebagai berikut;
Arab Latin Shortcut (kode tombol)
ا\أ A
ب B
ت T
ث TS
ج J
ح H ctrl U+H
خ KH (A-I-U)
د D
ذ DZ
ر R
ز Z
س S
ش SY
ص SH (A-I-U)
ض DH (A-I-U)
ط TH (A-I-U)
ظ ZH (A-I-U)
ع ‘ (‘A-‘I-‘U) Alt + 0145
غ GH (A-I-U)
ف F
ق Q (A-I-U)
ك K
ل L
م M
ن N
و W
هـ H
ء A/(’)
ي Y
‘a’ (fathah) pa¬¬¬¬njang  Ctrl+Shift+6 lalu tekan A, atau
Alt+226
‘i' (kasrah) panjang Î Ctrl+Shift+6 lalu tekan I, atau
Alt+0238
‘u’ (dhammah) panjang Û Ctrl+Shift+6 lalu tekan U, atau
Alt+0238
ـَو AW
...ُـو UW
ـَي AY
ـِى \ ـِي …Y
ّ (Tulis dua huruf yang sama)
Catatan;
1. Beberapa kata atau kalimat yang telah dibakukan, atau telah dikenal luas sebagai bagian dari bahasa Indonesia, tidak perlu mengikuti transliterasi di atas, misalnya kata “Allah”, “bismillah”, “alhamdulillah”, dll. Kecuali bila ingin mengutip suatu susunan kalimat yang terdiri dari kata-kata tersebut, misalnya:
“Allâhu lâ ilâha illâ huwal hayyul qayyûm.”
“Bismillâhi majrêhâ wa mursâhâ.”
2. Alif dan lam ta’rif bila berada di antara dua kata, menggunakan kaidah sebagai berikut:
a. Apabila berada dalam kalimat yang berawalan huruf ‘Syamsiyyah’, maka ditulis mengikuti bunyi tanpa menulis huruf ‘Al’, misalnya (perhatikan huruf-huruf yang digaris-bawahi):
“Minal jinnati wan nâs.”
“At Thâghût.”
Catatan: Bila kata atau kalimat tersebut adalah sebuah kata ganti (pronoun) atau kata kerja (verb) atau kata sifat (adjektiva), maka hurufnya tidak dibesarkan (huruf kapital), tapi bila kata tersebut untuk menunjukkan sebuah nama (noun), maka diawali dengan huruf kapital, contoh; Al Qahirah Kubra, Madinah Al Giza dan lain-lain.
b. Apabila mengawali sebuah kata ‘qamariyyah’, maka sebelum huruf awal, ditulis sesuai dengan ‘bunyi’ kata yang dikenal atau mengawali dengan menuliskan kata “AL”. Contoh:
“Minal jinnati wan nâs.”
“Al Quds”
“Al hayâ’u minal îmân.”
Catatan: Bila itu sebuah kata ganti (pronoun) atau kata kerja (verb) atau kata sifat (adjektiva), maka hurufnya tidak dibesarkan (kapital), tapi bila kata tersebut untuk menunjukkan sebuah nama (noun) maka penulisannya diawali dengan huruf kapital, contoh; Al Qahirah, Al Azhar dan lain-lain.
c. Akan lebih baik bila pengutipan dari ayat-ayat Al Qur’an, hadist Nabi Saw dan tulisan dari bahasa Arab, bila panjang hurufnya lebih dari dua kalimat, ditulis langsung dengan huruf aslinya (Bahasa Arab).
d. Penulisan alamat ayat Al-Qur’an ditulis dengan contoh sebagai berikut: (QS. Al Baqarah: 01-07)
e. Subhânahu wa ta’âla ditulis dengan menggunakan singkatan ‘Swt’; (Allah Swt)
f. Shallallâhu ‘alaihi wa sallama ditulis dengan menggunakan singkatan ‘Saw’; (Muhammad Saw)
g. Alaihis salâm ditulis dengan singkatan ‘As’; (Isa As)
h. Radhiyallahu ‘anhu ditulis dengan singkatan Ra (Abu Bakar Ra)
Catatan:
1. Untuk penyebutan Karamallâhu wajhah untuk Imam Ali, tidak disingkat.
2. Hal-hal yang belum diatur di Cetak Biru dalam masalah translasilasi ini, dapat diatur dengan kesepakatan bersama atau mengikuti kaidah dasar ‘urf’ (konsensus umum).
VII. ISTILAH ASING
Bahasa asing dapat dijadikan sumber peristilahan Indonesia jika dalam bahasa Indonesia maupun bahasa serumpun tidak ditemukan istilah yang tepat. Istilah baru ini dapat dengan menterjemahkan dan menyerap istilah asing.
1. Penterjemahan istilah asing
Misalnya: samenwerking; kerjasama
Istilah dalam bentuk positif sebaiknya tidak diterjemahkan dalam istilah dalam bentuk negatif atau sebaliknya. Misalnya; Solo Career diterjemahkan dengan “berkarir sendiri” atau bernyanyi sendiri, bukan diterjemahkan dengan “bernyanyi tidak bersama sama.”
2. Penyerapan istilah asing
Demi kemudahan pengalihan antarbahasa dan keperluan di masa depan, pemasukan istilah asing yang bersifat internasional melalui proses penyerapan, dapat dilakukan setelah mempertimbangkan salah satu syarat berikut:
a. Istilah serapan yang dipilih lebih cocok karena konotasinya.
b. Istilah serapan yang dipilih lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia-nya.
c. Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah di dalam bahasa Indonesia terlalu banyak sinonimnya.
Contoh:
Syarat Istilah Asing Istilah Indonesia yang dianjurkan Istilah Indonesia yang dihindari
a. Edit Edit membaca dan memperbaiki naskah
Urine Urine kencing
b. Amputation Amputasi pemotongan (pembuangan)
Amandment Amandemen mengembangkan/memperbaiki undang-undang
Marathon Maraton lari jarak jauh
c. Energy Energi daya, gaya, tenaga, kekuatan
Essay Esai karangan prosa yg membahas suatu masalah secara sepintas.
Beberapa Catatan:
Istilah asing yang ejaannya bertahan sampai dalam banyak bahasa dipakai juga dalam bahasa Indonesia dengan syarat diberi garis bawah atau dicetak miring.
Misalnya:
- A priori: ’meragukan, masih bersikap curiga’;
- Quorum: ‘mereka yang seharusnya hadir’;
- Status quo: ‘keadaan tetap/stagnan’;
- Sayonara: ‘selamat tinggal’;
- Vis a vis: ‘terhadap’ atau ‘berhadapan dengan’;
Dan lain sebagainya.
PENUTUP
Demikian Kaidah Dasar Penulisan Makalah Forum Studi Syari’ah wal Qanun, atau bisa disebut dengan Cetak Biru Kajian FSQ, telah berhasil disusun. Semoga kaidah ini dapat menjadi pegangan yang menjadi pedoman kepenulisan makalah dalam kajian FSQ dan dapat membantu peningkatan kualitas penulisan makalah dalam kajian FSQ. Bahkan Cetak Biru FSQ dapat dimanfaatkan seluruh anggota kajian tidak hanya pada kegiatan kajian internal kajian FSQ saja, tapi bisa juga dimanfaatkan untuk mengembangkan aktifitas kepenulisan di luar kajian FSQ (eksternal kajian FSQ), baik itu oleh anggota kajian sendiri maupun oleh para sempatisan kajian FSQ. Kaidah dasar ini ditulis dengan merujuk kepada Cetak Biru Al-Mizan Study Club edisi 2002, Wikipedia dan ditambah dengan pengalaman penyusun sendiri untuk berkontribusi dalam penyusunan Kaidah Dasar ini.
Akhir kata, penyusun memohon beribu maaf bila terdapat kekurangan atau kejanggalan dalam penyusunan atau penulisan kaidah dasar ini, kesempurnaan hanyalah dari dan oleh Allah Swt, sedangkan kekurangan hanya berasal dari dan oleh penyusun sendiri. Besar harapan penyusun, semoga di kemudian hari dapat dilakukan penambahan, perbaikan dan penyempurnaan atas kekurangan-kekurangan tersebut. Terimakasih penyusun sampaikan pada semua pihak yang telah mendukung pembuatan kaidah dasar ini, baik itu dukungan materi maupun dukungan non materi, semuanya sangat terasa membantu. (HPH)
Bagian Ketiga
BAHASA JURNALISTIK INDONESIA
Goenawan Mohamad
Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas.
Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor.
Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, yang diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan.
HEMAT
Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan:
(1) unsur kata
(2) unsur kalimat
Penghematan Unsur Kata
a. Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti. Misalnya:
agar supaya ................. agar, supaya
akan tetapi ................. tapi
apabila ................. bila
sehingga ................. hingga
meskipun ................. meski
walaupun ................. walau
tidak ................. tak (kecuali diujung kalimat atau berdiri sendiri).
b. Kata daripada atau dari pada pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
Contoh:
“Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang, menjadi Keadaan lebih baik sebelum perang”. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: “Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang”.
c. Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf. Misalnya:
sjah ......... sah
khawatir ......... kuatir
akhli ......... ahli
tammat ......... tamat
progressive ......... progresif
effektif ......... efektif
Catatan:
Kesulitan pokok kita di waktu yang lalu ialah belum adanya ejaan standard bahasa Indonesia. Kita masih bingung, dan berdebat, tentang: roch atau roh? Zaman atau jaman? Textil atau tekstil? Kesusasteraan atau kesusastraan? Tehnik atau teknik? Dirumah atau di rumah?
Mudah-mudahan dengan diputuskannya suatu peraturan ejaan standard, kita tak akan terus bersimpang-siur seperti selama ini. Ejaan merupakan unsur dasar bahasa tertulis. Sebagai dasar, ia pegang peranan penting dalam pertumbuhan bahasa, misalnya buat penciptaan kata baru, pemungutan kata dari bahasa lain dan sebagainya.
d. Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya:
kemudian = lalu
makin = kian
terkejut = kaget
sangat = amat
demikian = begitu
sekarang = kini
Catatan:
Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh pembikinan kalimat dengan pemborosan kata.
1. Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat:
- “Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubahubah setiap zaman”.
(Bisa disingkat: “Merupakan kenyataan, bahwa ................”).
- “Apa yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas.
(Bisa disingkat: “Yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro...........”).
2. Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
- “Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri?”.
(Bisa disingkat: “Akan terus tergantungkah Indonesia.....”).
- “Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak”.
(Bisa disingkat: “Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak”).
3. Pemakaian dari sebagai terjemahan “of” (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; Juga “daripada”. Misalnya:
- “Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan”.
(Bisa disingkat: “Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan”.
- “Sintaksis adalah bagian daripada Tatabahasa”.
(Bisa disingkat: “Sintaksis adalah bagian Tatabahasa”).
4. Pemakaian untuk sebagai terjemahan “to” (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
- “Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India”.
(Bisa disingkat: “Uni Soviet cenderung mengakui............”).
- “Pendirian semacam itu mudah untuk dipahami”.
(Bisa disingkat: Pendirian semacam itu mudah dipahami).
-“GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang modal”.
(Bisa disingkat: “GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbaruhi.......”).
Catatan:
Dalam kalimat: “Mereka setuju untuk tidak setuju”, kata “untuk” demi kejelasan dipertahankan.
5. Pemakaian adalah sebagai terjemahan “is” atau “are”(Inggris) tak selamanya perlu:
- “Kera adalah binatang pemamah biak.”
(Bisa disingkat “Kera binatang pemamah biak.”).
Catatan:
Dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan, misalnya dalam kalimat: “Pikir itu pelita hati”. Kita bisa memakainya, meski lebih baik dihindari. Misalnya kalau kita harus menterjemahkan “Man is a better driver than woman”, bisa mengacaukan bila disalin: “Pria itu pengemudi yang lebih baik dari wanita”.
6. Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu:
- “Presiden besok akan meninjau pabrik ban Good year”.
(Bisa disingkat: “Presiden besok meninjau pabrik.........”).
- “Tadi telah dikatakan ........”
(Bisa disingkat: “Tadi dikatakan.”).
- Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri.”
(Bisa disingkat: “Kini Clay mempersiapkan diri.”).
7. Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan:
- “Gubernur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti”.
(Bisa disingkat: “Gubernur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan ia akan diganti”
- “Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat”.
(Bisa disingkat: “Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang tepat.”).
Catatan:
Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu.
8. Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang-kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu:
- “Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia.”.
(Bisa disingkat: “Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia.”).
- “Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia.”
(Bisa disingkat: “Kami pewaris sah kebudayaan dunia.”).
9. Pembentukan kata benda (ke + ..... + an atau pe + ........ + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu:
- “Tanggul kali Citanduy kemarin mengalami kebobolan”.
(Bisa dirumuskan:”Tanggul kali Citanduy kemarin bobol”).
- “PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta.”
(Bisa dirumuskan: “PN Sandang rugi Rp 3 juta.”).
- “Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya.”
(Bisa disingkat: “Ia telah tiga kali menipu saya.”).
-“Ditandaskannya sekali lagi bahwa DPP kini sedang memikirkan langkah-langkah untuk mengadakan peremajaan dalam tubuh partai”
(Bisa dirumuskan: “Ditandaskannya sekali lagi, DPP sedang memikirkan langkah-langkah meremajakan tubuh partai.”).
10. Penggunaan kata sebagai dalam konteks “dikutip sebagai mengatakan” yang belakangan ini sering muncul (terjemahan dan pengaruh bahasa jurnalistik Inggris & Amerika), masih meragukan nilainya buat bahasa jurnalistik Indonesia. Memang, dalam kalimat yang memakai rangkaian kata-kata itu (bahasa Inggrisnya quoted as saying) tersimpul sikap berhati-hati memelihat kepastian berita. Kalimat “Dirjen Pariwisata dikutip sebagai mengatakan…………” tak menunjukkan Dirjen Pariwisata secara pasti mengatakan hal yang dimaksud; di situ si reporter memberi kesan ia mengutipnya bukan dari tangan pertama, sang Dirjen Pariwisata sendiri. Tapi perlu diperhitungkan mungkin kata sebagai bisa dihilangkan saja, hingga kalimatnya cukup berbunyi: “Dirjen Pariwisata dikutip mengatakan…………”.
Bukankah masih terasa kesan bahwa si reporter tak mengutipnya dari tangan pertama? Lagipula, seperti sering terjadi dalam setiap mode baru, pemakaian sebagai biasa menimbulkan ekses.
Contoh:
Ali Sadikin menjelaskan tetang pelaksanaan membangun proyek miniature Indonesia itu sebagai berkata: “Itu akan dilakukan dalam tiga tahap.” (Harian Kami, 7 Desember 1971, halaman 1).
Kata sebagai dalam berita itu sama sekali tak tepat, selain boros.
11. Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Dimana sebagai kata ganti penanya yang berfungsi sebagai kata ganti relatif muncul dalam bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat.
1. Dr. C. A. Mees, dalam “Tatabahasa Indonesia” (G. Kolff & Co., Bandung, 1953 hal. 290-294) menolak pemakaian “dimana”. Ia juga menolak pemakaian pada siapa, dengan siapa, untuk diganti dengan susunan kalimat Indonesia yang “tidak meniru jalan bahasa Belanda”, dengan mempergunakan kata tempat, kawan atau teman. Misalnya: “orang tempat dia berutang” (bukan: pada siapa ia berutang); “orang kawannya berjanji tadi” (bukan: “orang dengan siapa ia berjanji tadi”).
Bagaimana kemungkinannya untuk bahasa jurnalistik?
2. Misalnya: “Rumah dimana saya diam”, yang berasal dari “The house where I live in”, dalam bahasa Indonesia semula sebenarnya cukup berbunyi: “Rumah yang saya diami”. Misal lain: “Negeri dimana ia dibesarkan”, dalam bahasa Indonesia semula berbunyi: “Negeri tempat ia dibesarkan”.
Dari kedua misal itu terasa bahasa Indonesia semula lebih luwes, kurang kaku. Meski begitu tak berarti kita harus mencampakkan kata dimana sama sekali dari pembentukan kalimat bahasa Indonesia.
Hanya sekali lagi perlu ditegaskan: penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, bisa tak tepat dan boros.
Saya ambilkan 3 contoh ekses penggunaan dimana dari 3 koran:
Kompas, 4 Desember 1971, halaman I:
“Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) oleh serdadu-serdadu Amerika (GI) dimana konsentrasi besar mereka ada di Vietnam.”
Sinar Harapan, 24 November 1971, halaman III:
“Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini sedang menggarap 9 buah perkara tindak pidana korupsi, dimana ke-9 buah perkara tsb. Sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya masih dalam pengusutan.”
Abadi, 6 Desember 1971, halaman II:
“Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, dimana secara tidak langsung telah dapat mempengaruhi usaha-usaha pemerintah di dalam menjaga kestabilan, baik untuk perluasan produksi ekonomi dan peningkatan ekspor.”
Dalam ketiga contoh kecerobohan pemakaian dimana itu tampak: kata tersebut tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Sebetulnya masing-masing bisa dirumuskan dengan lebih hemat:
- “Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) serdadu-serdadu Amerika (GI), yang konsentrasi besarnya ada di Vietnam.”
- “Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkata tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya (sisanya) masih dalam pengusutan.”
- “Selanjutya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dewasa ini masih belum menentu. Hal ini secara tidak langsung telah dapat..... dst.”
Perhatikan:
1. Kalimat itu dijadikan dua, selain bisa menghilangkan dimana, juga menghasilkan kalimat-kalimat pendek.
2. “dewasa ini sedang” cukup jelas dengan “dewasa ini”.
3. kata “9 buah” bisa dihilangkan “buah”-nya sebab kecuali dalam konteks tertentu, kata penunjuk-jenis (dua butir telor, 5 ekor kambing, 7 sisir pisang) kadang-kadang bisa ditiadakan dalam bahasa Indonesia mutahir.
Perhatikan:
Kalimat dijadikan dua. Kalimat kedua ditambahi Hal ini atau cukup ini diawalnya.
12. Dalam beberapa kasus, kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain sesudahnya juga bisa ditiadakan, asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit (cukup jelas/logis) untuk menjamin kontinyuitas. Misalnya:
- “Bukan kebetulan jika Gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2500 tenaga kerja setengah terdidik”. (Kata sebab diawal kalimat kedua bisa ditiadakan: hubungan kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas).
- “Pelatih PSSI Witarsa mengakui kekurangan-kekurangan di bidang logistik anak-anak asuhnya. Kemudian ia juga menguraikan perlunya perbaikan gizi pemain”. (Kata kemudian diawal kalimat kedua bisa ditiadakan; hubungan kronologis antara kedua kalimat secara implisit cukup jelas).
Tak perlu diuraikan lebih lanjut, bahwa dalam hal hubungan kausal dan kronologi saja kata yang berfungsi menyambung dua kalimat yang berurutan bisa ditiadakan. Kata tapi, walau atau meski yang mengesankan ada yang yang mengesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.
JELAS
Setelah dikemukakan 12 pasal yang merupakan pedoman dasar penghematan dalam menulis, di bawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
1. Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan juga pura-pura paham ata belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
2. Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.
Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti juga bisa menguasai bahan penulisan dalam suatu sistematik. Ada orang yang sebetulnya kurang bahan (baik hasil pengamatan, wawancara, hasil bacaan, buah pemikiran) hingga tulisannya Cuma mengambang. Ada orang yang terlalu banyak bahan, hingga tak bisa membatasi dirinya: menulis terlalu panjang.
Terutama dalam penulisan jurnalistik, tulisan kedua macam orang itu tak bisa dipakai. Sebab penulisan jurnalistik harus disertai informasi faktuil atau detail pengalaman dalam mengamati, berwawancara dan membaca sumber yang akurat. Juga harus dituangkan dalam waktu dan ruangan yang tersedia.
Lebih penting lagi ialah kesadaran tentang pembaca. Sebelum kita menulis, kita harus punya bayangan (sedikit-sedikitnya perkiraan) tentang pembaca kita: sampai berapa tinggi tingkat informasinya? Bisakah tulisan saya ini mereka pahami? Satu hal yang penting sekali diingat: tulisan kita tak hanya akan dibaca seorang atau sekelompok pembaca tertentu saja, melainkan oleh suatu publik yang cukup bervariasi dalam tingkat informasi.
