Etos Kerja Saat Puasa
Written by H.P. Hasido*
Puasa, terutama puasa wajib di Bulan Ramadhan, jelas menduduki porsi istimewa dalam agama Islam, karena Allah memberikan penghargaan terbesar pada orang yang mengerjakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan dengan janji pahala tak terhingga. Namun, dapat saja menjadi pertanyaan saat rasa lapar adalah salah satu penyebab lemahnya etos kerja seseorang, bahkan mengganggu kesehatan. Anggapan ini dapat dibenarkan, karena nyata bahwa seluruh asupan gizi yang dibutuhkan manusia sebagian besar didapatkan dari apa yang manusia makan dan minum. Akan tetapi, di samping asupan gizi, dari makanan dan minuman pula, justru racun dan bakteri masuk ke dalam tubuh manusia lewat apa yang mereka konsumsi. Tentu saja berpuasa yang mengganggu kesehatan adalah saat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi saat pemenuhan gizi itu dibutuhkan. Namun, sebenarnya kebutuhan gizi per hari juga sudah tergantikan dengan adanya syariat sahur dan buka, secukupnya.
Jelas bahwa berpuasa tak hanya menahan lapar, menahan lapar dalam banyak kondisi memang menjadikan energi yang ada dalam tubuh melemah. Keadaan tubuh yang melemah menjadi salah satu sebab utama dari melemahnya etos kerja dan menurunnya kuantitas maupun kualitas dalam beraktifitas. Puasa sebagai salah satu aktifitas menahan lapar dan dahaga memang sering dijadikan justifikasi dari rasa kurang bergairah atau nggak mood. Padahal, rasa kenyang juga tak menjamin bahwa kebutuhan tubuh akan energi telah terpenuhi, karena rasa kenyang juga menurunkan beberapa fungsi organ tubuh manusia. Misalnya, karbohidrat adalah zat yang setelah dikonsumsi akan berbentuk kalori, namun kalori juga kemudian membentuk gula dalam darah yang jika meningkat tak terkendali akan berefek pada ketidakstabilan insulin pada tubuh, berikut juga kalori yang tidak terpakai akan menjadi lemak tubuh yang tidak baik bagi kesehatan.
Ahli kesehatan juga telah melakukan penelitian bahwa makan, minum dan berhubungan seks berlebihan tidak dapat membantu seseorang untuk melakukan pekerjaan dan aktifitasnya lebih baik, namun justru dapat menurunkan produktifitasnya. Energi dan produktifitas tidak senantiasa segaris dengan kebutuhan konsumsi jasmani. Justru banyak dari terlalu banyak menuruti kebutuhan jasmani lah yang mejadikan seseorang sulit membedakan mana yang menjadi kebutuhan-kebutuhan jasmani yang sebenarnya dia perlukan dan mana yang sebenarnya sekedar pemenuhan syahwat belaka.
Banyak dari orientalis maupun kalangan non-muslim yang berpandangan negatif terhadap Islam menilai bahwa puasa dalam hal ini (puasa di bulan Ramadhan) menurunkan produktifitas Umat Islam. Namun statemen tersebut kian hari kian lemah. Sejarah panjang Umat Islam membuktikan bahwa justru di bulan Ramadhan, catatan prestasi gemilang umat Islam malah terjadi. Bulan Ramadhan sama sekali tidak memandulkan produktifitas kerja. Di antara prestasi tersebut; kemenangan Rasulullah dan para sahabat di Perang Badar, penaklukan kota Mekah, kemenangan besar Islam di Spanyol juga terjadi di bulan Ramadhan, perang Salib dan kesuksesan melawan Tartar. Bahkan, bangsa Indonesia, setelah terjajah selama tiga ratus tahun lebih oleh VOC dan Belanda pun merayakan suksesi kemerdekaan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada hari Jumat 9 Ramadhan 1364 H. Yang konon penetapan tanggal kemerdekaan Indonesia pun adalah hasil rembuk para tokoh nasional saat itu (Soekarno dll) dengan para ulama, hingga ditetapkanlah tanggal 17 sebagaimana tanggal turunnya Al Quran pada tanggal 17 Ramadhan. Semua ini adalah wujud dari maksimalisasi produktifitas dan etos kerja Umat Islam.
Masisir (Mahasiswa dan Pelajar di Mesir) adalah dunia aktifis pelajar, banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran yang diikuti Masisir. Di samping sebagai pelajar, setiap masisir bisa jadi juga seorang organisatoris, aktifis kebudayaan, maupun pebisnis. Sedangkan di sisi lain, pada Bulan Ramadhan, Masisir adalah pelajar Islam yang tentunya banyak dari mahasiswa di sini yang memilih untuk lebih memusatkan perhatian mereka pada apa yang telah benar-benar dianjurkan Rasulullah di bulan Ramadhan, yaitu maksimalisasi ibadah.
Namun maksimalisasi ibadah justru juga tidak bisa dipisahkan dari maksimalisasi produktivitas diri (muamalat) yang seolah tidak termasuk dalam hal-hal ibadat. Profesionalisme masisir dalam menjalani aktifitas kesehariannya di Bulan Ramadhan dirasa perlu diperjelas lagi. Di antaranya, adanya dualisme dalam memahami kegiatan sehari-hari yang berbentuk ibadah dan pekerjaan yang bukan ibadah, yang masih menjadi tolak ukur sebagian dari kita dalam memilah-milah aktifitas. Katakanlah, banyak dari kita yang membedakan antara muhasabah diri dan berdzikir dengan masuk dalam sebuah kepanitiaan dalam sebuah kegiatan pesantren kilat, lalu berkesimpulan bahwa dzikir dan muhasabah diri lebih utama, atau contoh lainnya.
Padahal dari banyak contoh dari kegemilangan umat Islam sebagaimana yang disebutkan di atas adalah kegemilangan duniawi yang tentu saja bernilai ukhrawi bila diniatkan ibadah. Seperti Ghazwah Badar, adalah perang bila dilihat dari jenis aktifitasnya, namun eksistensinya, perang Badar adalah satu contoh dari jenis jihad terbesar seorang muslim. Begitu juga dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang seakan lebih didominasi semangat nasionalisme, namun, husnudzon kita, tentu saja para 'shoimiin'; Soekarno maupun Mohamad Hatta serta para tokoh kemerdekaan lainnya di malam proklamasi, bersahur bersama di rumah laksamana Maeda sembari mempersiapkan pembacaan proklamasi esoknya.
Selasa, 09 Oktober 2007
Komentar
Posting Komentar