Di Tepian Pantai Seri I - Petrichor
Petrichor
Di Tepian Pantai Seri. I
“Murai kecil
Kicaumu ramai usik lamunanku
Irama bersama berisik itu
Adakah pelipur lara?
Sayang nian, badai duka diri masih
tak reda
Tangis ini pun tak jua berjeda
Cerita cintaku pada Moli… sudahkah
kau tahu?
Demikianlah…
Tanpa dirinya, sempurna
kesendirianku
Karena sekian cintanya
Sekianlah cintaku”
***
Di pantai ini,
Di tepiannya,
Tujuh tahun lalu…
Amat lekat kuingat tentang gerimis di awal subuh... pada akhir
kemarau tujuh tahun lalu. Dan tentang jeda pagi selepas malam dingin di hari
itu.
Aku keluar rumah mengawali hari pertama bulan November... di saat
gelapnya malam belum sepenuhnya beranjak. Dinginnya angin sempat membuatku ragu
untuk keluar rumah, dan menjadikanku tak begitu gesit melangkah. Aku baru
leluasa mengeluarkan tangan dari kantung jaket, saat rasa dingin perlahan dapat
kuatasi. Dan aku pun dapat mengatasi keraguan langkah dan kian bersemangat berlekas
mendahului fajar yang menyingsing perlahan.
Hanya suara gemeresik dedaunan, serta gemeretak patahan ranting
yang terinjak langkah kakiku yang mengiringi perjalananku, adapun selain itu,
tak ada suara yang melebihi riuhnya deru ombak pantai di kejauhan; itu deru
ombak Pantai Serdang, pantai yang memanjang di tepian timur pulau kampung
halamanku. Pantai yang berada di bagian barat pulau Belitung dan menghadap ke
arah Selat Karimata; selat yang
memisahkan pulau Belitung dan Pulau Kalimantan.
Kulihat lingkar pelangi terbentuk menghias cakrawala di saat matahari
kian meninggi, seolah gerimis dan fajar pagi tadi adalah kata pembuka bagi
pelangi indah yang tayang kemudian. Dan awan-awan putih menyongsong, melewati
atas langit-langit kepalaku, seolah begitu tergesa-gesa ‘tuk mendekati pelangi
serta menggantikan tempat awan-awan kelabu yang belum sepenuhnya berlalu.
Aku menyaksikan pergantian satu fenomena alam ke fenomena lain pada
pagi yang tak biasa lagi, sejak hujan tengah malam hingga subuh bergerimis
penanda pergantian musim, serta awan kelabu yang mengantar gerimis pergi,
kemudian gerimis pergi yang menitipkan pelangi, titipan alam yang menyempurnakan
birunya langit hari itu; semua situasi mengiring kesan keharuan sekaligus kegembiraan
yang serta merta membuncah dari balik benakku.
Putihnya pasir pantai terbentang di depan mata saat aku melalui
jalan setapak yang dipenuhi pohon cemara… setengah berlari, bergegas menyongsong
taman cemara di tepian pantai. Langkahku kupercepat sekedar mencoba menyaingi lekasnya
awan-awan putih yang melayang beriringan di arah barat.
Kurentangkan tanganku, dan dengan penuh kegembiraan, aku pun
sesekali melompat kecil demi dapat menggapai dedaunan cemara, tetes-tetes embun
berguguran dari ranting-ranting yang bergetar akibat tepisan tanganku, air-air
sejati berhamburan membasahi ujung-ujung jari, menyempurnakan kesan segarnya pagi
itu.
Hingga ke tepian pantai saat kakiku direndam ombak nan dingin,
kuhentikan langkah dari mengejar arakan awan, dan kemudian menarik nafas dalam,
demi kelelahan... kiranya awan-awan itu memang tak kan menunggu lagi
ketertinggalan langkah kaki kecilku.
Sementara mengatur pernapasan, kuedarkan pandanganku ke sekeliling,
sekedar mencari satu dua sosok nelayan, yang barangkali sudi berbagi senyuman
di pagi ini. Mungkin pula ada pengunjung lain yang jarang-jarang datang sebelum
fajar, kemudian ikut menikmati keindahan pagi sepertiku.
Tapi tak kulihat siapa pun, kudapati sementara ini hanya aku
seorang saja di tengah-tengah luasnya area pantai berpasir putih ini, hal yang
membuat hatiku lantas kian diliputi euforia kebahagiaan.
Aku memang lebih senang mendapati diri berkesempatan meresapi
kesunyian pagi seperti ini, seorang saja. Satu hal yang barangkali tak mudah kudapati
di kesempatan lain. Kuakui, bahwa sejak awal suasana sepi seperti itulah yang
kuharapkan.