Pembaca harian atau majalah kita sebagian besar mungkin mahasiswa, tapi belum tentu semua tau sebagian besar mereka tahu apa dan siapanya W. S. Renda atau B. M. Diah. Menghadapi soal ini, pegangan penting buat penulis jurnalistik yang jelas ialah: "buatlah tulisan yang tidak membingungkan orang yang yang belum tahu, tapi tak membosankan orang yang sudah tahu”. Ini bisa dicapai dengan praktek yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.
Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:
• tanda baca yang tertib.
• ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan standar.
• pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea. Karena bukan tempatnya di sini untuk berbicara mengenai komposisi, cukup kiranya ditekankan perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran dalam menulis, hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang kesana-kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari hal-hal yang perlu dan relevan.
Menuju kejelasan bahasa, ada dua lapisan yang perlu mendapatkan perhatian:
a. unsur kata.
b. unsur kalimat.
a. Kejelasan Unsur Kata
a. Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income per capita, Meet the Press, steam-bath, midnight show, project officer, two China policy, floating mass, program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi.
Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak.
Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module, feasibility study, after-shave lotion, drive-in, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterpeneur, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, dll., karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau begitu, ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya “bell-bottom” dengan “cutbrai”) tetap perlu.
b. Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya sejak 15 tahun terakhir, pers berbahasa Indonesia bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang ratarata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. “Hankam”, “Bappenas”, “Daswati”, “Humas” memang lebih ringkas dari “Pertahanan & Keamanan”, “Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, “Daerah Swantantra Tingkat dan Hubungan Masyarakat”.
Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat: ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yangmembuat akronim untuk bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di kalangan remaja sehari-hari: “ortu” untuk orangtua; atau di pojok Koran: “keruk nasi” untuk “kerukunan nasional”) tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik (misalnya Manikebu untuk Manifes Kebudayaan, Nekolim untuk neo-kolonialisme. Cinkom untuk Cina Komunis, ASU untuk Ali Surachman).
Bahasa jurnalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya “Djagung” untuk “Djaksa Agung”, “Gepeng” untuk Gerakan Penghematan, “sas-sus” untuk “desas-desus”. Saya tak bermaksud memberikan batas yang tegas akronim mana saja yang bisa dipakai dalam bahasa pemberitaan atau tulisan dan mana yang tidak. Saya hanya ingin mengingatkan: akronim akhirnya bisa mengaburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan, hingga baik yang mempergunakan ataupun yang membaca dan yang mendengarnya bisa terlupa akan isi semula suatu akronim. Misalnya akronim “Gepeng” jika terus-menerus dipakai bisa menyebabkan kita lupa makna “gerakan” dan “penghematan” yang terkandung dalam maksud semula, begitu pula akronim “ASU”.
Kita makin lama makin alpa buat apa merenungkan kembali makna semula sebelum kata-kata itu diakronimkan. Sikap analitis dan kritis kita bisa hilang terhadap kata berbentuk akronim itu, dan itulah sebabnya akronim sering dihubungkan dengan bahasa pemerintahan totaliter dan sangat penting dalam bahasa Indonesia.
Tapi seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat. Pada dasarnya setiap kalimat yang amat panjang, lebih dari 15-20 kata, bisa mengaburkan hal yang lebih pokok, apalagi dalam bahasa jurnalistik. Itulah sebabnya penulisan lead (awal) berita sebaiknya dibatasi hingga 13 kata. Bila lebih panjang dari itu, pembaca bisa kehilangan jejak persoalan. Apalagi bila dalam satu kalimat terlalu banyak data yang dijejalkan.
Contoh:
- “Harian Kami”, 4 Desember 1971, halaman 1:
“Sehubungan dengan berita “Harian Kami” tanggal 25 November 1971 hari Kamis berjudul: “Tanah Kompleks IAIN Ciputat dijadikan Objek Manipulasi” (berdasarkan keterangan pers dari Hamdi Ajusa, Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Djakarta) maka pada tanggal 28 November jbl. di Kampus IAIN tersebut telah diadakan pertemuan antara pihak Staf JPMII (Jajasan Pembangunan Madrasah Islam & Ihsan - Perwakilan Ciputat) dengan Hamdi Ajusa mewakili DM IAIN dengan maksud untuk mengadakan “clearing” terhadap berita itu.”
Perhatikan: Kalimat itu terdiri dari 60 kata lebih. Sebagai pembaca, saya memerlukan dua kali membacanya untuk memahami yang ingin dinyatakan sang wartawan. Pada pembacaan pertama, saya kehilangan jejak perkara yang disajikan di hadapan saya. Ini artinya suatu komunikasi cepat tak tercapai. Lebih ruwet lagi soalnya jika bukan saja pembaca yang kehilangan jejak dengan dipergunakannya kalimat-kalimat panjang, tapi juga si penulis sendiri.
- Pedoman, 4 Desember 1971, halaman IV:
“Selama tour tersebut sambutan masyarakat setempat di mana mereka mengadakan pertunjukan mendapat sambutan hangat.”
Perhatikan:
Penulis kehilangan subjek semula kalimatnya sendiri, yakni sambutan masyarakat setempat. Akibatnya kalimat itu berarti, yang mendapat sambutan hangat ialah sambutan masyarakat setempat.
- Sinar Harapan, 22 November 1971, halaman VII:
“Di kampung-kampung kelihatan lebaran lebih bersemarak, ketupat beserta sayur dan sedikit daging semur, opor ayam ikut berlebaran. Dari rumah yang satu ke rumah yang lain, ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan di langgar-langgar, surau-surau, ramai pula ketupat-ketupat, daging semur, opor ayam disantap bersama oleh mereka.”
Perhatikan:
Siapa yang dimaksud dengan kata ganti mereka dalam kalimat itu? Si penulis nampaknya lupa bahwa ia sebelumnya tak pernah menyebut “orang-orang kampung”. Mengingat dekat sebelum itu ada kalimat ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan kalimat surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, kalimat panjang itu bisa berarti aneh dan lucu: “daging semur, opor ayam disantap bersama oleh ketupat-ketupat.”
Bagian Keempat
SEPERTI TARIAN BURUNG CAMAR
Farid Gaban
Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persaingan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa -- personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas.
Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simpel dan elok. Tulisan yang baik adalah hasil ramuan ketrampilan (reporter) menggali bahan penting di lapangan dan kemampuan (redaktur) menuliskannya secara hidup.
TUJUH ELEMEN
Apapun subyeknya, setiap karya jurnalistik yang bagus memiliki setidaknya tujuh unsur.
1. Informasi
Adalah informasi, bukan bahasa, yang merupakan batu bata penyusun sebuah tulisan yang efektif. “Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior” kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat—bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.
2. Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
3. Fokus
Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. “Less is more” lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.
“Don't write about man, write about a man” kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.
4. Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita.
5. Wajah
Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Jurnalisme menyajikan gagasan dan peristiwa—trend sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan—dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.
Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.
“Don't say the old lady screamed—bring her on and let her scream” kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.
6. Bentuk
Tulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan–sekaligus—mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi. Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya dan jika ceritanya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan.
7. Suara
Kita tak boleh lupa, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi: seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya. Majalah/koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau. Dan penulis yang baik mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke seluruh cerita, tapi menganekaragamkan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.
Secara ringkas, tulisan yang baik mengandung informasi menarik dan berjiwa. Menarik karena penting, terfokus dan berdimensi. Serta berjiwa, karena berwajah, berbentuk dan bersuara.
TULISAN YANG MEMBLE: TUJUH KEGAGALAN
1. Gagal menekankan segala yang penting—seringkali karena gagal meyakinkan bahwa kita memahami informasi yang kita tulis.
2. Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.
3. Gagal memerangi kejemuan pembaca. Terlalu banyak klise, hal-hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.
4. Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik—organisasi kalimat maupun keseluruhan cerita.
5. Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menuliskan ejaan.
6. Gagal menulis secara balans, sebuah dosa yang biasanya merupakan akibat ketidakpercayaan kepada pembaca, atau keengganan untuk membiarkan fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa restu dari persepsi penulis tentang arah cerita yang benar. Dengan kata lain: menggurui pembaca, elitis.
7. Semua kegagalan itu bermuara pada kegagalan untuk mengkaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan akan lebih baik—dan banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah—jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar. Kita hanya mencoba menyalurkan sesuatu kepada mereka yang telah membeli koran kita.
Bagian Kelima
JALAN PANJANG TRADISI ILMIAH
(Purnama Hasido)
Karya ilmiah adalah bentuk dari tanggung jawab seorang scientist yang terpenting. Semua pelajar serta para pembelajar dituntut untuk dapat menghadirkan suatu karya ilmiah untuk memenuhi standar dan tuntutan civitas pendidikannya, baik di tengah proses pembelajaran, maupun sebagai prasyarat kelulusan pada instansi akademik. Kegiatan dan metode ilmiah yang digeluti seorang akademisi umumnya harus teruji di hadapan publik dalam bentuk karya ilmiah tertulis, yang dipresentasikan secara verbal di hadapan dosen, para pembimbing, kepada sesama rekan-rekan seakademis maupun di tengah masyarakat.
Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa seorang akademisi, mahasiswa ataupun seorang ilmuan, tidak bisa disebut pernah sampai pada puncak kemampuan intelektualitasnya jika belum pernah atau tidak mampu menuliskan maupun menyampaikan sebuah karya tulis ilmiah. Dan karya ilmiah ini harus dapat dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan, dengan dibahas, dipertanyakan kembali, digali sumber-sumber referensinya, maupun dikritik isi tulisannya.
Sebelum beranjak membincangkan bagaimana menulis karya ilmiah atau makalah, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi “metode ilmiah”, bagaimana metode ini telah berkembang, dan sedikit menelisik sejarah perkembangan dari metode ilmiah itu sendiri.
METODE ILMIAH DAN EMPIRISME
Oxford dictionary, mendefenisikan “Metode Ilmiah” sebagai;
“A method or procedure that has characterized natural science since the 17th century, consisting in systematic observation, measurement, and experiment, and the formulation, testing, and modification of hypotheses.”
Artinya:
"Metode Ilmiah adalah sebuah metode atau prosedur yang mengikuti karakter penelitian pengetahuan alam (natural) yang dipraktekkan sejak abad ketujuhbelas masehi, prosedur tersebut melalui beberapa proses yaitu; observasi yang sistematis, dengan melalui proses pengukuran, melalui tahapan eksperimen, kemudian membuat formulasi, formulasi yang telah tersusun itu diuji kembali, yang akan bertujuan pada pembentukan suatu hipotesa."
Jika membaca definisi di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa metode ilmiah yang dimaksud adalah sebuah metode ilmiah modern yang telah berkembang dan diterima secara global sebagai sebuah metodologi standar sejak Abad XVII. Abad ketujuh belas adalah masa di mana perkembangan pengetahuan meningkat pesat di daratan Eropa, yang saat itu diterangi gelora semangat enlightment (Era Pencerahan).
Definisi di atas tentu tidak untuk menafikan hasil penelitian dan kegiatan keilmuan yang juga memiliki sifat keilmiahan dari tokoh-tokoh mahaguru, pemikir-pemikir dan para ilmuan sebelum Abad XVII. Bagaimanapun, definisi Metode Ilmiah Modern telah menjadi metode standar dan baku bagi pegiat intelektualitas yang hidup kemudian (termasuk generasi saat ini). Definisi Metode Ilmiah Modern juga dapat dipahami dari satu ungkapan sederhana;
“Scientists seek to let reality speak for itself”
… bahwa seorang ilmuan dalam jalan menuju, mencari dan mencapai kebenaran, harus membiarkan kebenaran itu ‘bicara’ apa adanya di depan matanya. Kebenaran tidak akan tercapai tanpa adanya kalkulasi akurat dan sesuai dengan percobaan-percobaan yang teruji hasilnya, kebenaran juga adalah sesuatu yang dapat dikonfirmasi bebas dari bias subjektif. ‘Kebenaran’ dipercaya dapat dicapai dengan seobjektif mungkin dan dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya oleh satu observer, satu pegiat atau seorang peneliti saja, namun juga oleh observer dan pengamat lain.
Metode ilmiah modern dalam perkembangannya hingga kini masih mengalami pengembangan dan melalui perkembangan serta inovasi. Dan di sisi lain, pun tidak terlepas dari berbagai kritikan. Bagaimanapun kritikan terhadap Metode Ilmiah Modern, standar Metode ini nyatanya telah diterima dan dipraktekkan secara global dalam budaya akademis instansi-instansi pendidikan, serta mencakup hampir keseluruhan dari instansi perguruan tinggi di penjuru dunia.
Ciri-ciri umum dalam pendekatan ilmiah modern adalah budaya objektifisme dalam proses riset terhadap objek kajian. Tujuan dari objektifisme adalah untuk meminimalisir atau menghilangkan kesan bias pada pembentukan kesimpulan akhir. Objektifisme yang diterapkan pada paham empirisme menjamin relevansi suatu masalah atau pada objek penelitian yang bebas bias dan pallacy. Percobaan maupun riset ditempuh dengan pengumpulan sumber-sumber referensi sebanyak mungkin, baik yang mendukung hipotesa awal, maupun sumber-sumber referensi yang justru menolak dan berpotensi melemahkan hipotesa tersebut, kemudian adanya usaha untuk mengkomparasikan variabel-variabel yang telah terhimpun ini untuk menguatkan kesimpulan final sebuah karya ilmiah.
Sedangkan pada bagaimana metode ilmiah modern ini dikembangkan di lapangan, maka kita akan membahasnya dengan sedikit menelisik perkembangan penelitian empirik pada salah satu bidang ilmu fisika; yaitu sejarah penelitian pada gerakan planet dan teori gravitasi, dan sedikit melihat ke belakang pada perkembangan fisika elementer, teori tentang atom.
Johannes Kepler, seorang astronom, sempat kebingungan untuk menetapkan formulasi yang pas dengan penghitungan yang dilakukannya berulangkali pada gerakan orbit planet (benda angkasa non bintang), dikarenakan pengetahuan yang berkembang saat itu menyebutkan bahwa orbit planet berbentuk bulat sempurna terhadap matahari maupun posisi langit Bumi (koordinat benda-benda langit terhadap zenith).
Pada perkembangan kemudian, Kepler menemukan bahwa eksperimen dan penghitungan yang dilakukannya terhadap gerakan planet dapat sesuai, jika model orbit planet diilustrasikan berbentuk bulat telur (elips) mengelilingi matahari. Kepler pun mengusulkan hipotesa bahwa orbit planet tidak mungkin berbentuk lingkaran sempurna, karena model orbit planet yang berbentuk elips dapat sesuai dengan hitungan matematis dan prediksi terhadap posisi tertentu sebuah benda langit pada waktu tertentu pula sesuai dengan perhitungan matematis, sehingga dapat dirumuskan/dipetakan/diperkirakan dengan baik dan akurat, dan dapat dibuktikan dengan percobaan berulang kali. Sekitar satu abad kemudian, Newton mendeduksikan tiga Hukum Gerakan Benda pada Teori Kepler menjadi Hukum Gravitasi Umum yang kita kenal saat ini.
Demikian pula pada cerita lain tentang ilmu seputar atom. Atomisme yang sejak awal dipahami sebagai pemikiran filosofis tentang entitas terkecil dan terdasar dari segala zat dan benda—yang tidak dapat-dibagi-bagi lagi—adalah suatu teori yang sejak semula sarat enigma, baik itu dari awal pemikiran filsafat Yunani, periode klasik hingga modern bahkan—mungkin—pada era yang disebut post-modern terkini.
Atom pada mulanya didefenisikan memiliki bentuk dan sifat yang persis sama dengan sifat dan bentuk zat yang disusunnya, sudah sejak lama manusia, terkhusus pemikir Yunani berkeyakinan bahwa setiap benda di dunia ini pasti memiliki potongan atau bagian terkecil yang tidak dapat dibelah lagi, dan masih memiliki satu sifat yang sama dengan benda yang disusun oleh potongan ini; seperti atom air yang berbentuk halus dan basah, atom kayu yang berserat, atom angin yang seperti angin (ringan dan lembut) dan lain-lain.
Setelah melalui perkembangan penelitian ilmiah, percobaan demi percobaan di era modern, para ilmuwan menghasilkan kesimpulan baru untuk mendefinisikan sifat-sifat dari atom. Atom kemudian digambarkan memiliki satu bentuk yang disepakati; besi, air dan mahkluk hidup terdiri dari susunan materi elementer padat, berbentuk sederhana dan seragam, semua materi yang kita kenal disusun oleh atom atom yang berbentuk seragam dan materiil ini, dari perkembangan percobaan demi percobaan menghasilkan kesimpulan bahwa bentuk dan sifat atom tidak lagi mengikuti bentuk dan sifat zat yang dibentuknya, baik itu atom yang dikandung oleh zat padat seperti besi, atom yang menyusun zat cair seperti air maupun atom yang menyusun zat yang berbentuk gas, diklasifikasikan dengan nama-nama baru, seperti helium, hidrogen, karbon, besi dan lain-lain. Universalitas bentuk atom diterima karena sesuai dengan perhitungan matematis, teruji melalui pengamatan (observasi), sesuai dengan pengukuran, serta telah melewati proses pembentukan formulasi dan penyusunan hipotesa.
Pada perkembangan teori atomisme yang berkelanjutan, seorang ilmuan yang bernama Dalton memberikan satu hipotesa awal mengenai atom. Pada awal abad 20 Dalton merumuskan satu teori ilmiah yang kini dikenal dengan “Teori Atom Dalton.” Dalam teori ini, atom didefenisikan berbentuk bulat, dan molekul atom memiliki ranting-ranting (cabang) sebagai "kaitan" sehingga satu atom dengan atom lainnya, dapat saling terikat antara satu sama lain, ikatan ini akan membentuk zat-zat baru seperti yang terjadi pada air yang terdiri dari ikatan antara Hidrogen dan Oksigen, dan api yang tak lain adalah bentuk penguraian dari ikatan karbon dengan atom-atom Oksigen. Begitu pula sama halnya pada zat-zat atom lain, yang membentuk bermacam perubahan bentuk zat; padat, cair maupun zat gas yang tersebar di alam semesta ini. Kemudian model atom dikembangkan oleh ilmuan lain bernama Thomson, yang menemukan adanya muatan positif di dalam setiap atom.
Model Atom Dalton dan Thomson tidak lagi populer sejak model atom baru diperkenalkan oleh seorang ilmuan lain yang bernama Ernest Rutherford, Model atom Rutherford mengenalkan adanya satu partikel yang lebih kecil daripada atom, yaitu nukleus, atau inti atom. Tidak berhenti di sini, setelah penemuan nukleus, ditemukan pula pola gerakan nukleus di dalam atom oleh seorang ilmuan yang bernama Niels Bohr. Bohr dan model atom yang dilukiskannya berbentuk seperti tata surya dengan orbit-orbit elektron yang berfungsi sebagai kulit dari inti atom. Hipotesa bentuk fisik atom yang dikemukanan oleh Ernest Rutherford dan Bohr kini dianggap sebagai pengganti model atom Dalton yang dianggap sudah tidak relevan lagi karena atom versi Rutherford dan Bohr tidak lagi menjadikan atom sebagai satuan terkecil dari suatu benda, karena atom sendiri dianggap masih terdiri dari satuan partikel elementer yang lebih kecil lagi yaitu proton dan elektron. Model atom baru pun secara luas diajarkan ke seluruh sekolah-sekolah dan instansi-instansi pendidikan di seluruh dunia sejak itu hingga sekarang.
Meskipun hingga saat ini, mikroskop tercanggih sekalipun belum dapat membantu manusia untuk melihat bentuk fisik atom, namun hipotesa tentang model atom yang diajukan oleh Dalton, Bohr maupun Rutherford sudah diterima secara global. Hipotesa yang diajukan oleh para ilmuan untuk mendefinisikan atom sebagaimana yang kita kenal saat ini berdasar pada akurasi perhitungan dan hasil percobaan-percobaan yang turut membantu ahli kimia, fisikawan hingga matematikawan hingga para pembelajar untuk mengembangkannya lebih lanjut, untuk menguak misteri-misteri yang masih melekat pada ilmu pengetahuan alam, terkhusus dalam materi kajian Fisika Partikel.
Metode ilmiah modern telah menghasilkan fakta-fakta yang meskipun belum seluruhnya dapat nampak secara visual pada kita, akan tetapi dapat diterima nalar sebagai kebenaran setelah melalui pembuktian secara objektif empirik, terukur dan dapat dibuktikan berulang kali, dan terbebas dari bias.
Sebagai tambahan yang nampaknya layak disampaikan, ulama-ulama terdahulu telah lebih dulu dikenal dan terkenal dengan karya mereka yang bersifat ilmiah, memenuhi standar objektifitas, sebagaimana standarisasi yang diterapkan pada Metode Penelitian Ilmiah Modern. Pemikiran ini nyatanya menjadi rujukan para ilmuan Barat di kemudian hari dalam menyusun standar metode ilmiah modern (empirisme).
Jabir bin Hayyan yang tak lain adalah murid dari Imam Ja’far As-Shiddiq RA, terkenal sebagai ilmuan kimia yang pertama-tama sekali melakukan penelitian bidang kimia yang benar-benar lepas dari mitos dan sihir. Salah satu pencapaian Jabir bin Hayyan bahkan menjadi salah satu teori ilmiah yang paling misterius hingga kini yaitu; teori tentang zat Al-Iksir/Elixir/Batu bertuah/Air keabadian. Dan saat mendengar nama Jabir atau nama "Geber" sebagaimana tokoh ini dikenal di Eropa, kita juga pasti akan mengingat Aqua Regia atau "A Royal Water", suatu zat kimia pelarut emas yang sangat melegenda dan masih relevan digunakan hingga kini.
Demikian pula Ibnu Sina, seorang pakar medis tersohor. Ibnu Sina disebut sebagai orang yang pertama-tama memperkenalkan metode diagnosa penyakit dengan wawancara dengan pasiennya, metode pengenalan (symptom) atau gejala-gejala nampak dari suatu penyakit diimbangi dengan informasi tentang keluhan pasien masih digunakan dalam praktik medis, hingga kini. Dalam metode pengamatannya, Ibnu Sina tidak mencampurkan sifat-sifat penyakit pasiennya dengan mitos-mitos maupun hal-hal yang tidak realistis (misalnya pengaruh dosa, kutukan serta sihir, atau semacamnya).
Dan tidak perlu contoh lebih banyak lagi yang membuktikan bahwa sarjana dan ilmuwan muslim di awal Abad Pertengahan telah lebih dulu menjabarkan satu metode empirik jauh hari sebelum para ilmuan Barat melakukan metode serupa. Sebut saja Ibnu Tufail yang telah lebih dulu menggambarkan “Tabula Rasa” dengan novelnya ‘Hayy bin Yaqzan’ yang kemudian mengilhami Jhon Locke menyusun teori empiris-nya yang sangat berpegaruh itu.
PENALARAN DAN RASIONALITAS
Melakukan pengujian ilmiah ataupun menulis sebuah karya ilmiah tidak akan berarti banyak jika tidak didukung dengan cara berpikir yang benar. Hipotesa harus juga didukung dengan metode pengamatan yang baik untuk mendapatkan kesimpulan yang objektif. Dengan maksud dapat menghasilkan satu kesimpulan akhir yang bersifat ilmiah. Usaha menyusun kerangka berpikir ini selanjutnya akan mendukung suatu kerangka tulisan, sebuah karya ilmiah yang tidak mengandung bias dan fallacy.
Untuk sementara, kita tinggalkan di belakang pembahasan tentang perdebatan panjang nan sengit antara pendukung Rasionalis dan Pro-Empiris untuk membahas lebih jauh tentang metodologi berpikir ilmiah.
Dalam metodologi berpikir ilmiah, dikenal dua metode penalaran (metode berpikir) yang umum, Yang pertama adalah metode berpikir dengan deduksi (Top-down logic) atau bersifat deduktif, dan yang kedua adalah metode berfikir induksi (Bottom-Up Logic) atau induktif. Kedua metode berpikir ini, meskipun berbeda satu sama lain, tidak dapat dipisahkan ataupun dikesampingkan salah satunya.
Penalaran Deduktif dan Induktif dibedakan pada tujuannya, penalaran deduktif membuat sebuah kesimpulan yang bersifat final dan pasti pada satu masalah yang spesifik (kesimpulan akhir), sedangkan penalaran induktif menjadikan hal hal yang bersifat khusus dipadukan satu sama lain, untuk menjadi satu teori umum yang relatif dapat dipercaya kebenarannya (secara umum; benar).
Dalam penalaran deduktif, kesimpulan akhir harus berdasarkan adanya elemen-elemen premis yang menyusun-membentuknya. Dalam hal ini, kiranya penting mengetahui perbedaan antara premis dan kesimpulan (konklusi). Premis dapat berupa pendapat yang sudah ada dan diakui keabsahan/kebenarannya, premis dapat pula berupa situasi atau kondisi yang sudah diikat erat oleh dimensi ruang dan waktu yang bersifat konsisten. Untuk membentuk kesimpulan dari penalaran yang bersifat deduktif, semua premis harus dapat dihubungkan satu sama lainnya yang nantinya dimaksudkan agar mendapatkan suatu kesimpulan atau teori yang bersifat khusus, yang “akan” dikonfirmasi kebenaran kesimpulannya. Jika kesimpulan akhir tidak mendapatkan satu kebenaran (terbukti keliru), maka dapat disimpulkan bahwa yang salah yang keliru adalah premis-premis atau elemen-elemen penyusun kesimpulan ini. Kesimpulan akhir dari metode berpikir induktif sangat bergantung dari premis-premis atau argumen-argumen awal. Metode berpikir seperti inilah yang bekerja pada penalaran deduktif.
Contoh metode Penalaran Deduktif yang paling terkenal adalah sebagaimana dicontohkan Aristoteles:
Premis 1. “Semua manusia pasti mati”
Premis 2. “Socrates adalah manusia”
Kesimpulannya (hasil dari premis 1 dan premis 2): “Socrates pasti mati”
Jika nanti, entah karena apa, didapatkan satu keadaan di mana “Socrates tidak mati dan abadi”, maka salah satu atau kedua premis sebelumnya dianggap sudah keliru dan salah, misalnya tidak adanya kepastian pada Premis 1: “Semua manusia tidak pasti/mungkin mati”, atau pada Premis kedua: “Bisa jadi... Socrates bukan manusia”.
Penalaran deduktif juga tentang cara metode untuk membuat suatu kesimpulan yang bersifat khusus dan terbatas. Metode Deduktif bertolak belakang dengan metode Induktif yang mengambil suatu kesimpulan yang bersifat men-generalisir, umum dan tidak mengikat. Dalam bahasa Arab, kita mengenal istilah “minal aam ilal khaas”, istilah ini sejalan dengan pengertian Deduktif, sedangkan istilah yang bertolak belakang dari ini adalah metode penalaran induktif atau dapat dipahami dalam bahasa Arab sebagai; “minal khaas ilal aam”.
Perlu diingatkan di sini, meskipun premis-premis yang membentuk suatu kesimpulan deduktif telah sesuai dan benar, tidak serta-merta membuat kita lepas dari cacat logika (logical pallacies), misalnya:
Premis 1: Politikus sering berbohong
Premis 2: Tukang servis TV juga sering berbohong
Kesimpulan: Semua tukang servis TV adalah politikus
Tentu saja kesimpulan di atas salah, karena meskipun sama-sama memiliki kebiasaan berbohong, seorang politikus adalah seorang tokoh partai politik, dan tidak memiliki kemampuan mereparasi TV, begitu pula sebaliknya.
Metode penalaran Induktif memiliki tujuan dan metode yang berbeda dengan metode penalaran Deduktif. Metode penalaran Induktif bertujuan menghasilkan suatu kesimpulan yang bersifat umum, misalnya;
“Seorang anggota Partai A terlibat korupsi saat partainya berkuasa”,
“Anggota Partai B, juga kemudian terbukti korupsi, saat memegang pemerintahan”,
“Begitu juga dari partai yang ketiga... ternyata anggota partai C pun ada yang terindikasi melakukan korupsi untuk memenangkan pemilu.”
“Maka disimpulkan bahwa anggota partai politik akan terlibat korupsi. Partai apapun itu, meskipun di kemudian hari ada suatu partai baru yang bernama ‘Partai D’”
Kesimpulan di atas jelas keliru jika dianggap sebuah kesimpulan final (kesimpulan yang biasa didapatkan dari penalaran Deduktif). Namun jika riset ini didekati dengan pendekatan Induktif, pemikiran seperti itu dapat saja diterima, karena metode Induktif “sekedar” menyatakan satu hal yang bersifat umum dan belum pasti kebenarannya, tidak mungkin juga menyatakan bahwa kesimpulan di atas salah dan menyesatkan, karena bukti-bukti pendukungnya memang cukup kuat.
Karena inilah, metode induktif dapat saja menghasilkan satu kesimpulan yang dapat dikategorikan “kuat”, “cukup kuat”, “cukup masuk akal”, atau “lemah”, dan bukan menyimpulkan "benar" atau "salah".
Dalam hal ini, metode penalaran Induktif dapat menghasilkan beberapa bentuk kesimpulan, di antaranya:
a. Generalisasi (Adanya Klaim pada hal-hal yang umum, didapatkan dari bukti-bukti tertentu bahwa suatu masalah atau objek pengamatan memiliki kualitas yang baik berdasarkan data-data dengan hasil yang memuaskan (studi kualitatif), seperti klaim suatu perusahaan bahwa produknya adalah produk terbaik dibanding kompetitor-kompetitor lain, hal ini berdasarkan asumsi; meski paling mahal, produk perusahaan ini tetap memiliki pelanggan setia dan menjadi konsumen tetap. Generalisasi dapat pula berasal dari kesimpulan yang dianggap memiliki dasar “jumlah” yang layak diperhitungkan karena menghasilkan nominal paling besar (kuantitatif), misalnya, taraf kesejahteraan rakyat sebuah negara dapat diurutkan berdasarkan rating angka rata-rata daya beli masyarakat atau PPP (Keseimbangan kemampuan belanja per-dollar US) per-kapita, dengan generalisasi bahwa “nilai kesejahteraan” umumnya sejalan dengan “besaran kemampuan belanja harian” per-individu.
b. Analogi. Analogi adalah bentuk lain daripada hasil penalaran induktif. Analogi adalah kesimpulan yang berdasar pada opini pribadi tentang suatu kelompok, suatu situasi atau suatu permasalahan yang dianggap sama dengan situasi atau kondisi yang sudah ada sebelumnya. Analogi diambil berdasarkan perbandingan terhadap satu objek yang memiliki atribut serupa dengan objek lain. Perlu disampaikan bahwa, analogi sejalan dengan “qiyas” dalam Ushul Fiqih.
c. Prinsip-prinsip umum (A Common Principal). Dalam hal ini, metode penalaran induktif dapat digunakan untuk membuat suatu teori umum yang diaplikasikan ke banyak bidang kajian. Metode penalaran induktif yang menghasilkan prinsip prinsip umum ini banyak kita temukan contohnya pada kaidah-kaidah Hukum Syari’ah yang kita kenal, sebagaimana Lima Kaidah Hukum Fiqih.
Metode penalaran Deduktif dan Induktif tidak hanya berlaku dalam mengaplikasikan kajian ilmiah, dalam keseharian pun, pikiran kita sering harus terlibat di antara dua bentuk metode ini. Baik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, menyelesaikan permasalahan-permasalahan dari yang sederhana hingga ke permasalahan yang problematis.
Mari kita contohkan pada keputusan yang akan diambil oleh dua mahasiswa berinisal Si A (Arai) dan si B (Budi) untuk menentukan lokasi makan malam mereka. Dan jam sudah menunjukkan pukul 9.00 malam. Arai dan Budi telah memiliki beberapa premis untuk memilih tempat makan, yaitu;
1. (Premis pertama) Ada dua jenis restoran yang buka malam itu, restoran cepat saji dan warteg langganan mereka
2. (Premis kedua) Restoran cepat saji buka 24 jam, sedangkan warteg diperkirakan hampir tutup
3. (Premis ketiga) Mereka berdua lapar dan ingin makan enak tapi murah.
Jika keduanya tetap memilih Warteg, maka dapat disimpulkan bahwa metode penalaran Induktif-lah yang dominan digunakan keduanya. Arai dan Budi memprioritaskan makan malam di Warteg berdasarkan premis ketiga; warteg relatif murah (subjektif harga mahasiswa) dan lebih enak (subjektif sesuai selera Arai dan Budi). Tapi Premis-premis yang bersifat subjektif ini tidak memadai untuk menentukan validitas hasil keputusan keduanya, karena bisa saja saat kedua mahasiswa ini tiba di warteg, pemilik warteg sudah bersiap menutup warung, menu yang tersedia pun ‘bisa jadi’ tidak selengkap dan tidak seenak menu yang tersedia pada siang hari, atau... menu yang ada tersisa justru adalah menu yang lebih mahal dari Restoran Cepat Saji.
Namun jika keduanya memilih restoran cepat saji, hal itu dikarenakan restoran itu 'dipastikan' masih buka, semua menu yang sudah mereka kenal tersedia lengkap, meskipun kisaran harga-harga menu ini relatif mahal bagi keduanya. Pilihan kedua ini, bersumber dari penalaran Deduktif Arai dan Budi karena hasil kesimpulannya lebih banyak didasarkan pada situasi dan kondisi yang banyak berada di luar asumsi subjektifitas keduanya (premis kedua), tapi setidaknya, di warung cepat saja, mereka akan makan sesuai dengan ekspektasi masing-masing.
Sedikit disinggung di atas bahwa penalaran saja tidak cukup, pengujian empirik harus tetap dilakukan untuk mendapatkan hasil kajian ilmiah yang memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan. Terkhusus pada subjek kajian yang bersifat ilmu terapan, uji impiris mutlak diperlukan untuk memperkuat analisa rasional. Dalam hal ini, kami menganjurkan agar aktifis kajian intelektual harus dapat menyampaikan karya ilmiahnya dengan mengaplikasikan metode penalaran yang pertama atau bersifat Deduktif, meskipun, pola penyampaian karya ilmiah tidak akan lepas dari dasar-dasar asumsi yang bersifat Induktif, cara berfikir penulis memang akan sulit bebas dari sifat Induktif atau cenderung subjektif.
Kiranya kita cukupkan sampai di sini dalam membahas Sejarah, pola dan penerapan Metode Ilmiah. Selanjutnya, tentu akan menjadi sebuah pembahasan yang menarik jika kita beralih membahas realita interaksi mahasiswa dan pelajar Al Azhar dengan aktifitas intelektualitas dalam wilayah akademik Al Azhar, maupun di wilayah non akademik.
MAHASISWA AL AZHAR DAN TRADISI KAJIAN ILMIAH
Harus diakui, sebagai mahasiswa sebuah universitas Islam di Timur Tengah, mahasiswa Al Azhar asal Indonesia kalah unggul pada kajian ilmiah atau kegiatan riset dibanding mahasiswa atau sarjana pendidikan umum atau konvensional ala Barat yang didukung fasilitas riset yang modern dan memadai. Beberapa tahun lalu, mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) mendapat satu tudingan (kritikan) cukup keras terkait kemapanan tradisi ilmiah ini. Satu di antara tudingan diwakili kalimat dengan judul besar; “Mahasiswa Al Azhar tidak metodologis!”
Jangankan untuk menampik tudingan ini, untuk memahami kata "metedologis" pun agaknya banyak Masisir yang masih ragu untuk mengartikannya. Metodologis seperti apa yang dimaksud pengkritik? Bahkan jika jawaban yang disampaikan adalah; metodologi Al Azhar adalah Islam moderat, akan terdengar lucu. Tentu bukan ini jawaban yang memuaskan. Metodologi yang dipertanyakan adalah yang telah kita bahas di atas, yaitu metodologi ilmiah modern yang subjektif dan bebas bias, pada bagaimana mahasiswa Al Azhar asal Indonesia dapat membangun kemampuan rasionalitasnya untuk mengembangkan spesialisasi keilmuan pada jurusan masing-masing dengan pendekatan empirik.
Realitanya, metodologi kajian ilmiah hanya sebentar saja dipelajari di Universitas Al Azhar, hanya pada satu pelajaran saja, itupun di tingkat awal, tingkat satu, yaitu “Qo'ah Bahst”. Itupun hanya berbentuk materi dan teori saja tanpa dibarengi praktek yang memadai. Dan sayangnya, oleh para mahasiswa, materi "Qo'ah Bahst"-pun diperlakukan tidak jauh berbeda dengan materi pelajaran lain. Materi kajian ilmiah lebih banyak dijadikan objek hapalan, untuk menjawab ujian.
Banyak dari Masisir yang masih kesulitan menampik keterbatasan dan kekurangan yang melekat pada individu-individunya, karena riwayat pendidikan di pesantren yang kaya literatur—namun—minim praktek empirik membuat Masisir kesulitan untuk sekedar menulis satu makalah yang sesuai standar ilmiah.
Namun sikap kita pun harus kritis terhadap kritikan ini, karena tudingan ini tidak sepenuhnya benar, dan tidak serta merta harus membuat Masisir "tertunduk malu". Minimnya sarana metodologi ilmiah modern tidak selayaknya menjadikan mahasiswa Al Azhar kurang memiliki kebanggaan di hadapan sarjana Barat dan Institusi Umum.
Tidak banyak dari Azhary yang menyadari bahwa pada dasarnya, antara sarjana Universitas Adabi Al Azhar (Normatif) dibanding sarjana barat, memiliki kelebihan tersendiri. Baik itu kelebihan yang ada pada mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syari'ah maupun Fakultas Bahasa Arab, yang kesemuanya normatif atau Adaby. Satu hal yang harus terlebih dahulu dipahami adalah di mana pijakan mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar? Yang nantinya akan menunjukkan kelebihan dan kekurangan yang telah ada pada masing-masing dari jalur normatif atau jalur saintifik itu sendiri. Terkhusus pada para mahasiswa Al Azhar yang mengambil tiga jurusan 'Adabi' yang bercorak normatif (Ushuluddin, Syari’ah maupun Lughah Arabiyyah). Maka, penerapan metode ilmiah (saintifik) akan merupakan satu tantangan yang tidak gampang untuk diaplikasikan dengan baik, apalagi secara menyeluruh.
Metodologi ilmiah modern yang diaplikasikan dan dikembangkan di 'Barat' tidak ‘mengerti’ norma-norma, nilai-nilai spiritualistik, ataupun doktrin-doktrin religius. Pengembangan sebuah cabang ilmu yang dikembangkan di Barat tidak memiliki ikatan-ikatan bahkan sebagian melepaskan hubungan dengan nilai-nilai spiritualitas. Haluan sekuler nan liberalis yang berkembang seiring perkembangan modern seperti ini tentunya bertentangan dengan prinsip yang dipegang institusi Al Azhar As Shariif.
Tradisi ilmiah modern Barat memandang ilmu sebagai subjek kajian yang dapat terus digali dan diselidiki sejauh mungkin, dengan mensyaratkan supaya subjek kajian tersebut dianggap bersifat relatif pada perubahan ruang, waktu maupun perubahan sosio-kultural masyarakat. Jika hukum agama dianggap sebagai subjek yang relatif, maka pendekatan agama dianggap sah-sah saja dibedah dengan pendekatan metodologi dialektis, yang meyakini bahwa tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri. Adagium “tak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri” ibarat pengganti “Rukun Iman” di kebudayaan Barat. Agama dipandang sebagai milik manusia dan bukan lagi milik langit, sisi sakralitas agama dapat saja dihilangkan demi menghilangkan sifat bias dan pallacy. Dan dari sini kita akan mendapatkan satu masalah yang terbilang krusial dan beresiko besar di saat kita ingin mengaplikasikan metode ilmiah modern dalam budaya intelektualitas dan keilmuan yang kita dalami di institusi Al Azhar.