Karena aku adalah penikmat keheningan.
***
Pantai Serdang merupakan bagian dari kampung halamanku, Desa
Serdang. Pantai ini indah karena berpasir putih, namun berombak besar, airnya
keruh dan tak begitu landai. Pantai ini dikelilingi hutan cemara dan semak-semak
rumput liar yang mudah sekali meninggi. Semak-semak itu kadang menjadikan
Pantai Serdang tampak alami, namun juga terkesan tak diperhatikan. Memang tidak
seperti pantai biasa, di mana pohon cemara lebih mendominasi dari kelapa, dulu
saat jaman kolonial, Serdang pernah menjadi lahan golf yang digunakan sebagai
taman hiburan para petinggi Perusahaan Tambang Timah.
Sejak tahun delapan-puluhan, area golf resmi ditinggalkan
perusahaan dan diserahkan ke publik. Namun sejak Pantai Serdang terbuka untuk
umum, justru kian tak terawat. Tak terawatnya Pantai Serdang menyusul wan-prestasinya
perusahaan ‘Timah’ yang saat itu telah menjadi BUMN. Dibanding sebagai pantai
wisata, Pantai Serdang lebih dianggap sebagai pantai nelayan, yang oleh
sebagian penduduk lokal dijadikan tempat melabuhkan ‘kater’, perahu kecil yang
digunakan melaut, memancing ikan.
Aku kemudian memilih satu pohon cemara yang permukaan akarnya
masih agak kering dan bersih, dan duduk bersantai menunggui siang. Aku berencana
berlama-lama menikmati pemandangan laut, dan semilir angin di tepian pantai dan
hutan cemara ini, beginilah aku biasa menyisihkan waktu luangku di jeda hari
akhir pekan, liburan sekolahku.
Tak berselang setengah jam aku mengedarkan pandangan ke arah laut,
aku pun menyadari bahwa seorang lain sejak beberapa saat lalu rupanya menyusul
tiba ke pantai. Dan setelah agak lama pandangan mata kami beradu, dia
melambaikan tangan, kemudian mendekati tempatku berteduh.
Dia seorang anak perempuan seusiaku, yang senyumannya
kala itu amat kuingat... senyuman yang membuyarkan
nyamannya kesendirian yang tengah kunikmati.
Kukenang pertemuan kita waktu itu. Moli…
Kita berkenalan sekedarnya, kemudian kau mengulurkan kamera, memintaku
memotretmu. Permintaanmu; adalah foto berlatar pelangi untuk foto pertama,
kemudian memaksaku memanjat sebatang pohon demi gaya di foto kedua. Aku yang
takut ketinggian memberanikan diri memanjat demi permintaanmu. Aku mungkin
sudah agak berlebihan demi sekadar menyenangkan hati seorang yang baru kukenal.
Tak hanya demikian cerita kita. Selepas kuambil potret dirimu empat
kali, kita pun berdebat, bertengkar… hanya karena argumenku bahwa pelangi di
foto pertama tak kan terlihat di foto saat film dicuci. Aku sempat keberatan memotretmu
dengan foto berlatar pelangi, untuk foto kelima. Kukatakan percuma berfoto
mencari latar pelangi, langit pagi yang sebagian masih tertutup awan, serta kualitas
kamera kantong milikmu, adalah alasanku menyimpulkan bahwa pelangi di belakang
punggungmu tak kan terlihat.
Kau bantah pendapatku dengan angkuh.
Kau merajuk dan entah karena malu… atau tersinggung. Kau menepis
lenganku, merebut kamera, serta tak permisi dan tanpa ucapan terima kasih…
bergegas meninggalkanku pergi berlari. Kita pun tak bertemu lagi sampai
berminggu-minggu kemudian…
***
Perkenalan pertamaku dengan gadis asing yang diakhiri perdebatan
dan pertengkaran kecil… adalah kenangan lucu meski itu tak begitu mengenakkan… namun perdebatan itu adalah awal keindahan rasa yang
melengkapi keindahan kesan kenangan pada pagi yang akan selalu kuingat hingga
hari ini.
Aku baru tahu kemudian bahwa kau bukan warga keturunan yang sejak
lama tinggal di sekitar desa ini. Karena jika begitu, mungkin kau tak kan
menghampiriku, minta difoto… bahkan mungkin tak akan peduli tuk sekedar menegurku,
aku maklum bagaimana warga keturunan ‘kan memandang orang seperti kami, jelas
tak kan seperti anggapan dan perlakuan yang kuterima darimu dan dari
keluargamu. Keluargamu sedikit dari mereka yang tak pernah membedakan ‘Fanyin’
dan ‘Tongnyin’. Aku tak pernah mendengar darimu atau dari keluargamu menyebut-nyebut
dua kata itu dalam percakapan kalian, bahkan kau sepertinya pura-pura tak tau
artinya waktu kutanyakan.