Metode kajian ilmiah adalah tuntutan jaman, sebuah realita di jaman modern yang tidak dapat terelakkan lagi. Yayasan Al Azhar As-Shariif pun telah memodernkan sistem pendidikannya sejak hampir seabad lalu, yaitu dengan membuka beberapa fakultas science disamping fakultas-fakultas normatif (Adabi). Dan sistem pendidikan fakultatif serta berjenjang yang ada pada fakultas normatif (Adabi) yang ada saat ini adalah bentuk pemodernan daripada tradisi talaqqi yang berusia berabad-abad yang lalu, dengan kata lain, dari mengkonversi pendidikan dari tradisi "Jami" ke "Jami'ah".
Hal ini membuktikan bahwa yayasan Al Azhar tidaklah anti pembaharuan dan resistan terhadap perubahan jaman, namun menempatkan perubahan ini pada koridor yang selayaknya. Di samping itu, Masisir sebagai bagian dari Al Azhar, pada dasarnya tidak perlu minder jika disebut-sebut sebagai para mahasiswa yang miskin riset dan hanya kenyang hafalan, karena di manapun itu, di Timur maupun di Barat, setiap jurusan Adabi yang bercirikan Normatif konservatif serta sarat nilai nyatanya tidak akan pernah sama dengan bidang scientific yang kaya riset, bersifat progresif serta amat terbuka pada perkembangan dan perubahan. Riset dan satu penelitian yang dilakukan dengan metode empirik dan bersifat progresif akan berujung pada benturan dengan batas-batas norma dan nilai agama maupun budaya yang dianggap telah baku dan mapan, yang telah tetap sebagai batas nilai-nilai yang tidak dapat sembarangan dilawati. Batas nilai inilah yang tak jarang menjadi suatu hambatan bagi intelektual dari Timur seperti kita untuk dapat berlaku objektif dan tidak sembarang melakukan studi komparatif yang bebas bias sebagaimana metode empiris. Kita dapat mencontohkan, besarnya mudharat yang akan timbul jika kita mengaplikasikan ilmu semantik ke dalam ilmu tafsir maupun hadist, dua "tradisi dan literatur" yang bernilai sakral bagi keimanan seorang Muslim.
Bisa jadi, berdasarkan konsekuensi di atas, mahasiswa Al Azhar pun terbiasa menempuh studi terfokus pada kajian fakultatif sesuai dengan “mandat” keilmuan dari sang dosen yang normatif pula. Pendalaman keilmuan yang ditempuh dengan memperbanyak hafalan-hafalan atau perolehan sanad dari para Masyayikh, (sebagaimana tradisi Al Azhar), memang disesuaikan dengan proses jenjang tingkatan akademis, dan diterima dengan cara yang sama pula oleh para mahasiswanya. Bahkan hingga menyelesaikan strata S1 pun, mayoritas dari alumni universitas Al Azhar tetap tidak familiar dengan istilah metodologi kualitiatif atau kuantitatif dalam penulisan karya ilmiah, satu metode yang sudah umum digunakan dalam penulisan skripsi di wilayah akademik universitas-universitas di Indonesia dan konvensional Barat. Riset ataupun studi komparatif hingga kini masih jarang dipraktekkan oleh para mahasiswa S1 Al Azhar karena memang tidak begitu difasilitasi oleh institusi kita sendiri. Karakter penerapan metodologi yang bersifat normatif inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa Universitas Al Azhar tidak terlalu membebani mahasiswa S1-nya dengan beragam tugas paper dan tidak mewajibkan mahasiswanya menulis skripsi sepanjang jenjang pendidikan S1-nya. Karena sebuah fakultas Adabi (Normatif) nyatanya lebih mengkedepankan pendalaman pada objek-objek studi keilmuan pada masing-masing bidang studi yang bersandarkan pada literatur, dan nampak tidak terlalu menaruh perhatian pada bagaimana objek-objek bidang studi itu dikembangkan secara progresif dari aktifitas riset.
Kita beralih dari perbedaan pendidikan yang diterapkan institusi Al Azhar, tentunya hal ini bukan merupakan ranah yang perlu diperdebatkan lagi. Fokus kita pindahkan pada seberapa dekat tradisi ilmiah ini pada kehidupan dan keseharian mayoritas Masisir di luar jam kuliah? Bagaimana behavior atau kegiatan keseharian-nya yang sudah melekat pada identitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) selama ini? Tidakkah kita menyadari adanya masalah bahwa banyak dari Mahasiswa Al Azhar nyatanya tidak mampu menulis suatu kajian ilmiah secara sistematis, kurang mampu memilah-milah data maupun referensi yang dibutuhkan?
Bahkan banyak dari kita yang masih tidak mampu menulis sebuah makalah yang memenuhi standar dasar dari metode ilmiah seperti yang telah disampaikan di atas. Dan bahkan banyak dari mahasiswa dan alumni Al Azhar yang masih kesulitan menyampaikan satu kajian dengan penyampaian yang objektif hanya karena terkungkung fanatisme buta, satu hal yang justru bertentangan dengan spirit Al Azhar yang menjunjung 'wasathiyyah', padahal semangat wasathiyyah ini masih satu makna dengan objektifisme. Mahasiswa Al Azhar masih banyak yang terkungkung dalam subjektifitas pemikiran yang fanatic nan kolot. Dan bagi kami, ini adalah masalah bersama, sebuah masalah sosial yang mengemuka.
Alangkah sayangnya jika kita telah dapat menerima dengan sangat baik segala informasi dan ilmu yang diajarkan oleh Al Azhar, namun kemudian tidak mampu mengolah data-data maupun informasi yang kita terima tersebut hingga menjadi satu objek kajian ilmiah yang dapat disampaikan dalam sebuah forum kajian ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan keilmuan Islam bagi masyarakat di Tanah Air.
Untuk mencapai harapan di atas tidaklah mudah. Akan ada jalan panjang yang harus dilalui satu individu maupun sekelompok forum kajian, dan bahkan untuk membangun adanya kesadaran kolektif harus dilalui dengan pengorbanan dana, tenaga dan waktu yang tidak singkat. Ada proses pembelajaran yang panjang dari waktu ke waktu, ada evaluasi untuk suatu pengembangan demi pengembangan. Dan sebelum kita akan memutuskan akan menempuh jalan panjang sebuah komunitas, tak ada salahnya bagi kita, dari pribadi, sebagai Azhary, secara swasembada, maupun berkelompok untuk mencoba menghidupkan tradisi ilmiah, dari suatu kelompok-kelompok kecil bahkan dari inisiatif pribadi untuk tidak berhenti mengelaborasikan kemampuan diri di tengah keterbatasan, tidak pernah berhenti dari mendekatkan diri pada tradisi kajian ilmiah, baik itu dengan memperkaya sumber-sumber bacaan dan literatur, maupun dengan memperbanyak tulisan dan karya ilmiah sesuai dengan kaidah dan metode ilmiah.
Selanjutnya, kami akan menyampaikan beberapa tips dan metode sederhana yang dapat digunakan untuk memulai niat baik ini.
TIPS-TIPS PERMULAAN YANG SEDERHANA UNTUK MENULIS KARYA ILMIAH
Tips pertama, adanya kesadaran pada bagaimana memperkaya perbendaharaan kosakata. Perbendaharaan kata adalah juga perbendaharaan bahasa. Memperkaya perbendaharaan di sini dapat diartikan sebagai ‘kata kerja’ dan ‘kata sifat’ sekaligus. Semakin banyak bahasa yang kita kuasai, maka semakin banyak pula perbendaharaan kata yang kita miliki dan di lain sisi, proses berpikir tidak dapat dilepaskan dari proses berbahasa itu sendiri. Bahasa menciptakan suatu proses berpikir, sebagaimana aktifitas berpikir adalah bentuk lain dari proses berbahasa, berkata-kata.
Bahasa menciptakan budaya dan adat, dan adat adalah cikal peradaban, sedangkan daya intelektualitas dan kemajuan suatu golongan umat manusia diukur dari kemajuan kebudayaannya. Proses berpikir adalah proses dari berbahasa, sebagaimana ilmu psikologi pendidikan mendefinisikan arti “pikiran” sebagai proses “berkata-kata di dalam kepala”.
Benar bahwa sebagian dari pakar pendidikan menyebutkan bahwa kemampuan bahasa tidak banyak membantu kemampuan kognitif, namun anggapan ini dapat dibantah melalui beberapa penelitian termutakhir, di mana semua orang (terkecuali bagi yang memiliki satu keterbatasan fisik atau karena suatu penyakit mental) dapat meningkatkan akselerasi pengumpulan pengetahuan (belajar) bergantung pada jumlah kosakata yang dimilikinya.
Meningkatkan kemampuan berbahasa sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Mahasiswa Timur Tengah memiliki modal awal dengan keunggulan pada perbendaharaan bahasa Arab dan literasi yang hidup dalam lisan masyarakat dan komunitas Pemeluk Islam. Berarti, secara umum, Mahasiswa Indonesia tentu sudah menguasai dua bahasa; yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab dalam satu waktu dan satu kesempatan. Modal dari perbendaharaan kata ini dapat "dipoles lebih kilap" lagi dengan tambahan wawasan ilmiah serta wawasan global yang bersumber dari bahasa Inggris atau bahasa lain.
Wawasan pada bahasa akan meningkatkan mutu dan keindahan diksi karya ilmiah yang akan ditulis. Di antara metode peningkatan perbendaharaan kata adalah dengan membaca; aktivitas menelaah literatur. Sumber bacaan berbahasa Indonesia yang sangat dianjurkan adalah; KBBI, Tesaurus Bahasa Indonesia, surat-surat kabar online maupun cetak hingga berinteraksi dengan membiasakan diri menggunakan komunikasi verbal yang terarah.
Tips kedua, adalah terus berusaha menggeluti kegiatan-kegiatan yang bersifat keilmiahan. Kita dapat melatih diri untuk memperbaiki metode interaksi dan komunikasi dengan kawan atau kerabat dalam pergaulan sehari-hari. Di antaranya; membiasakan diri dalam menyampaikan ide-ide secara sistematis dan terarah ketika mengobrol atau menyampaikan suatu pendapat dan usulan, karena bagaimana mungkin kita dapat menyampaikan suatu opini dengan tulisan yang baik jika dalam keseharian saja kita tidak dapat berbicara “baik-baik” dengan lawan bicara kita?
Seorang sumber informasi hingga informan (penyalur informasi) juga harus pandai memainkan perannya dalam menyampaikan ataupun menerima informasi dua arah, menerima kemudian menyampaikan, sesuai dengan teori komunikasi dan informasi, informasi yang baik adalah yang tidak mengalami distorsi atau 'noise'.
Pembicara yang baik, umumnya adalah pendengar yang baik, diikuti degan kaidah umum yang berlaku, bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Dalam khazanah tradisi keilmuan Islam kita mengenal bahwa stiqatur-rawi sangat berarti dan mempengaruhi kualitas dari matan yang disampaikan. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada anggapan umum bahwa attitude tak kalah penting daripada teori scientific method itu sendiri.
Tips ketiga, pelajari cara-cara penulisan makalah yang benar, tips-tips tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik itu dari internet, dari modul maupun dari buku tentang metode menulis makalah. Tidak perlu heran dan bingung dengan perbedaan standarisasi pungtuasi yang diterapkan oleh sumber-sumber bacaan itu. Perbedaan standarisasi tulisan biasanya tidak terlalu signifikan di antara satu sumber dengan sumber yang lain.
Tips keempat, mulailah rajin menulis dari hal yang kecil dan mulai sekarang! Jika sudah ada keinginan yang kuat, untuk apa menunda-nunda lagi, dan... “Even the best, can be improved.”
Demikian Catatan Pengantar ini kami sampaikan. Sebelum mengakhiri tulisan, kami mohon maaf atas berbagai kekurangan. Meski begitu, besar harapan kami, semoga tulisan ini tetap dapat bermanfaat untuk menunjang aktifitas kajian dan diskusi kita ke depannya. Amien.
HPH
Bagian Keenam (Tambahan Pertama)
Kata Baku dan Kata Tidak Baku
Kata-kata baku adalah kata-kata standar yang sesuai dengan aturan kebahasaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa, dan kata baku sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.
Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
Kata baku sebenarnya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.
Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, atau bahasa tutur.
Tidak Baku Baku Pengertian
Abrasi Aberasi Penyimpangan dari yang umum; tidak wajar
Absorsi Absorpsi Penyerapan; penghisapan
Accu Aki Alat himpun tenaga listrik
Adap Adab Moral; etika; sopan-santun
Adegio Adagio Waktu perlahan-lahan, tetapi berekspresi tinggi
Adesi Adhesi Bersifat melekat
Adi busana Adibusana Busana yang dirancang secara ekslusif; busana kebesaran
Adi daya Adidaya Adikuasa; super power; negara amerika serikat
Adi gang Adigang Bersifat pamer kekuasaan dan kekuatan
Adi guna Adiguna Bersifat pamer kepandaian
Adi gung Adigung Bersifat pamer keluhuran atau keturunan
Adi kodrati Adikodrati Kekuatan dari tuhan
Adi luhung Adiluhung Luhur dan bermutu tinggi
Aditorium Auditorium Ruang untuk mendengarkan ceramah; ruang pertunjukan
Admin Administrator Orang yang mempunyai kemampuan memimpin dan memerintah secara baik
Adpokat Advokat Pakar hukum; pengacara
Advent Adven Kedatangan isa al-masih dalam agama kristen
Adzan Azan Seruan untuk mengerjakan salat
Afdol Afdal Lebih utama; alangkah baiknya
Agamis Agamais Orang yang beragama
Ajeg Ajek Terus-menerus secara berkala
Ajektif Adjektif Kata yang menguraikan nomina
Ajimat Azimat Yang mempunyai kesaktiannya
Akhirul kalam Akhirulkalam Penutup kata
Aktuil Aktual Bahan pembicaraan yang hangat
Alfa Alpa Lalai dari tugas atau kewajiban
Aliyah Aliah Pendidikan tingkat menengah atas
Alpha Alfa Huruf pertama abjad yunani
Amandemen Amendemen Usulan untuk mengubah rancangan undang-undang
Amben Ambin Balai-balai; tempat tidur
Ambeyen Ambeien Penyakit wasir
Ambulan Ambulans Mobil pengangkut jenazah atau penolong orang sakit
Ambulance Ambulans Mobil pengangkut jenazah atau penolong orang sakit
Amirulhaj Amirulhaji Yang memimpin jamaah haji
Amper Ampere Satuan ukuran kekuatan arus listrik
Analisa Analisis Penyelidikan atau penguraian; telaah
Anestesia Anestesi Hilang rasa pada tubuh
Anoda Anode Bagian yang bermuatan positif
Ansambel Ensambel Grup pemain musik
Antar umat beragama Antarumat beragama Antara umat beragama yang satu dengan umat beragama yang lain
Antene Antena Kawan pancar penangkap gelombang radio atau televisi
Antri Antre Menunggu giliran
Aparatur Aparat Pegawai negeri
Aplus Aplaus Tepuk tangan tanda setuju
Apostrop Apostrof Tanda penyingkat (‘); misal: ‘kan; ‘93
Apotik Apotek Tempat menjual obat atas resep dokter
Aquades Akuades Air dari hasil sulingan
Arbiter Arbitrer Sewenang-wenang; sesuka-suka
Asal-muasal Muasal Asal-usul; asal mula
Aseptor Akseptor Peserta kb
Asesori Aksesori Kelengkapan
Ashar Asar Salat pada petang hari
Astronot Astronaut Antariksawan; angkasawan; orang yang ke ruang angkasa
Atheis Ateis Paham yang tidak mempercayai tuhan
Atmosfir Atmosfer Udara yang menyelimuti bumi
Atret Ateret Kendaraan yang tergerak mundur
Audiens Audiensi Kunjungan untuk menghormati
Auliya Aulia Orang-orang suci; para wali
Autobiografi Otobiografi Buku riwayat hidup yang ditulis sendiri
Automatic Otomatis Dengan sendirinya
Automatis Otomatis Dengan sendirinya
Azas Asas Hukum dasar; dasar; landasan
Balance Balans Keseimbangan; seimbang
Baligh Balig Cukup umur
Balsem Balsam Minyak kental untuk digosokkan
Bandrol Banderol Pita cukai; daftar harga
Bangker Bungker Lubang perlindungan di dalam tanah
Bapakda Bapanda Ayah; bapak
Bapaknda Bapanda Ayah; bapak
Baqa Baka Alam kelanggengan; kekal
Barzah Barzakh Alam kubur
Batalyon Batalion Bagian dari resimen dalam kesatuan tentara
Baterei Baterai Alat himpun dan pembangkit listrik; lampu senter
Bathil Batil Batal; tidak benar; tidak sah
Bazaar Bazar Pasar amal
Belangko Blangko Surat keterangan yang belum diisi
Belender Blender Alat pelumat makanan
Bemper Bumper Besi penahan benturan pada kendaraan
Bengkoang Bengkuang Nama sejenis tumbuhan umbi yang manis
Bengkowang Bengkuang Nama sejenis tumbuhan umbi yang manis
Bensol Benzol Jenis bahan bakar; benzena
Bergajul Bargajul Pemuda nakal
Berjanji Barzanj Bacaan pujian riwayat nabi muhammad
Berterbangan Beterbangan Banyak yang terbang ke sana kemari
Bh Beha Pakaian dalam wanita penutup buah dada
Bhayangkara Bayangkara Pasukan pengawal
Bhiku Biksu Pendeta budha
Bilyar Biliar Permainan bola sodok
Bilyun Biliun Seribu miliar
Binatu Benatu Pencuci dan penyeterika pakaian; dobi
Biosfir Biosfer Bagian dari atmosfer paling rendah
Birahi Berahi Rasa cinta dengan lawan jenis yang berlebihan
Bis Bus Kendaraan angkutan manusia ukuran besar
Bisep Biseps Otot berkepala dua
Blacu Belacu Kain mori
Blantika Belantika Bisnis dalam dunia musik
Blokir Blokade Kepung; diputus hubungannya dengan luar
Bolpen Bolpoin Alat tulis bermata pena
Bolpoint Bolpoin Alat tulis bermata pena
Bombon Bobon Gula-gula; permen manis
Bonafid Bonafide Perusahaan yang berkembang dengan baik
Bongkok Bungkuk Keadaan punggung yang melengkung
Bowling Boling Olahraga menggelindingkan bola; bola gelinding
Braile Braille Cara pengajaran tulisan kepada tunanetra
Brandal Berandal Perampok yang beraksi dalam mencari mangsanya
Brangkas Brankas Lemari tempat menyimpan uang
Breidel Bredel Pencabutan izin
Brengsek Berengsek Banyak tingkah dan ulah
Brewok Bewok Berbulu cambang; bercambang
Bridel Bredel Pencabutan izin
Bromocorah Bramacorah Penjahat yang sering keluar masuk penjara; penjahat kambuhan
Bronkitis Bronkhitis Radang tenggorokan
Budeg Budek Tuli; tunarungu; lemah atau kurang pendengaran
Budget Bujet Anggaran pemasukan dan pengeluaran; rencana anggaran
Bumiputera Bumiputra Penduduk asli; pribumi
Bungalow Bungalo Tempat peristirahatan di luar kota
Cabe Cabai Lombok
Cafetaria Kafetaria Kedai makan dan minum; restoran kecil
Cap cai Capcai Nama jenis masakan cina
Cape Capai Badan terasa kurang enak; lelah
Capek Capai Badan terasa kurang enak; lelah
Cathering Katering Penyediaan makanan dan minuman; jasa boga
Cendikia Cendekia Orang cerdik pandai
Cengkeh Cengkih Bunga untuk bahan rokok
Cengkram Cengkeram Genggaman secara erat
Cengkrama Cengkerama Bersenang-senang
Centigram Sentigram Seperseratus gram
Centimeter Sentimeter Seperseratus meter
Central Sentral Di tengah-tengah; pusat
Chlor Klor Bahan pemutih dan pembunuh kuman di air; zat kimia
Cidera Cedera Sedikit luka
Cigaret Sigaret Rokok kertas tanpa penyaring; rokok putih
Cinderamata Cenderamata Tanda mata; pemberian; kenang-kenangan
Clash Kles Bentrokan; pertentangan; perselisihan
Clien Klien Penerima layanan hukum dari pengacara; pelanggan
Closet Kloset Porselin pada tempat buang air besar
Club Klab Perkumpulan; gedung pertemuan
Clurit Celurit Sabit lengkung
Cockpit Kokpit Ruang pilot atau kopilot pesawat terbang
Cocktail Koktail Minuman beralkohol bercampur es batu dan gula
Coklat Cokelat Warna seperti sawo matang
Combro Comro Nama sejenis panganan
Cru Kru Kerabat kerja
Cumulus Kumulus Awan padat yang menggumpal
Da’i Dai Pendakwah agama islam
Da’wah Dakwah Penyiaran dan penyebaran agama islam
Dajjal Dajal Pembohong besar; penghasut; penipu
Debet Debit Uang utangan yang mesti ditagih; piutang; volume air
Debitur Debitor Pihak yang mempunyai utang; penghutang
Defiasi Deviasi Penyimpangan terhadap peraturan
Degresi Digresi Pembicaraan yang menyimpang; lanturan
Dekrit Dekret Perintah presiden dalam bentuk keputusan
Deodorant Deodoran Zat penghilang bau badan
Depo Depot Rumah kecil tempat berjualan es atau rokok
Depolitisir Depolitisasi Penghapusan semua bentuk kegiatan politik
Deputy Deputi Wakil pejabat
Design Desain Rancangan; corak; pola
Despenser Dispenser Mesin saji; penyemprot
Destilasi Distilasi Proses penguapan
Detel Detail Sampai ke bagian-bagian kecil; rinci
Deterjen Detergen Bahan pencuci pakaian
Detil Detail Sampai ke bagian-bagian kecil; rinci
Deviden Dividen Bagian dari keuntungan perusahaan
Dharma Darma Ajaran atau perbuatan baik; kebajikan
Dhohir Lahir Keluar dari kandungannya; yang kelihatan dari luar
Dhoif Daif Kekuatan hukumnya lemah
Dhuhur Zhuhur Salat pada tengah siang hari; waktu tegah siang hari
Diagnosa Diagnosis Pemeriksaan untuk mengetahui jenis penyakit
Diagnose Diagnosis Pemeriksaan untuk mengetahui jenis penyakit
Dioda Diode Alat penyearah arus
Dipungkiri Dimungkiri Diingkari; tidak dibenarkan; tidak mau diakui
Disain Desain Rancangan; corak; pola
Disco Disko Irama musik pop
Diserse Desersi Pengkhianatan; pembelotan
Disersi Desersi Pengkhianatan; pembelotan
Diskotik Diskotek Gedung atau ruang berdisko
Diskripsi Deskripsi Penguraian; pemaparan; penggambaran
Dollar Dolar Mata uang amerika serikat
Domain Domein Harta benda milik negara
Donatur Donator Pemberi sumbangan; penyumbang
Dopping Doping Penggunaan obat terlarang
Dosin Lusin Satuan ukuran berjumlah dua belas
Dozen Lusin Satuan ukuran berjumlah dua belas
Dramatisir Dramatisasi Proses pendramaan; bagaikan permainan drama
Dramben Drumben Seperangkat musik genderang
Drum band Drumben Seperangkat musik genderang
Dumping Damping Penjualan barang di bawah harga untuk menguasai pasaran
Duren Durian Buah yang kulitnya berduri
Dzat Zat Bahan pembentuk benda; hakikat; unsur; wujud
Dzikir Zikir Pujian berulang-ulang untuk mengingat allah
Eksebisi Ekshibisi Pameran; pertunjukan
Eksibisi Ekshibisi Pameran; pertunjukan
Eksim Eksem Penyakit kulit yang terasa gatal-gatal
Eksport Ekspor Pengiriman sesuatu ke luar negeri
Ekstrim Ekstrem Keras dan teguh pendirian; fanatik
Ekwivalen Ekuivalen Kadarnya sebanding
Elektroda Elektrode Kutub baterai listrik; pengalir arus listrik
Elip Elips Bundar melonjong
Elit Elite Kalangan terpilih; terpandang
Empek-empek Pempek Makanan khas palembang
Engine Enjin Alat penggerak mesin; mesin
Ensiklopedia Ensiklopedi Kumpulan karya berbagai ilmu disertai penjelasannya
Ephos Epos Syair kepahlawanan; wiracarita
Episod Episode Bagian dari suatu cerita
Equivalen Ekuivalen Kadarnya sebanding
Erobatik Aerobatik Ketangkasan permainan di udara
Esen Esens Sari manis; biang
Esense Esens Sari manis; biang
Essai Esai Tulisan yang berisi pandangan penulisnya
Essay Esai Tulisan yang berisi pandangan penulisnya
Ethanol Etanol Alkohol
Export Ekspor Pengiriman sesuatu ke luar negeri
Facsimil Faksimili Mesin foto kopi jarak jauh
Faham Paham Aliran; mazhab; mengerti benar; pemikiran
Fak Vak Mata pelajaran atau mata kuliah; kepintaran khusus
Faksimil Faksimili Mesin foto kopi jarak jauh
Faksinasi Vaksinasi Pemasukan bibit penyakit ke tubuh yang dilemahkan
Fakum Vakum Kosong; hampa; tidak ada isinya
Falid Valid Tingkat kebenarannya tinggi; sahih
Familiar Familier Bersifat kekeluargaan atau kekerabatan; akrab
Famplet Pamflet Brosur; selebaran
Faqih Fakih Pakar hukum islam
Farmakop Farmakope Buku obat-obatan standar
Fas Vas Tempat wadah bunga hiasan; jambangan
Faximil Faksimili Mesin foto kopi jarak jauh
Ferri Feri Kapal penyebrangan
Fery Feri Kapal penyebrangan
Filsof Filsuf Pakar filsafat; ahli pikir
Filosof Filsuf Pakar filsafat; ahli pikir
Finish Finis Penghabisan
Fitoksoit Fitotoksoid Zat yang menimbulkan tumbuhan keracunan
Foklor Folklor Cerita rakyat dan adat istiadatnya atau ilmunya
Formil Formal Sesuai dengan aturan; resmi
Foto copy Fotokopi Mesin pengganda barang cetak atau hasilnya
Foto kopi Fotokopi Mesin pengganda barang cetak atau hasilnya
Foto studio Studio foto Studio untuk pemotretan; ruang untuk mengambil gambar
Fotosintesa Fotosintesis Pembentukan zat makanan pada tumbuhan di dalam bantuan sinar matahari
Fotosintetis Fotosintesis Pembentukan zat makanan pada tumbuhan di dalam bantuan sinar matahari
Frasa Frase Gabungan kata yang bermakna
Frekwensi Frekuensi Getaran gelombang; kekerapan
Frigit Frigid Tidak mudah terangsang; nafsu seksualnya tidak bergairah
Fron Front Garis depan pertahanan; medan laga
Frustasi Frustrasi Rasa kecewa atau putus asa karena kegagalan
Galaktose Galaktosa Gula yang masih sederhana
Galery Galeri Gedung kesenian
Galleri Galeri Gedung kesenian
Gamma Game Derajat kekontrasan film dalam fotografi
Gandewo Gandewa Busur panah
Gasal Gazal Puisi delapan larik sebaitnya
Geladi resik Geladi bersih Latihan terakhir sebelum dilaksanakan tugas
Gendewa Gandewa Busur panah
Geneaologi Genealogi Garis keturunan; silsilah
Geneologi Genealogi Garis keturunan; silsilah
Genius Jenius Kadar intelegensi tinggi
Genteng Genting Atap rumah; keadaan berbahaya atau kritis
Gep Gap Kesenjangan; jurang pemisah; perbedaan
Gepok Kepok Pisang yang biasa digoreng
Gerejani Gerejawi Bersifat gereja; kegerajaan
Geyser Geiser Mata air yang panas dan mengeluarkan uap
Ghaib Gaib Tersembunyi; terselubung
Ghoib Gaib Tersembunyi; terselubung
Gip Gips Pembalut tulang patah
Gladi Geladi Latihan; pemanasan kerja
Gladibersih Geladi bersih Latihan terakhir sebelum dilaksanakan tugas
Glamour Glamor Gemerlap; berkilauan
Glondong Gelondong Batangan kayu utuh yang besar
Glosary Glosarium Daftar kata dan penjelasannya
Glukoma Glaukoma Bular hijau pada mata
Glukose Glukosa Zat pembentuk gula; zat gula
Goa Gua Lobang besar pada batu atau gunung
Goncang Guncang Bergerak-gerak tidak tetap; goyah
Gono-gini Gana-gini Harta benda hasil kerja suami istri; kekayaan bersama suami dan istri
Grebek Gerebek Datang ramai-ramai untuk menangkap
Greget Gereget Semangat keras untuk berbuat
Grendel Gerendel Kunci pintu dari logam
Gria Griya Rumah; tempat tinggal
Grogol Gerogol Rumah-rumahan di atas sampan; pagar
Gross Gros Jumlah dua belas lusin; sama dengan 144 buah
Gudek Gudeg Masakan dari nangka muda rasa manis; masakan khas yogyakarta
Gulabit Bitgula Tumbuhan yang umbinya bisa untuk membuat gula
Hadist Hadis Sabda atau perbuatan nabi muhammad saw
Hakekat Hakikat Yang sebenar-benarnya; intisari; substansi
Hal-ihwal Hal-hal Perihal; beberapa hal
Handaitaulan Handaitulan Kerabat; keluarga
Handal Andal Tangguh; cakap; pandai
Hapal Hafal Tinggi daya ingatnya hingga dapat mengucapkan lagi; ingat di luar kepala
Hektar Hektare Satuan ukuran luas; sama dengan 10.000 m2
Hembus Embus Tiup; alunkan; memasukkan udara
Hempas Empas Jatuhkan ke tanah; banting
Hetrogen Heterogen Anekaragam; bermacam-macam
Hidrolis Hidraulis Penggeraknya tenaga air
Higiena Higiene Ilmu kesehatan
Himbau Imbau Seruan ajakan serius
Himpit Impit Desak-desakan; apit
Hingar-bingar Ingar-bingar Hiruk-pikuk; gempar
Hipermetri Hipermetropia Penyakit mata rabun dekat
Hipotesa Hipotesis Anggapan dasar yang diduga-duga
Hipotik Hipotek Surat berhutang; kredit dengan jaminan
Hipovitaminose Hipovitaminosis Penyakit akibat kekurangan vitamin
Hirarki Hierarki Tingkatan secara unit
Hiroglif Hieroglif Tulisan mesir kuna
Hisap Isap Tarikan bertenaga hawa; sedot
Honocoroko Hanacaraka Aksara jawa
Horden Gorden Kain tutup jendela atau pintu
Husada Usada Firma obat dan pengobatan; obat
Hutang Utang Uang yang dipinjam orang lain; uang pinjaman
Hybrida Hibrida Hasil kawin silang; cangkokan
Hygiene Higiene Ilmu kesehatan
Hymne Himne Nyanyian pujian
I’tibar Iktibar Pertimbangan; pengajaran
I’tikaf Iktikaf Mendekatkan diri pada tuhan di masjid
Ibtidaiyah Ibtidaiah Tingkat pendidikan sekolah dasar
Iddah Idah Masa tunggu istri bercerai selama seratus hari
Idial Ideal Sesuatu yang dicita-citakan
Idiil Ideal Sesuatu yang dicita-citakan
Idiologi Ideologi Hasil atau konsep pemikiran; paham
Ihlas Ikhlas Ketulusan hati; rela
Ijasah Ijazah Surat tanda tamat belajar
Ijin Izin Persetujuan; pengabulan
Ijma’ Ijmak Kesepakatan para ulama atas suatu masalah
Ikhwal Ihwal Perihal; hal-hal
Iklas Ikhlas Ketulusan hati; rela
Illusi Ilusi Hanya angan-angan; khayalan
Import Impor Pemasukan sesuatu dari luar negeri
Incognito Inkognito Sembunyi-sembunyi; secara menyamar
Income Inkam Pendapatan; penghasilan
Influensa Influenza Penyakit batuk; salesma
Influinza Influenza Penyakit batuk; salesma
Infra merah Inframerah Sinar matahari yang panas
Ingkarsunah sunah Inkarsunah Tidak mengakui sunah nabi muhammad
Inkar sunah Inkarsunah Tidak mengakui sunah nabi muhammad
Innalillahiwa innalillahi roji’un Innalillahi wa innalillahi rajiun Ucapan berita kematian; artinya sesungguhnya kita berasal dari allah dan kembali kepada-nya
Inpus Infus Masuknya cairan ke tubuh orang sakit melalui pembuluh darah
Instink Insting Tingkah laku yang diberikan kepada turunannya; naluri
Insyaf Insaf Sadar
Intel Intelijen Dinas rahasia; mata-mata
Intelejensi Intelegensi Tingkat kepandaian atau kecerdasan
Inteligen Intelijen Dinas rahasia; mata-mata
Inten Intens Hebat; sungguh-sungguh; bersemangat
Inter kontinental Interkontinental Antara benua yang satu dan lainnya
Intercontinental Interkontinental Antara benua yang satu dan lainnya
Interest Interes Minat; kemauan
Intermezo Intermeso Selingan; sisipan
Internist Internis Dokter penyakir dalam
Interograsi Interogasi Didengar keterangannya; pemeriksaan dengan pertanyaan
Interospeksi Introspeksi Mengoreksi kesalahan atau kekurangan diri sendiri
Interplasi Interpelasi Permintaan keterangan atas kebijaksanaan pemerintah
Interprestasi Interpretasi Penafsiran; pemahaman; pemaknaan
Introvert Introver Sikap menutup diri
Intrupsi Interupsi Penyelaan berbicara dalam pertemuan
Inventarisir Inventarisasi Pencatatan atau pendataan; barang-barang
Inzet Inset Foto; peta; atau gambar kecil pada gambar yang lebih besar
Ionosfir Ionosfer Salah satu lapisan bumi
Iradah Iradat Kehendak tuhan
Irasionil Irasional Tidak masuk akal; tidak berdasar rasio
Irodah Iradat Kehendak tuhan
Irrasional Irasional Tidak masuk akal; tidak berdasar rasio
Islamiyah Islamiah Bersifat keislaman
Isra’ Israk Perjalanan nabi muhammad dari masjidil haram ke masjidil aksa
Isteri Istri Pasangan hidup suami; wanita yang menikah; bini
Istighfar Istigfar Mohon ampunan kepada allah
Istinja’ Istinjak Membersihkan kotoran sebelum wudu
Istiqomah Istikamah Sikap kokoh dan teguh pendirian
Itali Italia Negara di eropa selatan beribu kota roma
Jadah Juadah Penganan dari ketan yang ditumbuk
Jaelangkung Jalangkung Permainan memanggil ruh
Jagad Jagat Dunia dan isinya; alam dunia
Jahiliyah Jahiliah Kebodohan; belum beradab
Jailangkung Jalangkung Permainan memanggil ruh
Jaman Zaman Waktu lalu yang menandai sesuatu; waktu ; masa
Jeep Jip Mobil bermesin kuat yang tangguh
Jejer Jajar Baris atau deret secara teratur; banjar
Jemaah Jamaah Kumpulan orang beribadah
Jemaat Jamaah Kumpulan orang beribadah
Jenasah Jenazah Jasad orang mati; mayat
Jendral Jenderal Pangkat tertinggi dalam militer
Jenius Genius Berkemampuan luar biasa dalam berpikir
Jep Jip Mobil bermesin kuat yang tangguh
Zarafah Jerapah Binatang berkaki depan lebih panjang daripada kaki depan
Jerembap Jerembab Jatuh tertelungkup
Jina Zina Persetubuhan yang tidak sah menurut hukum; senggama pria dan wanita yang bukan suami istri
Jiujitsu Jujitsu Beladiri khas jepang
Jizim Jisim Jasad; badan; tubuh; raga
Jogging Joging Lari kecil untuk menyehatkan badan
Joint Join Bergabung; ikut serta; patungan
Jor-joran Jorjoran Berlebih-lebihan saling menyaingi
Jubilum Jubileum Peringatan ulang tahun suatu peristiwa
Jungtur Junktur Titik waktu; hubungan suara
Jus Juz Bab atau bagian dalam alquran
Ka’bah Kakbah Bangunan suci kiblat umat islam
Kaabah Kakbah Bangunan suci kiblat umat islam
Kaburasi Karburasi Campurnya bahan bakar dan udara pada mesin motor
Kaburator Karburator Tempat berlangsungnya karburasi
Kaca mata Kacamata Lensa pada mata
Kadaluwarsa Kedaluwarsa Habis jangka waktunya
Kaedah Kaidah Aturan yang menjadi hukum; rumusan
Kaffah Kafah Sempurna; menyeluruh
Kahyangan Kayangan Singgasana dewa
Kakak tua Kakaktua Burung yang bisa berbicara
Kakatua Kakaktua Burung yang bisa berbicara
Kaleidioskop Kaleidoskop Aneka peristiwa; keker
Kalkarim Kalkarium Zat kapur
Kamboja Kemboja Tumbuhan berkayu lunak berbunga harum
Kameraman Kamerawan Perekam gambar
Kameramen Kamerawan Perekam gambar
Kamuplase Kamuflase Penyamaran; pegelabuhan rupa dan warna; tiwikrama
Kangguru Kanguru Binatang mirip kelinci; binatang khas australia
Kangker Kanker Penyakit tumor ganas
Kantung Kantong Saku; wadah barang; pundi-pundi
Kaos Kaus Sarung baan, kaki, dan tangan
Kasep Kasip Terlewat waktu
Katagori Kategori Dasar mengelompokkan; kriteria
Kataketis Katekis Guru agama kristen
Katalepsia Katalepsi Sulit mengembalikan otot
Katalisa Katalisis Pendayagunaan reaksi kimia
Kate Katai Pertumbuhannya tidak normal; kerdil; katik
Katholik Katolik Agama yang pemimpin tertingginya paus
Katoda Katode Sel listrik berkutub negatif
Katring Katering Penyediaan makanan dan minuman; jasa boga
Keburu Terburu Tergesa-gesa berangkat tetapi akhirnya tidak terlambat; tergesa-gesa
Kecibeling Kejibeling Daun obat penyakit batu ginjal
Kecoak Kacoak Lipas; serangga terbang
Kedele Kedelai Tumbuhan yang bijinya dibuat tempe
Keji beling Kejibeling Daun obat penyakit batu ginjal
Kekawin Kakawin Puisi jawa kuna
Kelakatu Kelekatu Anai-anai bersayap; laron
Klar Kelar Sudah beres urusannya; perkaranya sudah jelas
Kelenger Kelengar Tidak sadarkan diri; pingsan
Kelep Klep Bagian dari pompa
Kemana Ke mana Menanyakan tempat yang akan dituju
Kenalpot Knalpot Pembuangan asap kendaraan bermotor
Kendor Kendur Tidak kuat dan kencang; melemah; tidak kencang
Kenop Knop Tombol; pijatan; putaran
Kerapan Karapan Balapan sapi di madura
Kerawitan Karawitan Seni gamelan jawa
Kerdip Kedip Gerak kelopak mata; gerak menutup dan membuka mata; kelip
Kerdus Kardus Kertas tersusun tebal; karton
Kerjasama Kerja sama Kerja gabungan; kerja bareng
Kerol Krol Rambut keriting buatan
Kesturi Kasturi Tumbuhan yang daunnya untuk obat luka
Kesumah Kesuma Bunga; wanita cantik
Ketapel Katapel Kayu bercabang untuk melontarkan batu kecil
Ketawa Tertawa Ungkapan rasa senang dengan suara terkekeh-kekeh
Ketemu Bertemu Bertatap muka; berjumpa; bersua
Ketimun Mentimun Buah lalap segar
Kharisma Karisma Kemampuan menimbulkan penghormatan; kewibawaan
Khaul Kaul Niat yang dijanjikan untuk berbuat jika keinginan terkabul
Khayangan Kayangan Singgasana dewa
Kilo watt Kilowatt Satuan tenaga listrik; 1000 watt
Klemak-klemek Kelemak-kelemek Berkata pelan sambil memikir; tidak tegas
Klenger Kelengar Tidak sadarkan diri; pingsan
Klengkeng Kelengkeng Buah pohon lengkeng; burung enggang kecil
Klenik Kelenik Tidak masuk akal yang dipercayai; takhyul
Kleptomani Kleptomania Penyakit kejiwaan sehingga suka mencuri
Klop Kelop Cocok benar; sesuai; serasi; pas
Klorofil Kloropil Zat hijau daun
Kloter Keloter Kelompok terbang