Tak dapat kuungkiri bahwa sejak awal aku melihatmu… aku merasa ada
semacam kesesuaian antara kita. Ketertarikan kita berdua pada keterasingan
pantai Serdang membuat kita memilihnya menyendiri ke sana, dan saat kita
bertemu, berbincang, dan berselisih pendapat, aku merasa adanya satu hal
melengkapiku, aku seolah menemukan alter-ego ku pada dirimu, merasakan sisi
kebahagiaan yang lain saat mendengar pendapatmu yang berbeda dari pandanganku.
Tahukah kau? Bagaimanapun kurang baiknya penutup pertemuan pertama kita, pagi
bergerimis dan berpelangi hari itu adalah satu dari pagi terindah bagiku,
semata-mata karena ku bersyukur, betapa Tuhan telah menjadikan kita berjumpa…
***
“Surprise!”
Moli?!
Mengagetkan saja! Aku tak menyangka menjumpaimu kembali pada lomba
cerdas-cermat lebih dari sebulan sejak hari di Serdang. Grup sekolahmu bersaing
dengan grup sekolah kami, di mana aku dan kau menjadi utusan masing-masing
sekolah. Saat lomba hampir berakhir dengan skor yang berimbang, grup kami
menjawab lebih cepat dan menang tipis dari kelompok yang kau pimpin, entah
kenapa tombol bel di meja tim sekolahmu kulihat bermasalah.
Selepas lomba, kau menghampiriku,
“Gila! Kau rupanya?! Kekalahan kami hari ini sangat tidak adil!”
Kau setengah berteriak dan dengan raut tak senang memberi komentar negatif pada
hasil pertandingan kita dengan sinis… mengungkit faktor kemenangan sekolah kami
yang menang karena diuntungkan keadaan.
“Hei, potret yang kau ambil tempo hari sudah dicetak! Bagus sekali
hasilnya! Ayo datang ke rumahku! Kutunjukkan potretku dengan pelangi yang kau
katakan tak bisa difoto itu! Nah, di sini kau jelas-jelas salah! Dan kau
kalah!” ujarmu dengan antusias.
Aku suka cibiranmu tapi aku pun senang dengan pujianmu,
keberuntungan kami jelas telah membuatmu menyesali kekalahan kalian. Kusembunyikan
rasa senangku demi melihat rona kesal di wajahmu, kuanggap kurang beruntungnya
tim kalian di hari kedua pertemuan kita, sebagai imbalan yang cukup pantas
untuk membalas sikap aroganmu di hari pertama kita bertemu di Pantai Serdang.
Namun lebih dari riwayat persaingan dan kisah pertengkaran, sejak
hari aku berkunjung ke rumahmu… kita pun melupakan perdebatan tentang pelangi
di foto dan tombol bel yang rusak itu. Kita menjadi sahabat, keakraban kita
bahkan membuatmu dan aku menepi dari sahabat kita selama ini. Bahkan adik-adikku
yang hampir setiap hari kompak bermain denganku di pantai mengucilkanku karena
pernah kuhardik dan kuminta menjauhi kita sedang mengobrol berdua. Kau pun sependapat
denganku, tawa dan teriakan berisik serta tingkah lalu mereka amat mengganggu!
Kita sama setuju bahwa keindahan alam kan lebih leluasa dinikmati dengan diam, dan
dalam suasana tenang.
Dan betapa hanya karena begitu betah duduk berdua bersamamu saja,
aku kehilangan hobi renangku. Aku lebih senang mendengarkan fabel dari kisah
hewan-hewan, dialog-dialog benda-benda mati di alam sekitar yang kau karang
kemudian kau narasikan dan ceritakan hanya padaku dengan tanpa segan dan malu.
Itu sangat menghibur, aku setuju jika kau menganggap dirimu berbakat sebagai
sastrawan kelak. Aku betah mendengarmu banyak bicara dan kau pun nampaknya
senang bercerita padaku, karena aku adalah seorang pendengar yang baik.
Cinta? Entahlah Moli… bukankah saat itu kita baru di jenjang kelas
tiga SMP? Jujur… di sisi lain, alasan kedekatan kita pun sebenarnya ada padaku,
karena aku banyak membutuhkan bantuanmu. Aku perlu buku cetak sekolah yang tak
mampu dibelikan ayah. Tak jarang buku-mu kupinjam supaya aku lebih mudah belajar di rumah.
Aku sangat mengharapkan beasiswa sekolah di Jogja yang ditawarkan
kepala sekolah padaku.
Moli, dukunganmu amat berarti bagiku... sahabatku.
***
Jogja, lima tahun lalu…
Moli…
Ada-ada saja! Kau ingin memberiku ongkos pulang kampung?!
Aku sadar bahwa memang tak masalah bila kau menyisihkan uang dari
‘celenganmu’, dan andaipun kau sampaikan itu ke papa-mu, aku tahu orangtuamu
adalah orang-orang yang baik, keluargamu takkan merasa terbebani andai kau mengusulkan
ke mereka untuk mengirimiku ongkos pulang. Tapi untuk berbuat sejauh itu, tentu
tak sesederhana hubungan kita sebagai sahabat karib. Kau memang tak peduli apa
kata orang, tapi aku peduli, karena orang tuaku peduli… hubungan kita selama
ini telah menjadi perhatian keluargaku, pernah menjadi omongan tetangga dan
sebagian masyarakat di desa. Itulah mengapa ayah dan ibuku sangat mendukungku
sekolah merantau ke Jogja, yang salah satu alasannya ku tahu... supaya aku jauh
darimu.
Jadi maafkanlah aku menolak tawaranmu, Moli. Biarlah, aku tak
berlebaran di kampung halaman dulu. Tak perlu kau memaksakan diri untuk
membantuku mudik lebaran... tak apa kukorbankan waktu istimewa libur panjang
dengan kegiatan lain di yayasan yang menaungiku di sini.
***
Jogja, empat lalu…
“Surprise!”
Kau menyapaku bersama kabar yang nyaris tak kupercaya, keluargamu
kini muslim?! Sungguh?! Betapa keajaiban besar Moli! Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, untukmu dan
keluargamu!
Namun… ceritamu tentang orang tuamu yang terdiskriminasi karena
perpindahan agama…? Aku pun turut khawatir.
Aku hanya dapat berdoa semoga kalian tetap sabar menghadapi semua
ujian. Semua kejadian tak menyenangkan seperti itu tak lain adalah bagian dari
ujian keimanan, Moli… Hal yang lebih buruk kudengar sudah terjadi dan dialami
para muallaf sepertimu dan keluargamu… di seluruh penjuru dunia…
Dan, yakinlah bahwa rizki dari Tuhan pemilik langit dan bumi…
tujuan akhir dari mencari rizki adalah keridhan Allah dan keberkahan dari-Nya,
bukanlah pendapatan dan keuntungan. Bahkan rizki mereka yang mengucilkan
keluargamu pun tak lain adalah dari Tuhan Semesta Alam?!
Apa yang kau takutkan?
Usaha papa-mu terancam bangkrut?!
Duh, sahabatku Moli! Andai aku dapat membantu meringankan masalah
yang menderamu tentu akan kulakukan. Tapi apa daya, untuk pulang kampung pun,
ayah ibuku menanggung rasa rindu untuk tak berlebaran kali kedua dengan
anaknya, tahun ini. Betapa kejadian tahun lalu nampaknya kan terulang kembali
saat tangisku dan tangis ibu bersahut-sahutan di telepon, di malam takbiran.
***
Dua tahun lalu, di Jogja…
Moli…
Lama kita tak berkomunikasi, mengapa aku tak lagi mendapat email
darimu? Tak ada “Surprise!” darimu
lagi?
Mungkin kau punya alasan yang kau rahasiakan, atau bahkan kau
sengaja tak ingin lagi bertukar kabar dariku?! Moli… bukankah selama ini
emailku hanya sebagai jawaban atas pertanyaanmu tentang pengetahuan umum agama?
Sedang darimu, aku hanya banyak mendengar kabar dari kampung halaman, atau menjadi
curahan untuk cerita-cerita karanganmu saja. Sudah biasa bila aku tak
mengirimimu surat maupun email jika kau tak mengirimiku terlebih dahulu. Masih
serasa aneh bagiku untuk mengirim email tanpa suatu alasan atau balasan yang
kuanggap perlu, maka saat kau seakan menjaga jarak… mungkin… ada baiknya.
Mungkin juga di sana, telah hadir teman mengobrol yang lebih bisa menghibur dan
mengatasi semua kegalauan dan mendengar segala curahan hatimu, bukan teman yang
hanya bisa kau ajak komunikasi di email dan dari balik layar monitor.
Aku mengingat-ingat kembali kan beberapa hal yang belakangan kau
keluhkan dariku. Aku yang kian tak asyik diajak bercanda, tak seakrab dulu
diajak berkelakar… aku yang juga semakin enggan mengaktifkan web cam untuk
bertatap muka, dan menurutmu aku sudah tak nyaman lagi diajak berdebat dan menggosip.