Kluwak Keluak Pohon yang buahnya untuk bumbu masak
Kluwih Keluih Buah seperti sukun untuk sayur
Knop Kenop Pemukul dari karet; kancing baju tombol
Koboy Koboi Penunggang kuda
Kocar-kacir Kucar-kacir Tercerai berai; porak poranda; berantakan
Kolomnis Kolumnis Penulis kolom di media massa
Komersil Komersial Bersifat perdagangan atau mencari keuntungan
Komfirmasi Konfirmasi Penegasan atas kenyataan atau kebenaran; pembenaran
Komoditi Komoditas Barang yang bisa diperdagangkan
Komplit Komplet Lengkap segalanya; tiada berkurang
Konggres Kongres Pertemuan wakil organisasi untuk mengambil keputusan
Kongkow Kongko Omongan yang tidak berguna sambil nongkrong
Kongkret Konkret Benar-benar ada; nyata
Kongkrit Konkret Benar-benar ada; nyata
Konkrit Konkret Benar-benar ada; nyata
Konsekwen Konsekuen Patuh akan peraturan dan bertanggungjawab; taat asas
Konsleting Korsleting Terputusnya hubungan arus listrik
Kontinyu Kontinu Terus-menerus; berkesinambungan; berkelanjutan; ajek
Koordinir Koordinasi Perihal pengaturan
Korden Gorden Kain tutup jendela atau pintu
Korma Kurma Pohon palm buahnya manis; pohon dan buah khas negara-negara arab
Korp Korps Kesatuan orang banyak dalam suatu kumpulan
Kosmonot Kosmonaut Penerbang pesawat ruang angkasa; antariksawan; antronaut
Kram Keram Kejang-kejang otot
Kramat Keramat Menimbulkan kekuatan di luar kemampuan manusia; angker
Kreatifitas Kreativitas Perihal kreatif; kemampuan untuk menciptakan sesuatu
Kremi Keremi Cacing kerawit; cacing kecil
Kresek Keresek Tiruan bunyi daun kering jatuh; tas plastik
Kretek Keretek Rokok tembakaunya dicampur cengkih; rokok nonfilter
Krew Kru Kerabat kerja
Krucil Kerucil Wayang dari kayu dengan cerita panji
Kulintang Kolintang Alat musik pukul bilah bambu dari sulawesi utara
Kumpul kebo Kumpul kerbau Hidup bersama pria dan wanita tanpa ikatan sah; pasangan hidup tidak sah
Kung fu Kungfu Jenis seni beladiri
Kuno Kuna Dahulu kala
Kurnia Karunia Belas kasih tuhan; anugerah
Kusen Kosen Kerangka jendela dari kayu
Kusuma Kesuma Bunga; wanita cantik
Kwaci Kuaci Biji semangka yang dikeringkan
Kwartal Kuartal Seperempat tahun; triwulan
Kwitangsi Kuitansi Lembaran tertulis sebagai bukti penerimaan uang yang ditandatangani oleh pihak penerima
Kwitansi Kuitansi Lembaran tertulis sebagai bukti penerimaan uang yang ditandatangani oleh pihak penerima
Laba-laba Labah-labah Serangga besar berkaki delapan
Lajim Lazim Sudah biasa; umum; galib
Lamtorogung Lamtaragung Lamtara yang berpohon besar
Lapal Lafal Cara pengucapan bunyi bahasa
Lasim Lazim Sudah biasa; umum; galib
Lasykar Laskar Kelompok serdadu; pasukan perang
Laveransir Leveransir Penyedia kebutuhan
Ledeng Leding Saluran air dari pipa
Legalisir Legalisasi Pengesahan sesuai dengan peraturan
Legenda Legende Cerita rakyat zaman dulu dihubungkan dengan sejarah
Almari Lemari Tempat menyimpan baju
Lembab Lembap Sedikit basah sedikit kering
Leukimia Leukemia Penyakit kanker darah
Limfe Limfa Cairan pada jaringan limpa dan pembuluhnya
Limpha Limpa Organ tubuh di rongga perut kiri atas penghasilkan cairan pembantu pencernaan makanan dan pembersihkan darah
Linier Linear Berkaitan dengan garis
Literal Litoral Antara pantai berpasang tinggi dan rendah
Liver Lever Hati
Lobang Lubang Hang; bolong; pintu masuk sesuatu
Loby Lobi Ruang teras hotel; ruang tunggu hotel
Lohor Zhuhur Salat pada tengah siang hari; waktu tegah siang hari
Lokalisir Lokalisasi Pembatasan tempat atau lingkungan
Long march Longmars Gerak jalan jarak jauh
Longmarch Longmars Gerak jalan jarak jauh
Lontang-lantung Luntang-lantung Ke sana kemari tidak bekerja; menganggur
Losin Lusin Satuan ukuran berjumlah dua belas
Lotere Lotre Permainan berbau judi; undian
Luwak Luak Kucing hutan pemakan ayam; musang
Lux Luks Berharga mahal; mewah
Ma’af Maaf Ampun; jangan marah
Ma’fum Mafhum Sudah faham
Ma’rifat Makrifat Tingkat penyerahan diri kepada tuhan; pengetahuan
Ma’ruf Makruf Perbuatan baik; terkenal
Maag Mag Salah satu alat pencernaan; lambung
Mabok Mabuk Hilang kesadaran; amat gemar; tergila-gila
Madukoro Madukara Kain sutera benang emas
Madzab Mazhab Aliran dalam hukum fikih; paham
Maesa Mahesa Kerbau
Mafum Mafhum Sudah faham
Maghrib Magrib Waktu matahari tenggelam; waktu salat magrib
Maha esa Mahaesa Tuhan; allah
Maha kuasa Mahakuasa Amat besar kekuasaannya yakni allah
Mahabarata Mahabharata Kisah perang keluarga bharata
Mahapengasih Maha pengasih Yang mengasihi semua makhluk; allah
Mahardhika Mahardika Berbudi luhur; bangsawan; bijaksana
Mahfudz Mahfuz Yang tersembunyi dalam hati
Mahnet Magnet Besi berdaya tarik seperti listrik
Maisena Maizena Tepung jagung
Makcomblang Mak comblang Wanita perantara perjodohan
Makdum Makhdum Tuan kiai; tuan guru
Makro ekonomi Makroekonomi Ekonomi skala besar
Mala praktek Malapraktik Praktik dokter yang menyalahi kode etik
Mala-praktek Malapraktik Praktik dokter yang menyalahi kode etik
Malpraktek Malapraktik Praktik dokter yang menyalahi kode etik
Mampet Mampat Jalan airnya terhambat; tersumbat
Manager Manajer Pengelola unit kerja; pemimpin usaha kerja
Mandeg Mandek Jalan buntu; berhenti; stop
Mangkok Mangkuk Cawan porselen
Mantera Mantra Ucapan yang dapat menimbulkan kekuatan gaib
Manuskrif Manuskrip Naskah tulisan tangan
Maqam Makam Jalan yang dilalui sufi; tingkatan; kuburan
Maqom Makam Jalan yang dilalui sufi; tingkatan; kuburan
Marathon Maraton Lomba lari jarak jauh; terus-menerus tiada henti
Margarine Margarin Mentega dari minyak
Marjinal Marginal Berkitan dengan margin
Mas Emas Logam mulia
Mas kawin Maskawin Pemberian pengantin pria kepada wanita waktu menikah
Mass media Media massa Sarana komunikasi yang menyebarkan berita
Masal Massal Bersama banyak orang; melibatkan banyak orang
Matematik Matematika Ilmu bilangan atau hitung
Materai Meterai Segel; cap
Mbalelo Mbalela Melawan aturan secara terang-terangan
Mebeler Mebel Perabot rumah tangga dari kayu
Mega ton Megaton Satuan sejuta ton daya ledak
Mega watt Megawatt Satuan daya listrik sejuta watt
Melody Melodi Urutan nada musik; nyanyian; tembang
Mendam Mandam Terasa pusing akibat mabuk makanan
Mendem Mandam Terasa pusing akibat mabuk makanan
Mentari Matahari Benda angkasa yang menyinari bumi
Menterapkan Menerapkan Mempraktikkan
Menterjemahkan Menerjemahkan Mengalihkan pengertian ke bahasa lain; mengalihbahasakan
Mentertawakan Menertawakan Tertawa karena
Menthol Mentol Obat gosok tubuh bentuk kristal
Menyan Kemenyan Bahan saji-sajian; dupa bakar
Menyuci Mencuci Membersihkan dari kotoran
Meram Merem Memejamkan mata
Merk Merek Tanda pengenal hasil produksi
Merkurokrum Merkurokrom Obat luka warna merah
Mesjid Masjid Tempat sujud ketika orang islam salat
Mess Mes Rumah tempat tinggal sementara secara bersamaan; pupuk buatan
Methanol Metanol Bahan bakar dari gas alam
Metoda Metode Cara kerja
Metrei Meterai Segel; cap
Mi’raj Mikraj Perjalanan nabi muhammad dari masjidilaksa ke sidratulmuntaha
Mie Mi Makanan berbentuk tali dari tepung terigu
Mikro ekonomi Mikroekonomi Ekonomi skala kecil
Mikroba Mikrobe Makhluk kecil yang bisa dilihat dengan miskroskop; kuman
Mill ampere Miliampere Seperseribu ampere
Milyader Miliarder Orang kaya raya yang hartanya bermiliar-miliar
Milyar Miliar Seribu juta
Milyoner Miliuner Orang yang kekayaannya berjuta-juta; jutawan
Milyuner Miliuner Orang yang kekayaannya berjuta-juta; jutawan
Miopi Miopia Dapat melihat dengan baik hanya dari jarak dekat
Missi Misi Mewartakan injil; penyebaran agama kristen; utusan
Mithos Mitos Cerita gaib tentang asal-usul
Miyop Miop Dapat melihat hanya dari jarak dekat
Mobilisir Mobilisasi Pengerahan orang untuk menjadi militer; menggerakkan massa
Moderen Modern Mutakhir; yang paling baru
Monarkhi Monarki Sistem pemerintahan raja
Monopause Menopause Tidak haid lagi
Monotheis Monoteis Kepercayaan satu tuhan
Monotype Monotipe Mesin susun huruf lepas
Montage Montase Pengaturan pandangan dalam pembuatan film
Moril Moral Budi pekerti; akhlak; perbuatan baik-buruk
Moto Motto Semboyan sebagai pedoman
Mozaik Mosaik Seni dekorasi bidang
Mpu Empu Ahli membuat keris
Mu’jizat Mukjizat Kelebihan nabi dan rasul
Muadzin Muazin Penyuru azan; juru azan
Muamalah Muamalat Berurusan dengan kemasyarakatan; kemasyarakatan
Mubaligh Mubalig Penyiar dan penyebar agama islam
Mubalighoh Mubaligat Mubalig wanita
Mucikari Muncikari Induk semang perempuan lacur; germo
Mukjijat Mukjizat Kelebihan nabi dan rasul
Multi fungsi Multifungsi Banyak fungsinya
Mummi Mumi Mayat yang diawetkan dengan balsam
Muqaddimah Mukadimah Pembukaan; pendahuluan
Muqadimah Mukadimah Pembukaan; pendahuluan
Mursid Mursyid Orang yang berbakti kepada tuhan; guru agama
Mushala Musala Tempat salat
Musholah Musala Tempat salat
Musholla Musala Tempat salat
Musim penghujan Musim hujan Musim yang sering terjadi hujan
Musium Museum Gedung benda sejarah; tempat benda kuna disimpan
Mustika Mestika Batu permata mirip intan berharga mahal
Musyafir Musafir Orang bepergian jauh
Nadar Nazar Janji diri sendiri berbuat jika cita-citanya terkabul; kaul
Nadzar Nazar Janji diri sendiri berbuat jika cita-citanya terkabul; kaul
Nafas Napas Udara yang keluar dan masuk lewat hidung
Nahas Naas Celaka; malang; mendapati musibah
Nahkoda Nakhoda Kapten kapal
Nakoda Nakhoda Kapten kapal
Nampak Tampak Bisa dilihat dengan mata; kelihatan
Narkotika Narkotik Obat perangsang; obat penenang saraf
Nasehat Nasihat Saran yang membangun; anjuran baik
Neko-neko Neka-neka Aneh-aneh; nyeleneh-nyeleneh
Nenas Nanas Buah bersisik mata yang berduri
Neo-kolonialisme Neokolonialisme Paham kolonial baru
Netralisir Netralisasi Proses penetralan penawaran racun atau bisa
Netting Neting Permainan di depan net; bola menyentuh net
Netto Neto Berat bersih; penghasilan bersih
Nina bobo Ninabobo Tembang untuk menidurkan bayi
Nipas Nifas Darah dari rahim yang keluar setelah melahirkan
Nomaden Nomad Kelompok orang yang hidupnya berpindah-pindah
Nomer Nomor Angka urutan kedudukan
Non aktif Nonaktif Tidak bertugas lagi
Non indonesia Non-indonesia Bukan indonesia
Non-aktif Nonaktif Tidak bertugas lagi
Nonsen Nonsens Omong kosong; tidak ada artinya
Notulen Notula Catatan singkat hasil pertemuan
Oditorium Auditorium Ruang untuk mendengarkan ceramah; ruang pertunjukan
Okulele Ukulele Alat musik seperti gitar empat dawai
Omset Omzet Uang hasil penjualan
Ongseng Gongseng Menggoreng tanpa minyak; hanya dengan bumbu
Oplet Opelet Angkutan umum berbentuk sedan
Opostrop Apostrof Tanda penyingkat (‘); misal: ‘kan; ‘93
Orange Oranye Merah kekuningan; jingga
Orchestra Orkestra Orkes gesek
Organisir Organisasi Mengatur sesuatu hingga membentuk kesatuan; satu kesatuan
Orisinil Orisinal Masih seperti semula; belum berubah; asli
Orkhestra Orkestra Orkes gesek
Oseng-oseng Gongseng Menggoreng tanpa minyak; hanya dengan bumbu
Osmosis Osmose Tembusnya dinding sel oleh percampuran dua cairan
Otentik Autentik Asli; sah
Otopsi Autopsi Pembedahan tubuh mayat
Otto Oto Kereta tenaga mesin; mobil
Pacet Pacat Lintah darat
Padepokan Pedepokan Tempat semedi; sanggar seni
Padri Paderi Pendeta kristen atau katolik; pastur
Palem Palm Keluarga tumbuhan kelapa atau kurma
Pamfelet Pamflet Brosur; selebaran
Panca indra Pancaindera Lima indera yaitu penglihatan, pencium, pengecap, perasa, pendengar
Panembahan Penembahan Sebutan raja atau orang yang dihormati
Pangkreas Pankreas Kelenjar ludah perut
Panili Vanili Biji pengharum makanan
Panitra Panitera Pencatat dalam persidangan; penulis
Paradox Paradoks Berlawanan; bertentangan
Paragoge Parogog Penambahan huruf pada akhir kata; misal: pen menjadi pena, lamp menjadi lampu
Paramedik Paramedis Pembantu dokter
Parasit Parasut Penerjun payung; pasukan payung
Pas foto Pasfoto Ukuran foto setengah badan
Pas photo Pasfoto Ukuran foto setengah badan
Pasca panen Pascapanen Masa usai panen
Pasca-panen Pascapanen Masa usai panen
Pasport Paspor Surat keterangan bepergian ke luar negeri
Patent Paten Hak pemakaian karya sendiri; hak cipta
Pateri Patri Luluhan timah untuk menyambung besi; solder
Patriakat Patriarkat Sistem kekeluargaan garis ayah
Patrilinial Patrilineal Kekeluargaan garis ayah
Paviliyun Paviliun Bangunan tambahan samping rumah
Pavilyun Paviliun Bangunan tambahan samping rumah
Pebruari Februari Bulan kedua tahun masehi
Pedes Pedas Rasa seperti rasa lombok
Pelaminan Pelamin Tempat duduk
Peliara Pelihara Jaga dan rawat agar tetap baik
Pendopo Pendapa Bagian depan rumah; ruang luas untuk pertemuan
Pengrajin Perajin Orang yang profesinya membuat kerajinan
Perduli Peduli Peraturan
Pernis Vernis Minyak kental untuk mengilatkan benda
Philipina Filipina Negara di asia tenggara dengan ibukota manila
Phobi Fobi Rasa takut yang tidak jelas penyebabnya
Photo Foto Potret; gambar
Photo copy Fotokopi Mesin pengganda barang cetak atau hasilnya
Piara Pelihara Jaga dan rawat agar tetap baik
Piranti Peranti Bahan yang diperlukan; perlatan
Pirsawan Pemirsa Penonton televisi
Plat Flat Bangunan tingkat untuk tempat tinggal; apartemen
Plesetan Pelesetan Ragam bahasa yang sengaja dibelok-belokkan
Plesir Pelesir Bepergian keluar daerah untuk bersenang-senang
Plet Flat Bangunan tingkat untuk tempat tinggal; apartemen
Pleton Peleton Satu pasukan prajurit
Plintir Pelintir Gerak memutar
Plonco Pelonco Pengenalan dan penghayatan lingkungan baru
Plontos Pelontos Kepala dibuat tidak berambut; gundul
Polio Folio Jenis ukuran kertas
Polpen Bolpoin Alat tulis bermata pena
Pondasi Fondasi Dasar bangunan
Qalam Kalam Alat tulis; perkataan
Qasidah Kasidah Nyanyian dari arab
Qodariyah Kadariah Pandangan bahwa kehidupan manusia ditentukan sendiri oleh manusia
Qodi Kadi Hakim agama islam
Qodi Kadi Hakim agama islam
Qodiriyah Kadiriah Aliran tarikat yang didirikan abdul kadir jailani
Qolam Kalam Alat tulis; perkataan
Qolbu Kalbu Pusat perasaan batin; hati
Qomariyah Kamariah Penanggalan berdasarkan peredaran bulan
Qomat Kamat Seruan salat segera dimulai
Qona’ah Kanaah Merasa cukup menerima pemberian allah
Qori Qari Laki-laki pembaca alquran
Qoriah Qariah Wanita pembaca alquran
Qosidah Kasidah Nyanyian dari arab
Qunut Kunut Doa yang kadang-kadang dibaca salat subuh
Qur’an Quran/alquran Kitab suci umat islam
Quraisy Kuraisy Suku bangsa di arab saudi
Radio aktif Radioaktif Sinar radium dan uranium untuk pengobatan
Rajia Razia Penggerebekan pemerikasaan surat kendaraan
Raka’at Rakaat Hitungan dalam salat
Ramadhan Ramadan Bulan kesembilan dalam tahun hijrian; bulan puasa
Rangking Ranking Peringkat; pangkat; tingkat
Rangsel Ransel Tas gendong besar dari kain terpal
Ranzel Ransel Tas gendong besar dari kain terpal
Rapal Lafal Cara pengucapan bunyi bahasa
Rapih Rapi Enak dipandang mata; bersih dan teratur
Raport Rapor Buku catatan hasil belajar
Rapot Rapor Buku catatan hasil belajar
Rasia Razia Penggerebekan pemerikasaan surat kendaraan
Rasialist Rasialis Pengikut paham rasial; mempertahankan perbedaan warna kulit
Rasionil Rasional Sesuai dengan akal
Realisir Realisasi Proses menjadikan nyata
Reamur Reaumur Termometer berskala 0 sampai 80 derajat
Rebo Rabu Hari setelah selasa sebelum kamis
Regim Rezim Pemerintah yang tengah berkuasa
Rejeki Rezeki Harta benda pemberian tuhan
Rejim Rezim Pemerintah yang tengah berkuasa
Rekaat Rakaat Hitungan dalam salat
Rekruit Rekrut Pemasukan anggota baru
Relif Relief Lukisan pada candi; beda ketinggian permukaan bumi
Renaisan Renaisans Masa membangun kembali
Renaisance Renaisans Masa membangun kembali
Rengking Ranking Peringkat; pangkat; tingkat
Reptil Reptilia Binatang melata
Reservoir Reservoar Tempat simpan cadangan minyak atau air
Resiko Risiko Kemungkinan munculnya bahaya; akibat yang mungkin muncul
Respon Respons Tanggapan; jawaban
Restauran Restoran Rumah makan
Restaurant Restoran Rumah makan
Resum Resume Ringkasan; rangkuman; ikhtisar
Reumatik Rematik Nyeri otot dan sendi; penyakit tulang; encok
Rezki Rezeki Harta benda pemberian tuhan
Ridho Rida Tuhan berkenan; rela; rahmat
Riil Real Nyata; benar ada
Rilai Relai Menghubungkan dengan siaran radio atau televisi
Rile Relai Menghubungkan dengan siaran radio atau televisi
Ritme Ritma Tinggi rendahnya alunan suara; irama
Rizqi Rezeki Harta benda pemberian tuhan
Rocker Roker Pemain musik rok
Roh Ruh Badan halus; jiwa; atma
Rohaniawan Ruhaniwan Orang yang mengutamakan keruhanian
Romadhon Ramadan Bulan kesembilan dalam tahun hijrian; bulan puasa
Romadlon Ramadan Bulan kesembilan dalam tahun hijrian; bulan puasa
Romo Rama Ayah; bapak; gelar pendeta katolik
Romusha Romusa Pekerja paksa zaman jepang
Rong-rong Rongrong Merusak sedikir demi sedikti
Ronsen Rontgen Foto dengan sinar-x
Route Rute Arah jalan yang dilewati
Rubah Ubah Menjadi bentuk lain; menjadi berbeda
Ruku’ Rukuk Sikap membungkuk dalam gerakan salat
Sa’i Sai Berjalan atau lari dalam rangkaian ibadah haji; berjalan atau lari dari safa ke marwah