Terakhir, aku memarahimu saat membaca email-mu yang berisikan kisah fiksi yang
menceritakan kampung Serdang yang tenggelam diterjang tsunami. Menurutku cerita
itu tak ada bagusnya! Moli, bijak pandailah memilih ide cerita! Kita bukan
anak-anak lagi! Bukan aku tak menghargai usahamu yang ingin menjadi sastrawan,
dan betapa kerasnya usahamu untuk menulis karya fiksi dan sedang ingin karya
itu diapresiasi... Tapi janganlah kita menempatkan karya seni di ruang hampa,
membuat cerita fiktif dengan tema yang kontroversial dan tidak sensitif
bukanlah tindakan yang bijak.
Bagaimanapun, tak mungkin kubohongi diriku sendiri. Sejak kau lama
tak menghubungiku, aku jadi kangen... aku masih merindukan cerita-cerita mu,
bahkan bersedia mendengar kabar buruk yang kau buat-buat untuk menakut-nakutiku
atau membuatku marah lagi, aku sudah lama tak berpura-pura tertawa untuk cerita
komedi yang tak lucu darimu dan bahkan cerita tragedi yang menurutku tak punya
kepekaan sosial itu.
Aku ingin mendengar lagi “Surprise!”
atau “prank” yang mengagetkan dan
kadang membuatku terlihat bodoh, aku bahkan merindukan perdebatan-perdebatan
dan argumentasi yang hampir selalu kau menangkan dan aku diamkan… Dan, sepuluh
bulan sudah, aku tak tahu kabarmu lagi.
***
Setahun lalu…
Menikah?!
Sulit kupercaya kau nyatakan itu padaku. Namun demikian tulismu di
surat yang kau kirim untuk yang pertama kalinya sejak beberapa bulan kita tak
saling bertukar kabar. Kau bahkan mengirimkan offline message berkali-kali dan menelepon melalui ketua yayasan,
menguatkan tawaran pernikahan itu. Oh, bukankah…? Lama tak menegurku dan
bertukar kabar, kau pun lalu hadir kembali menyapa hari-hariku dengan kejutan
ini?! Tapi, sekali lagi… ini bukan bercanda ‘kan, sahabatku? Sungguh, “Surprise!” ini terlalu besar untukku.
Tuhan… apakah di balik ini semua? Betapa tawaran Moli, tak dapat
kutolak namun juga tak mudah begitu saja kuterima, mengapa begitu cepat?
Mengapa tiba-tiba…? Adakah begini perasaan
umum bagi setiap manusia saat dekat dengan kenyataan masa pernikahannya? Adakah
perasaan risau seperti ini menghantui setiap manusia yang ingin mengukuhkan
salah satu status sosial terpenting dalam kehidupannya? Aku tak dapat menyikapi
situasi seperti ini dengan sedikit lebih wajar, bahkan tawaran Moli tak dapat
kujawab serta-merta, mungkin baru kujawab esok, atau lusa, atau mungkin sehari
setelahnya, atau aku harus menunggu seminggu berpikir dan merenungi, atau dua
minggu lagi… atau tiga… aih! Dadaku bergemuruh! Bagaimana bisa kau tahu rahasia
hatiku yang selama ini kusembunyikan dari dirimu!? Bagaimana kau bisa
memilihku? Banyak pertanyaan yang ingin kuungkapkan, tapi aku tak sanggup...
Tunggu saja jawabanku... Ku-kan istikharah dulu, harus kusebut
namamu di munajatku nanti malam!
***
Moli Khua, ternyata kaulah jodohku.
Surat undangan telah disebar di kampung halaman sana, dan aku kan
pulang. Menunggu jemputanmu. Alangkah cepatnya roda kehidupan ini? Takdir
terkadang sungguh aneh…
Tapi takdir kita… perjodohan kita… terlampau aneh, Moli... tentu
saja aku bahagia, namun aku juga kecewa, dan kekecewaanku ini amat beralasan!
Sejujurnya kuragukan ketulusanmu, sahabatku…
Bagaimana tidak?! Adakah aku ini hanya kau anggap sebagai
alternatif bagimu?! Atau seperti persimpangan yang ‘terpaksa’ kau pilih hanya ketika
jalan hidupmu telah menemui kebuntuan?
Ternyata pada jeda putusnya komunikasi antara kau dan aku, kau
sempat memberi cinta seorang pemuda warga keturunan… cinta yang berbalas cinta…
janjinya untuk membantu usaha papa-mu, dan ketulusannya yang menaklukkan hatimu…
menjadikanmu tak mempermasalahkan perbedaan keyakinan di antara kalian. Dan
saat ia berjanji kan menikahimu, kau percaya hingga merelakannya merebut
kehormatanmu sebelum pernikahan yang dijanjikan. Namun pernikahan yang
dijanjikan harus batal, karena pemuda itu meninggal akibat kecelakaan. Tragis
sekali!
Moli, apakah cerita dan keikhlasanmu menerima takdir ini juga
adalah juga suatu wujud cinta? Dan apakah aku harus menguatkan diri untuk
mengubah rasa kecewa menjadi suatu kepercayaan pada kejujuranmu setelah semua
kenyataan itu? Lalu jika aku tetap tak dapat tulus untuk mempercayaimu, apakah
suamimu ini kelak akan menjadi seorang yang akan mencemooh rahasia riwayat
hidup istrinya?
Tidak! Aku bersumpah kan jadi pakaianmu, karena kau pun pakaianku.
Aibmu, aib kita bersama, betapa cintamu telah kuterima dan terimalah jua
cintaku ini… semoga pernikahan kita ‘kan menjadi penutup segala kelam hari yang
lalu, dan membuka hari baru bagi masa depanmu dan aku, dan demi keluarga kita
kelak…
***
Enam bulan lalu, di sini, tak jauh
dari pantai ini. Di ruang tamu rumah kecil kami.
Aku seharusnya bersyukur…
Tiba-tiba dihanyut dilema… ada rasa penyesalan mengapa aku pulang
dan menikahi Moli, terbersit rasa merindukan Jogja lagi…
Dalam dilema ini, timbullah pikiran naif di mana... aku sadar aku telah
jumawa. Aku merasa bahwa kisah kehidupanku dan kisah Moli telah dan kan terus
sempurna, setidaknya bagiku. Tak ada wanita lain selain Moli yang pernah menaut
hatiku. Dia cinta pertama ku, teman yang tak tergantikan, kini aku dapat
menaruh harapan sebagai suaminya hingga ujung usia. Cinta kami seakan berada
pada dimensi ideal yang tak terhalang oleh ruang bahkan waktu. Menyatunya kami
dalam pernikahan pantas untuk terabadikan sebagai satu kisah cinta yang
sempurna di dunia
yang penuh ketidak-sempurnaan ini. Bahkan aku seolah dapat menentukan akhir
dari cerita kami, dengan ungkapan kalimat penutup yang indah; "bahagia di
dunia hingga ke surga." Namun aku salah... dan aku telah salah memersepsikan
dan memahami kisahku dengan Moli, sebagaimana salahnya aku memahami pilihan
ayah untuk membangun keluarga tak jauh dari tepian pantai Serdang ini, dahulu.
Ayahku bukanlah nelayan. Namun beliau tak segan menyampaikan dan
menunjukkan kecintaannya pada Pantai Serdang dan lautan pada kami bahkan semua
orang. Ayah menceritakan bahwa beliau sempat
bercita-cita menjadi sarjana perikanan dulu, namun harapannya itu pupus karena beliau
putus kuliah. Kukira karena kegagalan itu membuat ayah memilih kampung nelayan sebagai pelampiasan atas impian yang tak terwujud, di
mana kami saksikan sendiri bahwa ayah sukarela mengurus hutan cemara dan
kawasan pantai, semata kesenangannya pada laut dan alam.
Ternyata bukan... kami di sini karena ayah terpaksa harus tinggal
di sini. Saat kakek kami meninggal, hutang yang almarhum wariskan diikuti
sengketa demi sengketa tanah dan tuntutan harta di pengadilan, semua sengketa
itu berakhir pada satu solusi perdamaian; rumah tua dan sepetak tanah yang tak
begitu luas di dekat pantai Serdang, itulah tempat tinggal kami, di mana aku
dan adik-adikku dibesarkan. Sebagian besar warisan kakek telah ditukar sebidang
kecil tanah di tepian pantai Serdang milik ayah pemuda Tionghoa yang meninggal
itu, yang kalau bukan karena kecelakaan, menikah dengan Moli.
Cerita itu bertahun-tahun dirahasiakan ayah dan ibu, ayah selalu
menyampaikan ke kami bahwa pantai Serdang adalah anugerah terindah bagi
hidupnya, dan kami keluarga kecilnya melengkapi kesempurnaan itu, ayah
menyampaikan bahwa dia kan ‘menjaga pantai ini sebaik menjaga kami’. Itulah
mengapa aku juga bangga jika dulu ditanya, siapakah aku... aku tak ragu
menyebut diriku anak seorang penjaga pantai.