Sahadat Syahadat Pengakuan dan kesaksian iman islam
Sahid Syahid Orang mati karena membela agama
Sahwat Syahwat Nafsu untuk senggama; berahi
Saka guru guru Sakaguru Tiang; penyangga utama
Sakharin Sakarin Zat gula
Saklar Sakelar Alat hubungan aliran listrik; penghidup dan pemati lampu listrik
Salesma Selesma Penyakit hidung beringus; influenza; pilek
Samadi Semadi Pemusatan pikiran untuk mencari wangsit
Sambel Sambal Lauk penyedap dari cabai
Sambrero Sombrero Topi lebar di bagian tepinya
Sanawiyah Sanawiah Sekolah menengah tingkat pertama
Sangkalan Sengkalan Penulisan tahun dengan kata-kata
Sangsi Sanksi Hukuman
Sanjak Sajak Persamaan bunyi pada puisi
Sanksi Sangsi Ragu atau bimbang karena merasa kurang yakin
Sansekerta Sanskerta Bahasa sastra hindu kuna
Saos Saus Kuah penyedap makanan dari tomat
Saparila Sarsaparila Minuman segar dari akar tumbuhan
Saplemen Suplemen Tambahan untuk menggenapi
Sapta pesona Saptapesona Tujuh pesona yang ditawarkan kepada wisatawan asing
Sariawan Seriawan Penyakit mulut akibat kekurangan vitamin c
Sate Satai Potongan daging yang dipanggang dan dibumbui
Satire Satir Sindiran atau ejekan secara halus; gaya bahasa sindiran
Score Skor Jumlah angka kemenangan; hasil pertandingan
Sebab-musabab Musabab Sebab-sebab; hal-hal yang menyebabkan
Sedia kala Sediakala Seperti yang sudah-sudah; yang semula
Seign Sein Tanda; isyarat; lambang; simbol
Sekedar Sekadar Alakadarnya
Sekering Sekring Alat pengatur arus listrik
Sekolastik Skolastik Filsafat pada abad pertengahan
Sekor Skor Jumlah angka kemenangan; hasil pertandingan
Sekores Skors Pemecatan untuk waktu sementara
Sekors Skors Pemecatan untuk waktu sementara
Seksama Saksama Teliti dan cermat; tepat benar
Seksuil Seksual Berkenaan dengan jenis kelamin
Sekta Sekte Kelompok yang sepaham kepercayaannya; mazhab
Sekterian Sektarian Penganut suatu sekte; sempalan
Sekuadron Eskadron Sejumlah kapal terbang militer dalam satu kesatuan
Sekuler Sekular Bersifat bukan keagamaan
Selinder Silinder Selongsong; tabung
Selulose Selulosa Zat dinding sel tumbuhan
Semanda Semenda Ikatan keluarga karena pernikahan
Sembrono Sembrana Perbuatan yang dikerjakan sambil bermain-main; gegabah
Semedi Semadi Pemusatan pikiran untuk mencari wangsit
Sempoa Swipoa Alat hitung model cina; dekak-dekak
Sen Sein Tanda; isyarat; lambang; simbol
Senggama Sanggama Hubungan badan; hubungan kelamin; koitus; setubuh
Senikdok Sinekdoke Gaya bahasa dengan menyebut sebagian untuk seluruhnya
Senopati Senapati Panglima perang; pemimpin pasukan tempur
Sense Sinse Tabib cina
Sentausa Sentosa Terbebas dari bencana hingga tenteram dan sejahtera
Sentimentil Sentimental Sifat menyinggung perasaan
Sentra Sentral Di tengah-tengah; pusat
Sepakbor Sepatbor Tutup roda penahan kotoran
Sepanduk Spanduk Kain rentang berisi tulisan
Sepesial Spesial Khusus; istimewa
Sepesies Spesies Jenis atau macam hewan
Sepionase Spionase Kegiatan mata-mata
Sepiritus Spiritus Cairan beralkohol mudah menguap
Sepirtus Spiritus Cairan beralkohol mudah menguap
Sepon Spons Busa karet
Seprei Seprai Kain alas kasur
Serba aneka Serbaneka Beraneka macam; bermacam-macam; serba serbi
Serba neka Serbaneka Beraneka macam; bermacam-macam; serba serbi
Seruling Suling Alat musik tiup dari bambu atau plastik
Seruni Serunai Alat musik tiup dari kayu
Service Servis Jasa layanan; pelayanan
Setansa Stanza Puisi delapan larik
Seterika Setrika Logam penghapus pakaian
Setriker Striker Penyerang dalam permainan sepakbola
Sex Seks Jenis kelamin
Seyogyanya Seyogianya Sepantasnya; selayaknya
Shaf Saf Lapis; deret; jajar
Shalat Salat Sembahyangnya orang islam
Shampo Sampo Pencuci rambut
She Syekh Sebutan keturunan arab; alim ulama; kiai
Shogun Syogun Kepala negara jepang sebelum abad xx
Sholat Salat Sembahyangnya orang islam
Sie Seksi Bagian dari organisasi
Sign Sein Tanda; isyarat; lambang; simbol
Silahkan Silakan Minta dengan hormat; sudilah kiranya
Silaturohmi Silaturahmi Pertemuan untuk mempercepat persaudaraan
Silaturrahmi Silaturahmi Pertemuan untuk mempercepat persaudaraan
Simple Simpel Tidak rumit atau berbelit-belit; sederhana
Sinagog Sinagoge Rumah peribadatan orang yahudi
Sindrome Sindrom Gabungan gejala penyakit
Sinkope Sinkop Hilangnya satu suku kata atau fonem di tengah kata; misal baharu menjadi baru; bahagian menjadi bagian
Sinse Sengse Tabib cina
Sintesa Sintesis Pembentukan zat baru
Sintese Sintesis Pembentukan zat baru
Sintesis Sintetis Perihal sintesis; tiruan
Siphilis Sifilis Penyakit kelamin
Sipilis Sifilis Penyakit kelamin
Sipoa Swipoa Alat hitung model cina; dekak-dekak
Sirik Syirik Mendua atau menyekutukan tuhan
Sirine Sirene Bunyi mendengung sebagai tanda bahaya
Sirop Sirup Cairan pemanis; air gula beresens
Sistim Sistem Metode; cara; ala; model
Sitar Ziter Gitar berdawai banyak dan digesek
Siter Ziter Gitar berdawai banyak dan digesek
Siwa Syiwa Sebutan dewa perusak dunia
Skholastik Skolastik Filsafat pada abad pertengahan
Skop Sekop Alat aduk tanah atau pasir
Skore Skor Jumlah angka kemenangan; hasil pertandingan
Skorsing Skors Pemecatan untuk waktu sementara
Sky Ski Olahraga di atas salju dengan papan
Slank Slang Ragam bahasa di kalangan remaja
Slendro Selendro Irama gamelan jawa
Sleng Slang Ragam bahasa di kalangan remaja
Slenk Slang Ragam bahasa di kalangan remaja
Slinder Silinder Selongsong; tabung
Smash Smes Pukulan keras dan menolak ke arah daerah lapangan lawan
Sobat Sahabat Handaitulan; kawan; teman
Sodakoh Sedekah Pemberian kepada fakir miskin; selamatan
Sodaqoh Sedekah Pemberian kepada fakir miskin; selamatan
Sofball Sofbal Permainan olahraga dengan bola
Softball Sofbal Permainan olahraga dengan bola
Sokhib Sahib Yang memiliki; empunya; teman
Soko guru Sakaguru Tiang; penyangga utama
Sokoguru Sakaguru Tiang; penyangga utama
Solenoid Solenoide Kawat gulung batangan sulur
Sopmberero Sombrero Topi lebar di bagian tepinya
Sorban Serban Kain ikat kepala model arab
Sorga Surga Taman firdaus; tempat kebahagiaan yang abadi bagi ruh
Sosio drama Sosiodrama Drama masalah sosial
Soup Sop Sayur berkuah dengan kaldu
Souvenir Suvenir Kenang-kenangan; cenderamata; tanda mata
Spagetti Spageti Makanan utama orang italia
Spagheti Spageti Makanan utama orang italia
Spakbor Sepatbor Tutup roda penahan kotoran
Spakbort Sepatbor Tutup roda penahan kotoran
Special Spesial Khusus; istimewa
Species Spesies Jenis atau macam hewan
Speedboat Spitbot Kapal motor laju cepat
Speedbot Spitbot Kapal motor laju cepat
Sping Sfing Patung berkepala manusia, tetapi berbadan singa di mesir
Spink Sfing Patung berkepala manusia, tetapi berbadan singa di mesir
Spinx Sfing Patung berkepala manusia, tetapi berbadan singa di mesir
Spirituil Spiritual Keruhanian; kejiwaan
Spon Spons Busa karet
Spor Sepur Kereta api
Sprint Sprin Lomba lari cepat jarak dekat
Spritus Spiritus Cairan beralkohol mudah menguap
Spur Sepur Kereta api
Sreg Srek Pas dan cocok; enak di hati
Srigala Serigala Anjing kuning kelabu; anjing hutan
Stagen Setagen Kain pengikat perut wanita
Stand Stan Ruang pamer jual
Standard Standar Ukuran yang dibakukan; alat topang sepeda atau motor
Standarisasi Standardisasi Usaha membuat standar; pembakuan
Standart Standar Ukuran yang dibakukan; alat topang sepeda atau motor
Stansa Stanza Puisi delapan larik
Stater Starter Alat penghidup mesin motor
Stereotipe Stereotip Bentuk tetap tidak berubah; klise
Sticker Stiker Tulisan pada plastik untuk ditempel
Stip Setip Karet peghapus tulisan
Stir Setir Kemudi kendaraan
Stock Stok Persediaan barang
Stress Stres Tekanan jiwa
Stricker Striker Penyerang dalam permainan sepakbola
Strip Setrip Tanda pangkat pada bahu
Strok Stroke Serangan otak dibarengi kelumpuhan
Sub bab Subbab Anak bab; di bawab
Sub bagian Subbagian Di bawah bagian
Sub kontraktor Subkontraktor Kontraktor berskala kecil
Sub tropik Subtropik Iklim antara tropik panas dan sedang
Sub unit Subunit Bagian di bawah unit
Subsidair Subsider Hukum kurungan akibat tidak membayar denda
Subtansi Substansi Hakikat; yang sebenar-benarnya; inti
Subtitusi Substitusi Pengganti
Subyek Subjek Pokok pembicaraan; pelaku
Sudet Sodet Robek atau bedah agar airnya mengalir
Suhada Syuhada Mati sebab membela agama; syahid
Suiter Sweter Baju lengan panjang dari kain tebal
Suka cita Sukacita Bergembiraria; suka hati; sukaria
Sundel Sundal Perempuan nakal; perempuan jalang
Sunnah Sunah Hadis; perbuatan; kebiasaan
Sup Sop Sayur berkuah dengan kaldu
Superman Supermen Manusia super; manusia istimewa atau luar biasa
Supermasi Supremasi Kemampuan untuk menguasai
Supir Sopir Pengemudi kendaraan roda empat
Suplement Suplemen Tambahan untuk menggenapi
Sur Syur Sangat memikat hati
Surat Surah Bagian dalam alquran
Survai Survei Peninjauan lapangan untuk penelitian
Survay Survei Peninjauan lapangan untuk penelitian
Surve Survei Peninjauan lapangan untuk penelitian
Susastera Susastra Karya sastra adiluhung; seni sastra
Sutra Sutera Kain dari benang sutera
Swa sembada Swasembada Pemenuhan barang-barang kebutuhan sendiri
Syafa’at Syafaat Pertolongan dari nabi muhammad
Syah Sah Sesuai dengan hukum; tidak batal
Syahdu Sahdu Menjadikan perasaan tenang; khidmat
Syahit Syahid Orang mati karena membela agama
Syaiton Setan Ruh jahat penggoda manusia
Syaraf Saraf Urat saraf; tali rasa
Syareat Syariat Hukum islam yang harus dikerjakan dengan praktik
Syarekat Syarikat Perhimpunan; perkumpulan; rombongan
Syeikh Syekh Sebutan keturunan arab; alim ulama; kiai
Syetan Setan Ruh jahat penggoda manusia
Syi’ar Siar Penyebaran atau pemberitahuan kepada khalayak ramai
Syiar Siar Penyebaran atau pemberitahuan kepada khalayak ramai
Syrup Sirup Cairan pemanis; air gula beresens
Syubat Syubhat Kurang jelas dasar hukumnya
Syubkhat Syubhat Kurang jelas dasar hukumnya
Syurga Surga Taman firdaus; tempat kebahagiaan yang abadi bagi ruh
Ta’ala Taala Magatinggi; kata yang dipakai di belakang allah
Ta’zim Takzim Sangat sopan dan hormat; bakti
Tabligh Tablig Penyiaran dan penyebaran ajaran islam; pengajian
Tagen Setagen Kain pengikat perut wanita
Tahiyat Tahiat Salah satu doa waktu salat
Tahta Takhta Tempat raja duduk; kursi raja; singgasana
Takjim Takzim Sangat sopan dan hormat; bakti
Talek Talk Bedak halus untuk kulit tubuh
Tamzil Tamsil Misal; ibarat; umpama; ajaran cerita lama
Tangker Tanker Kapal angkutan minyak
Tape Tapai Penganan yang pemasakannya dengan ragi
Tapelak Taplak Kain alas; tutup meja
Tapi Tetapi Kata pertentangan dalam kalimat
Tarhim Tarkhim Seruan pemberitahuan di waktu subuh
Tarkim Tarkhim Seruan pemberitahuan di waktu subuh
Taruna Teruna Usia muda; pemuda; bujangan; murid bakal perwira
Tataniaga Tata niaga Pengaturan sistem perdagangan
Tatto Tato Lukisan pada anggota tubuh
Taubat Tobat Menyesal atas kesalahannya dengan minta ampun
Tauco Taoco Lauk dari kedelai
Tauge Taoge Kecambah kacang hijau
Taulada Teladan Layak atau patut ditiru; contoh yang baik
Tauladan Teladan Layak atau patut ditiru; contoh yang baik
Tawakkal Tawakal Berserah diri kepada allah
Taxi Taksi Mobil sedan angkutan umum
Team Tim Kelompok; regu
Tehnik Teknik Metode; cara kerja
Tekat Tekad Kemauan keras dengan kebulatan hati
Teke Tokek Cecak besar
Tekek Tokek Cecak besar
Telor Telur Benda yang berisi zat hidup calon makhluk
Temenggung Tumenggung Pegawai tinggi di bawah bendahara; bupati tempo dulu
Temugiring Temu giring Umbi yang dipakai untuk obat
Tentram Tenteram Keadaan aman dan damai; tenang dan bahagia
Teoritis Teoretis Berdasarkan teori; menurut teori
Tepa selira Tepaselira Bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain; toleransi
Tepekong Toapekong Patung dewa yang dipuja di kelenteng
Tepo seliro Tepaselira Bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain; toleransi
Terimakasih Terima kasih Ucapan tanda bersyukur
Terlanjur Telanjur Terlewat dari batas yang ditetapkan; kadung
Terlantar Telantar Tidak terawat dengan baik; terbengkalai
Terlentang Telentang Keadaan posisi berbaring
Terong Terung Tumbuhan yang buahnya untuk sayur
Terpedo Torpedo Senjata ledak luncur dari kapal
Tersina Terzina Puisi tiga larik
Teruwelu Terwelu Sejenis kelinci
Test Tes Ujian untuk menjajagi kemampuan; percoban
Thawaf Tawaf Berjalan tujuh kali mengitari kakbah sewaktu haji
Theater Teater Gedung pertunjukan film
Theologi Teologi Ilmu tentang ketuhanan
Thesis Tesis Tulisan ilmiah untuk meraih gelar sarjana utama; pertanyaan berdasarkan argumentasi
Thoriqoh Tarikat Cara hidup tawakal; kumpulan penuntut ilmu tasauf; jalan menuju kebenaran
Thoriqot Tarikat Cara hidup tawakal; kumpulan penuntut ilmu tasauf; jalan menuju kebenaran
Ticket Tiket Karcis tanda naik kendaraan atau menonton pertunjukan
Timun Mentimun Buah lalap segar
Tips Tip Persenan; upah; bonus
Toa pekong Toapekong Patung dewa yang dipuja di kelenteng
Toge Taoge Kecambah kacang hijau
Toladan Teladan Layak atau patut ditiru; contoh yang baik
Tolerir Toleransi Penyimpangan yang masih wajar; sikap toleransi
Tonel Tonil Sandiwara; pentas drama
Top hit Tophit Pada puncak kesuksesan
Topaz Topas Batu permata aneka warna
Toples Stoples Tabung plastik penyimpan roti
Tour Tur Perjalanan wisata; pelancong; piknik
Touris Turis Wisatawan; pelancong
Tournamen Turnamen Pertandingan olahraga memperebutkan hadiah
Trachome Trakom Penyakit mata akibat serangan virus
Tradisionil Tradisional Berpegang pada tradisi
Trakhom Trakom Penyakit mata akibat serangan virus
Trans jakarta Trans-jakarta Melintasi kota jakarta
Trapo Trafo Alat ukur tegangan listrik; transformator
Trenggiling Tenggiling Binatang bersisik menyusui yang sering menggelinding
Trengginas Terengginas Lincah, terampil, dan cekatan
Tribun Tribune Tempat duduk tinggi panggung bicara
Trilyun Triliun Dua belas nol di belakang angka
Trinale Trienale Kegiatan tiga tahunan; tiga tahunan
Tripang Teripang Binatang laut berduri warna hitam
Triplek Tripleks Papan kayu berlapis-lapis
Triplex Tripleks Papan kayu berlapis-lapis
Tritis Teritis Sekeliling rumah tempat air hujan jatuh dari genting
Trofosfir Trofosfer Lapisan terbawah permukaan bumi
Tromol Teromol Peti dari kaleng untuk merek; rem
Trophi Trofi Hadiah untuk pemenang atau juara pertandingan
Tropi Trofi Hadiah untuk pemenang atau juara pertandingan
Trotoir Trotoar Tepi jalan raya untuk pejalan kaki
Trubus Terubus Tumbuh tunasnya; tunas
Truwelu Terwelu Binatang pemakan rumput sejenis kucing; kelinci
Tsanawiyah Sanawiah Sekolah menengah tingkat pertama
Tuna netra Tunanetra Tidak dapat melihat; buta
Tungro Tungra Wereng hijau hama tanaman padi
Turbo jet Turbojet Mesin pesawat udara berturbin jet
Turnament Turnamen Pertandingan olahraga memperebutkan hadiah
Tut Tuts Tombol mesin tik; potret; piano; organ; tombol
Type Tipe Model; corak; bentuk
Ujian ulangan Ujian ulang Ujian untuk memperbaiki nilai
Ukhrowi Ukhrawi Berhubungan atau bersifat akhirat; keakhiratan
Ultra modern Ultramodern Luar biasa modernnya; modern sekali; mutakhir
Urin Urine Air kencing; air seni
Ustadz Ustaz Guru agama islam; mubalig
Vacum Vakum Kosong; hampa; tidak ada isinya
Valentin Valentine Hari kasih sayang
Vampire Vampir Kelelawar besar penghisap darah; makhluk halus yang menakutkan
Vanilli Vanili Biji pengharum makanan
Varices Varises Pelebaran pembuluh darah balik
Varitas Varietas Tanaman berbeda dari lain kelompok
Vaskuler Vaskular Perihal pembuluh darah
Vegetarian Vegetaris Manusia yang berpantang makan daging
Vermaks Vermak Pengubahan potongan atau model pakaian
Vignet Vinyet Hiasan bentuk tumbuhan rambat
Villa Vila Rumah asri di pegunungan
Yudikatif Judikatif Berkaitan dengan yang mengadili perkara; fungsi dan pelaksanaan keadilan
Yudisial Judisial Berhubungan dengan pengadilan
Yudo Judo Olahraga beladiri
Yunior Junior Muda
Yurisdiksi Jurisdiksi Berkaitan dengan hukum
Yuyitsu Jujitsu Beladiri khas jepang
Zahir Lahir Keluar dari kandungannya; yang kelihatan dari luar
Zam-zam Zamzam Mata air di mekah
Zerafah Jerapah Binatang berkaki depan lebih panjang daripada kaki depan
Zigote Zigot Perkembangan lanjut pertemuan sel jantan dan betina; sebelum menjadi embrio
Zig-zag Zigzag Berliku-liku; berkelok-kelok; berbelit-belit
Zinah Zina Persetubuhan yang tidak sah menurut hukum; senggama pria dan wanita yang bukan suami istri
Zohir Lahir Keluar dari kandungannya; yang kelihatan dari luar
Zone Zona Wilayah yang dibatasi; daerah; kawasan
Zygot Zigot Perkembangan lanjut pertemuan sel jantan dan betina; sebelum menjadi embrio
Bagian Ketujuh (Tambahan Kedua)
KATA-KATA BAHASA INDONESIA
YANG SERING SALAH DIEJA DAN DITULIS
Kata Indonesia yang sering salah dieja adalah kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sering rancu, salah dieja, memiliki standar berlainan, berubah standar, dan sering salah kaprah yang dikategorikan untuk memudahkan pencarian.