Adakah kami sekeluarga dan Pantai Serdang adalah alasan adanya
cinta Tuhan pada ayah dan cinta ayah yang meliputi cinta ke istri dan
anak-anaknya? Cinta itu menjadi bagian cintaku jua? Ataukah kepolosanku saat
memotret Moli yang berlatar pelangi adalah alasan betapa berharganya Pantai
Serdang bagi orang-orang sesederhana kami? Atau adakah segala fragmen kehidupan
yang terpisah-pisah itu bisa saja dihubung-hubungkan? Aku tak tau... adakah
keberadaan setiap keluarga kan senantiasa mengalami pertalian rumit seperti
antara keluargaku dan keluarga Tionghoa yang meninggal dan meninggalkan Moli? Yang
menjadikan Moli kini seakan terpaksa menikahiku. Entahlah…
Realitanya, kini aku telah bersama Moli, berumah-tangga. Dan
semata-mata permintaan ayah dan ibu, dan Moli yang setuju untuk tinggal tak
jauh dari Pantai Serdang... lima bulan lalu, rumah tua kami pun direnovasi, hampir
setengah bagiannya dibongkar dan diganti. Tempat berteduh masa kecilku dan adik-adikku
yang penuh cerita itu kini sudah kian kabur dari kenanganku, meski sebagian ruang
dan dindingnya tetap terabadikan di ingatan panjang kami…
Perlahan aku dapat mengerti mengapa ayah mengaku berbangga
mendiami daerah tepian pantai sepi ini dan menyembunyikan cerita warisan hutang
kakek kami. Karena cukuplah kebahagiaan bagi kami dengan semata menikmati keindahan
yang ada pada gemuruh gelombang, yang menyembunyikan esensi leburnya
substansi-substansi yang terlanjur terdampar ke tepian lautan ini. Begitu pula
pada fenomena perpaduan air dan pasir pada akhir perjalanannya masing-masing.
Aku belajar merenungkan hikmah kehidupan yang kujalani, berkaca pada fenomena
pantai kampung halaman kami. Adapun lebih dari itu semua, ada pada gerimis yang
dicintai seorang penikmat hujan, serta pada pelangi yang dikagumi seorang
perempuan, dan pada pantai sederhana tempat keduanya dipertemukan, merupakan
fenomena laiknya karunia Tuhan yang bahkan tak pernah kami pinta, dan tak perlu
rasanya kami berusaha menebus kebahagiaan ini di kemudian hari dengan
menawarkan ‘penderitaan’. Karena Tuhan jua yang berkuasa meminjamkan kesadaran
dan kenangan kuat di hati serta beribu kesan dan perasaan pada setiap makhluk
yang tercipta tuk saling berpasang-pasangan.
***
Suatu sore, aku dan adik-adikku diajak ayah berjalan-jalan ke tepian
pantai, sebagaimana biasa kami menikmati dinginnya ombak. Ayah berpesan… saat
tepian daratan dan tepian laut yang melebur menyatu di gurat panjang bentukan
alam pada tiap teluk dan tanjung… ada dua substansi yang dipertemukan oleh Sang
Maha Kuasa, substansi pertama adalah recahan-recahan kecil yang menyusut
terombang-ambing mengambang ke bagian lainnya, sekali waktu bagian ini meluber
tak terarah, tapi masih bersama satu gaya yang sama, lalu bagian ini disongsong
substansi kedua yang dipertahankan suatu energi, energi diam, energi yang menanggung
beban, membuat ombak laut berbalik kembali, kemudian tersembunyi dan mengendap,
sesekali mendekati lagi atau bergerak menjauhi, dan tak lagi kembali lagi
selama-lamanya… Dan segalanya terjadi semata takdir Sang Kuasa. Pasir dan
ombak-ombak itu… mendapatkan hasrat tuk bergerak seperti kita. Bintang-bintang
dan buih di lautan, rembulan dan butiran pasir tepian pantai daratan benua dan
kepulauan, begitu pula pada bumi dan matahari, semua tunduk, semua menurut,
semua sujud.
“Mereka bukanlah benda-benda yang sesungguhnya mati, air pada
gerimis dan air pada gelombang di lautan… ‘memiliki hasrat’ seperti kita,
begitu juga pasir dan batu, langit dan bumi… alam semesta semua menurut pada
hukum Tuhan yang sama, hal yang sama berlaku pada umat manusia, kita berjumpa
dan dipisahkan atas kehendak-Nya semata… hanya saja kita diberi kesempatan
untuk memilih, akankah menyimpan kenangan atas segala kesan pertemuan dan
perpisahan itu, atau memupus dan melupakan semua kesan ini atas dasar tak
setuju atau semata enggan. Dan rasa cinta dan Iman yang sudah kau miliki
sebagai kesan-kesan yang abadi, kenangan yang pasti akan engkau harapkan tetap
menemanimu hingga mati.” kata ayahku mengakhiri nasihatnya…
Kini aku menjadi seorang suami bagi satu dari miliaran wanita yang
menjadi seorang istri bagi satu dari milyaran pria! Anugerah itu laiknya bagai
gerimis pagi yang menyiramiku sesaat menjelang perjumpaan dengan Moli.
Tetes-tetes gerimis yang tak mampu terhitung… yang hanya Tuhan Maha Tahu…
betapa berharganya kesinambungan kehidupan di atas muka bumi ini, saat Dia
menganugerahi pertemuan, menakdirkan rasa persahabatan, menanamkan kecintaan,
menumbuhkan kepercayaan, maupun memutuskan untuk terjadinya perpisahan. Semua
kesan ini tak dapat dibandingkan dengan teori-teori tentang peradaban sejarah
manusia dan sejarah makhluk hidup yang konon disebutkan atas dasar persaingan mempertahankan
hidup, berkelahi demi kecintaan dan memuaskan rasa kebencian.
Tapi… Moli.
Apa maksudmu dengan membisikkan kata-kata “penyesalan pada
ketidakmampuan” pada hari pernikahan kita ini? Mengapa kau berpikir bahwa aku
masih menyesali segala yang telah berlaku pada keluargamu, padaku dan pada
kita? Pernikahan ini terasa tercedera kata-kata ‘penyesalan’ itu!
Ketidakmampuan untuk menjamin sempurnanya cerita hidup kita bukanlah suatu
dosa… Ketidakmampuan bukanlah satu hal yang harus kita sesali, dan tentang
ketidakmampuanmu untuk memberi janji di masa mendatang, apa maksudmu Moli?
Mengapa kau menangis?!
Tentu saja tak akan ada seorang pun mampu menjamin semua itu,
Moli… tak perlu kau ulang-ulang lagi kata-kata itu! Aku sudah tahu! Tapi apa
yang akan kau maksudkan dengan bicara demikian? Adakah kau sedang ingin
menyampaikan cerita menakutkan seperti kisah Tsunami di desa Serdang itu?
Kuharap kau tak banyak memikirkan tentang cerita karanganmu… Moli…
jangan kau bahas tentang tragedi dan kematian, setidaknya jangan saat ini!
Kelak saja… saat cucu pertama kita telah lahir atau… saat kita bergantian
mencabut uban masing-masing, aku tak akan keberatan tuk bertukar cerita tentang
akhir hidup sebagai bahan gurauan untuk mengomentari kerentaan usia kita saat
itu, tapi itu nanti, jangan sekarang Moli…
Jangan sekarang….
***
Moli Khua Ling Cuan, meninggal di hari ketiga November, ketika
rintik hujan mulai tekun merangkai pelangi. Belum kering air mata kami, karena
kami baru mengantarkan jasadnya ke peristirahatan terakhir tiga hari yang lalu.
Murai kecil, kau pun juga telah
dengarkan ceritaku dengannya bukan?
Qahirah, 8 September 2006
Edited;
2007 2008
2009 2010
2011 2012
2013 2014
2015 2016
2017 2018
2021
Halo
BalasHapusAssalamu`alaikum `Selamat Datang di ANNISA AHMAD LOAN COMPANY
Apakah Anda seorang investor, Pemilik Bisnis, Pengusaha, Kontraktor, Petani, Memulai e.t.c? Mungkin Anda membutuhkan dana yang baik dan aman untuk membeli properti, memperbaiki / membalikkan, memperbaiki layanan / bangunan Anda mencari tempat yang dapat menjamin Anda meminjamkan salah satu dari jumlah yang Anda butuhkan untuk menghubungi e-mail: {annisaahmadlaoncompany@gmail.com} adalah Disini untuk membantu mereka yang membutuhkan tujuan arsip keuangan mereka, kami berinvestasi di properti, proyek / bisnis dan juga memberikan 100% penawaran untuk semua jenis pinjaman berbunga rendah. Tarif, kepada orang-orang yang tertarik dari negara manapun dengan tingkat kredit apakah Anda ditolak oleh bank lain atau kreditur? Kami dapat menawarkan pinjaman yang Anda butuhkan dengan harga yang terjangkau sehingga pekerja bisnis, pria dan wanita, pekerja kantor, pengangkut, inilah kesempatan Anda untuk berinvestasi atas apa yang telah Anda rencanakan di sini adalah pinjaman untuk Anda dan investasikan dengannya, kami juga membutuhkan Layanan dari Pialang yang bisa merujuk orang yang membutuhkan bantuan keuangan dan kami membayar setiap bulan untuk layanan Anda menghubungi kami melalui e-mail di bawah ini jika Anda tertarik dengan pinjaman atau persyaratan. Investor
Email: {annisaahmadlaoncompany@gmail.com} Anda juga bisa menghubungi kami dengan cara BBM pin (DB5121C1) kejujuran kepercayaan dalam pelayanan kami
Assalamu`alaikum wr wb,