Daftar di bawah ini sebenarnya belum lengkap, jadi dapat diadakan beberapa pengembangan.
I. KATA MAJEMUK
A. Ditulis Serangkai
Kata-kata di bawah ini harus ditulis serangkai, namun terkadang salah ditulis dan dipisah menjadi dua kata.
Benar Salah
Acapkali Acap kali
Adakalanya Ada kalanya
Akhirulkalam Akhirul kalam
Alhamdulillah Alham dulillah
Astagfirullah Astag firullah
Bagaimana Bila mana
Barangkali Barang kali
Bilamana Bila mana
Bismillah Bis millah
Beasiswa Bea siswa
Belasungkawa Bela sungkawa
Bumiputra Bumi putra
Daripada Dari pada
Darmabakti Darma bakti
Darmasiswa Darma siswa
Dukacita Duka cita
Halalbihalal Halal bihalal
Hulubalang Hulu balang
Kacamata Kaca mata
Kasatmata Kasat mata
Kepada Ke pada
Keratabasa Kerata basa
Kerjasama Kerja sama
Kilometer Kilo meter
Kosakata Kosa kata
Lokakarya Loka karya
Manakala Mana kala
Manasuka Mana suka
Mangkubumi Mangku bumi
Marabahaya Mara bahaya
Matahari Mata hari
Narasumber Nara sumber
Narapidana Nara pidana
Olahraga Olah raga
Padahal Pada hal
Paramasastra Parama sastra
Pascasarjana Pasca sarjana
Peribahasa Peri bahasa
Puspawarna Puspa warna
Radioaktif Radio aktif
Sastramarga Satra marga
Saputangan Sapu tangan
Saripati Sari pati
Sebagaimana Sebagai mana
Sediakala Sedia kala
Segitiga Segi tiga
Silaturahmi Silatu rahmi
Sukacita Suka cita
Sukarela Suka rela
Sukaria Suka ria
Syahbandar Syah bandar
Titimangsa Titi mangsa
Wasalam Wa salam
Tambahan;
• Bulutangkis, bukan "bulu tangkis"
• Sepak bola, bukan "sepakbola"
I.2 PARTIKEL ‘PUN’
Partikel 'pun' kadang dipisah kadang disambung. Jika partikel 'pun' yang berpadanan dengan kata 'saja'/'juga', maka penulisannya dipisah (kabar pun, saya pun). Bentuk 'pun' yang sudah dianggap padu harus ditulis serangkai (misalnya adapun, ataupun, biarpun, meskipun, kalaupun, bagaimanapun, kendatipun, sekalipun, dll.) Berikut daftar artikel 'pun' yang digabung:
Benar Salah
Adapun Ada pun
Andaipun Andai pun
Apapun Apa pun
Ataupun Atau pun
Bagaimanapun Bagaimana pun
Biarpun Biar pun
Itupun Itu pun
Kalaupun Kalau pun
Kendatipun Kendati pun
Manapun Mana pun
Maupun Walau pun
Meskipun Meski pun
Sekalipun Sekali pun
Siapapun Siapa pun
Sungguhpun Sungguh pun
Walaupun Walau pun
Tambahan;
Khusus untuk partikel 'pun' pada "sekalipun" dapat ditulis secara terpisah karena frase 'sekali pun' dapat bermakna ’satu kali juga’, atau ‘meski satu kali’, atau ‘walau satu kali’
B. BENTUK TERIKAT
Selain itu ada pula kategori 'bentuk terikat'. Kata "antar" adalah salah satu contoh bentuk terikat yang jika digabungkan dengan bentuk dasar maka penulisannya harus disatukan. Jika diikuti dengan kata dasar, bentuk terikat ditulis tanpa jeda (spasi). Contoh bentuk terikat lain di antaranya:
• eka-, dwi-, catur-, panca-, sapta-, dasa-, dan sebagainya
• adi-, manca-, swa-, nara-, mara-, maha-, pra-, pasca-, tuna-, pro-, anti-, non-, multi-, antar-, inter-, per-, dan sebagainya.
• mala-: diserap dari bahasa Jawa Kuna yang kemudian diserap pula oleh bahasa Melayu. Bahasa Inggris juga memiliki awalan yang memiliki arti sama "mal-" namun bahasa Indonesia yang benar menggunakan awalan “mala-“
Contoh:
Kata Asli Benar Salah
Malpractice Malapraktik Malpraktik
Malfunction Malafungsi Malfungsi
Malabsorption Malaserap Malserap
Maladaption Malaadaptasi Maladaptasi
Maladjustment Malasuai Malsuai
Maldistribution Maladistribusi Maldistribusi
Malnutrition Malagizi Malgizi
Malposition Malasikap Malsikap
Tambahan;
Bentuk terikat dapat pula ditulis dengan menyertakan tanda strip (-) apabila:
• Diikuti dengan kata yang huruf pertamanya kapital, misalnya: anti-Amerika, pro-Megawati
• Diikuti dengan singkatan, misalnya: pro-PBB
• Diikuti dengan kata yang sudah berimbuhan, misalnya: pro-kemerdekaan
• Huruf-huruf yang hampir sama bunyinya
• Huruf-huruf dalam kata-kata berikut ini terkadang saling tukar-menukar
II. HURUF-HURUF YANG HAMPIR SAMA BUNYINYA
1. Huruf a menjadi e
Benar Salah
Akta Akte
Esai Esei
Frasa Frase
Kendaraan Kenderaan
Saksama Seksama
Sekadar Sekedar
2. Huruf e menjadi a
Benar Salah
Aritmetika Aritmatika
Metode Metoda
Kalender Kalendar
Kategori Katagori
Parlemen Parlamen
3. Huruf e menjadi i
Benar Salah
Antre Antri
Apotek, apoteker Apotik, apotiker
Atlet, atletik Atlit, atlitik
Atmosfir(*) Atmosfir
Desain Disain
Deskripsi Diskripsi
Kredit Kridit
Teoretis Teoritis(**)
(*) dan akhiran -ir yang lain
(**) diserap dari theoretical (bahasa Ingris)
4. Huruf i menjadi e
Benar Salah
Intelijen Intelejen
Monitor Monetor
Nasihat Nasehat
Praktik, praktikum Praktek, praktekum
Risiko Resiko
Ritsleting Retsleting
Senin Senen
5. Akhiran em/im
Benar Salah
Eksem Eksim
Ekstrem Ekstrim
Sistem Sistim
6. Akhiran et/it
Benar Salah
Debit Debet
Dekret Dekrit
Komplet Komplit
Konkret Konkrit, kongkrit
7. Kata kata yang diserap dari bahasa Belanda decreten, bukan bahasa Inggris decree
Benar Salah
Aktif Aktip, aktiv
Foto Photo
Februari Pebruari
Negatif Negatip, negativ
Objektif Objektip, obyektip, obyektif
Pasif Pasip, pasiv
Positif Positip, positiv
Subjektif Subjektip, subyektip, subyektif
Tarif Tarip
Transitif Transitip, transitiv
NB: Bandingkan dengan akhiran -iti/-itas
8. Huruf j menjadi y
Benar Salah
Objek Obyek
Objektif Obyektif, obyektip
Subjek Subyek
Subjektif Subyektif, subyektip
9. Huruf p menjadi f
Benar Salah
Paham Faham
Piker Fikir
Telepon Telefon, telfon, telpon, tilpon
Napas Nafas
Permak Vermak*
*Dari bahasa Belanda (telefoon, vermaak)
10. Huruf s menjadi z
Benar Salah
Asas
Azas
11. Huruf ua/ue/ui menjadi wa/we/wi
Benar Salah
Frekuensi
Frekwensi
Kualifikasi
Kwalifikasi
Kualitas
Kwalitas, kwalitet
Kuantitas
Kwantitas
Kuantum
Kwantum
Kuitansi
Kwitansi
12. Huruf v menjadi f/p
Benar Salah
Aktivis
Aktifis
November
Nopember
Provinsi
Propinsi
13. Huruf wa menjadi ua
Benar Salah
Jadwal
Jadual
* diserap dari bahasa Arab jadwâl
14. Huruf y menjadi j
Benar Salah
proyek
projek
15. Huruf z menjadi j
Benar Salah
Izin
Ijin
Rezeki
Rejeki
Zaman
Jaman
Zamrud
Jamrud
16. Huruf z menjadi s
Benar Salah
Ijazah
Ijasah
17. Diftong ie
Diftong ini hanya diucapkan seperti "i" dengan huruf "e" yang pelan, jadi orang kadang menafsirkan bahwa penulisannya menggunakan "i":
Benar Salah
Hierarki
Hirarki
Karier
Karir
18. Klausa -er-
Bagian kata -er- sering kali mengalami salah tulis. Meskipun dalam pengucapannya huruf "e" dalam "-er-" hanya dieja dengan pelan, namun beberapa kata penulisannya menggunakan "-er-" dan beberapa kata lainnya hanya "-r-" saja, yaitu pada gugus konsonan -dr-, -pr-, dan -tr. Kata-kata yang penulisannya menggunakan "-er-":
Benar Salah
Indera
Indra
Jenderal
Jendral
Menteri
Mentri
Terampil
Trampil
Perancis
Prancis
Sumatera
Sumatra
19. Kata-kata yang penulisannya menggunakan "-r-":
Benar Salah
Cendrawasih
Cenderawasih
Indragiri
Inderagiri
Istri
Isteri
Putra
Putera
Putri
Puteri
Samudra
Samudera
Prajurit
Perajurit
Ksatria
Kesatria
20. Konsonan ganda kh
Bagian kata -kh- hanya diucapkan seperti "k" dengan huruf "h" yang pelan, jadi orang kadang salah menulis menggunakan "k" atau "h" saja:
Benar Salah
Khafilah
Kafilah
Khawatir
Kawatir, kuatir
Khotbah
Kotbah
Makhluk
Makluk, mahluk, mahkluk
Nakhoda
Nahkoda, nakoda
21. Beberapa kata juga sering ditulis menggunakan "-kh-" padahal yang benar hanya "k" atau "h" saja:
Benar Salah
Ahli
Akhli
Karisma
Kharisma
Maksud
Mahsud, makhsud
Tahta
Takhta
Teknik
Tekhnik, tehnik
Teknologi
Tehnologi
22. Konsonan ganda ks menjadi x
Benar Salah
Ekspor
Expor, eksport
Kompleks
Komplex, komplek
Seks
Sex
Taksi
Taxi
23. Konsonan ganda t menjadi th
Benar Salah
Batin
Bathin
Katolik
Katholik
Ortografi
Orthografi
Patogen
Pathogen
Teologi
Theologi
24. Akhiran -is/-a
Umumnya berasal dari akhiran bahasa Inggris "-ize":
Benar Salah
Analisis
Analisa
Diagnosis
Diagnosa
Sintesis
Sintesa
25. Akhiran -iti/-itas
Umumnya berasal dari akhiran bahasa Inggris "-ity", beberapa menjadi akhiran "-iti", dan beberapa menjadi "-itas". Kata-kata yang penulisannya menggunakan "-iti" (lihat):
Benar Salah
Komoditi
Komoditas
Sekuriti
Sekuritas
26. Kata-kata yang penulisannya menggunakan "-as":
Benar Salah
Aktivitas
Aktiviti, aktifitas (tapi aktif, bukan aktiv*)
Komunitas
Komuniti
Realitas
Realiti, realita
Selebritas
Selebriti
Universitas
Universiti
Utilitas
Utiliti (bukan kesalahan umum)
Validitas
Validiti
serta banyak serapan bahasa Inggris berakhiran -ity lainnya
* Aturan untuk kata serapan utuh ini juga berlaku untuk kata yang diserap dari kata bahasa Inggris berakhiran -ivity seperti efektivitas, sportivitas, kreativitas, produktivitas.
III. AWALAN DI-/KE- DAN KATA DEPAN DI/KE
a. Untuk menunjuk preposisi:
Benar Salah
Di antara Diantara
Di atas Diatas
Di bawah Dibawah
Di belakang Dibelakang
Di dalam Didalam
Di depan Didepan
Di kanan Dikanan
Di kiri Di kiri
Di hadapan Dihadapan
Di mana Dimana
Di muka Dimuka
Di pusat Dipusat
Di rumah Dirumah
Di samping Disamping
Di sana Disana
Di sebelah Disebelah
Di seberang Diseberang
Di sekeliling Disekeliling
Di sekitar Disekitar
Di seluruh Diseluruh
Di sini Disini
Di situ Disitu
Di sisi Disisi
Di tanah Ditanah
Di tepi Ditepi
Di tengah Ditengah
Di tengah-tengah Ditengah-tengah
Di tiap-tiap Ditiap-tiap
Ke atas Keatas
Ke bawah Kebawah
Ke belakang Kebelakang
Ke depan Kedepan
Ke kanan Kekanan
Ke kiri Kekiri
Ke mana Kemana
Ke sana Kesana
ke samping kesamping
b. Penulisan preposisi ke- yang ditulis serangkai hanyalah untuk:
1. kepada, kemari, dan keluar (sebagai lawan kata "masuk", untuk lawan kata "ke dalam", penulisan harus dipisah, "ke luar")
2. Untuk menunjuk pada suatu bilangan ordinal, gunakan awalan 'ke-' (kedua anak ini, kelima buku itu)
3. Untuk menunjuk pada suatu bilangan kardinal, gunakan kata depan 'ke' (anak ke dua, buku ke lima)
Beberapa kata yang memiliki arti beda jika ditulis terpisah. Kata-kata ini khusus untuk kata dasar yang dapat berfungsi sebagai kata benda (penunjuk tempat) sekaligus kata kerja. Beberapa contohnya:
• Dibalik = bentuk pasif dari Membalik
• Di balik = di bagian sebaliknya
• Dikarantina = bentuk pasif dari Mengkarantina
• Di karantina = di (tempat) karantina
• Disalib = bentuk pasif dari Menyalib
• Di salib = di (atas) salib
• dan lain-lain, ditanduk v. di tanduk, ditambak v. di tambak, disel v. di sel
IV. SALAH IMBUHAN
Imbuhan dalam bahasa Indonesia kadang membingungkan bagi sebagian orang. Berikut kata-kata yang sering salah bentukan berimbuhannya:
a. Kata dasar ubah:
Baku Tidak baku
Diubah
Dirubah
Mengubah
Merubah
b. Kata dasar berawalan "c":
Baku Tidak baku
Mencolok
Menyolok
Mencintai
Menyintai
c. Kata benda dengan kata kerja:
Kata benda Kata kerja
Pelepasan
Penglepasan
Penglihatan
Pelihatan (dari dasar "kelihatan")
Permukiman
Pemukiman
Perumahan
Pengrumahan (untuk maksud dari housing maupun phk)
Persewaan
Penyewaan
V. HURUF KAPITAL
Baku Tidak baku
Anda
anda (karena merupakan kata sapaan, seperti "Bapak", "Ibu", dll)
Internet internet (lihat pula Internet)
VI. DITAMBAH SATU HURUF
Benar Salah
Embus
Hembus
Gladi
Geladi
Imbau
Himbau
Kanker
Kangker
Katolik
Katholik
Kongres
Konggres
Peduli
Perduli
Silakan
Silahkan (ingat!)
Standar
Standard
Teologi
Theologi (namun s.th. Untuk sarjana t[h]eologi)
VII. DITAMBAH TANDA PETIK TUNGGAL
Benar Salah
Jumat
Jum'at
Maaf
Ma'af
Taat
Ta'at
VIII. DIKURANG SATU HURUF
Benar Salah
Australia
Australi
Besok
Esok
Ensiklopedia
Ensiklopedi
Italia
Itali
Karena
Karna
Standardisasi
Standarisasi
IX. SAMA NAMUN BEDA (HOMOFON)
Berikut beberapa pasang kata yang bunyinya sama (homofon) atau hampir sama, namuna artinya jauh berbeda. Hati-hati dalam memilih kata-kata berikut:
• analisis (verba), analitis (adjektiva)
• hipnosis (=sugesti, nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)
• ialah (=ia adalah), adalah (=yaitu)
• pernyataan (=menyatakan sesuatu), pertanyaan (=bertanya sesuatu)
• sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)
• sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)
• tolok (=imbangan), tolak (=dorong) dalam frasa 'tolok ukur'
• ubah (=mengganti), rubah (=serigala) -- sepertinya kedua-duanya berlaku
X. ANOMALI / BELUM DIKATEGORIKAN
Benar Salah
Azan
Adzan
Bolpoin
Bolpen, pulpen
Bus
Bis
Cabe
Cabai
Hadis
Hadist
Kukuh
Kokoh
Impor
Import
Instruksi
Intruksi
Interpretasi
Interprestasi
Lembap
Lembab
Lesung pipi
Lesung pipit
Magrib
Maghrib
Masyhur
Mahsyur
Mazhab
Mahzab
Mungkir
Pungkir
Negosiasi
Negoisasi
Nekat
Nekad
Otomotif
Automotif
Pasca
Paska
Persen
Prosen
Rabu
Rebo
Ramadan
Ramadhan
Remunerisasi
Renumerisasi
Roboh
Rubuh
Salat
Shalat, sholat
Sekretaris
Seketaris, sekertaris
Sabtu
Saptu
Sontek
Contek
Sopir
Supir
Sorga
Surga, syurga
Tak acuh
Acuh
Sumber:
Sumber besar: Wikisourcre[dot]com
Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P&K Nomor 158/1987, Nomor 0543b/U/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab Latin.
Wikipedia: Pedoman penyerapan istilah.
Wikipedia: Pedoman alih aksara Arab ke Latin.
Wikipedia: Pedoman alih aksara Sirilik ke Latin.
Wikipedia: Pedoman alih aksara Tionghoa ke Latin.
Wikipedia: Perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar