Parmin Dari Lembah Saqor

Kisah beginian berasal dari dunia Kang Aow…

Eng ing eeeeng!

Seorang pria berbadan raksasa terkapar, setelah terkena tapak sakti pukulan maut, jurus seorang pendekar muda yang ngak pernah dikenal di dunia persilatan.

‘Tapak Sakti Abul-Haul’, begitu nama jurus itu, pukulan yang baru saja dikerahkan si jagoan muda itu membuat lutut kokoh si kekar tak mampu lagi menahan badannya yang tegap. Begitu juga dengan siku-siku tangannya yang besar, seluruh urat nadi terasa putus dan tak berfungsi. Keringat merembes basahi badan, panas dingin…. Ia megangin dadanya yang membiru, terlihat jelas warna biru itu bekas telapak tangan.

Dengan tersengal-sengal ia mohon ampun pada pendekar muda dengan menyembah-nyembah kakinya sambil menyemir sepatunya(?).

“Ampuun pendekaaaar… Ma’alesy kalau ane tadi sempet gangguin pendekar, nyoba nyopeng dompet tuan, ane kapok booo'!” kata lelaki kekar dengan manja

(idih? Kekar-kekar, ternyata banci?!).

“Ehem, Ini pelajaran dari saya agar jangan jadi haramy lagi, carilah pekerjaan halal, paham?!” ujar pendekar muda itu dengan gagahnya.

“Ane paham pendekar, ane paham! Hiks hiks…” lelaki kekar itu cepat-cepat menjawab.

“Baiklah, untuk saat ini kuampuni... asal, jangan sampai diulangi perbuatan itu, sekarang baru tau khan akibatnya?” ujar pendekar yang ngak tampan itu, dengan penuh wibawa.

“Iya pendekar… terima kasih udah maafin… hiks, hiks…” pencopet kekar itu merintih, menahan sesak.

“Simpan saja kata-kataku tadi di ingatanmu sebagai pelajaran… rasa sakit itu akan sembuh sendiri, itu baru seperempat tenaga dalamku kok” ujar sang pendekar sambil beranjak pergi meninggalkan si kekar yang masih terbaring. Sang pendekar berlalu, langkahnya diiringi tiupan angin yang mengibar-ngibarkan jubah putihnya, pedang yang terselip di punggungnya tersingkap, nampak mengkilap diterpa sinar matahari.

“Wow kereen…!” si kekar kagum…

“Pendekar!” ia memanggil sang pendekar dari kejauhan.

“Apa lagi?!” pemuda gagah menoleh dengan tatapan tajam matanya.

 

“Namaku Gamal… kalau boleh tau, nama situ siapa?” Ujar si kekar, ragu-ragu.

“Apalah arti sebuah nama, tapi, daripada bikin penasaran, sebut saja aku Parmin Dari Lembah Saqr!” jawab pendekar muda sambil mengerahkan ginkang nya, sekelebat kemudian ia udah menghilang.

“Parmin Dari lembah Saqr… wow, kereeeen…” bisik si kekar itu, lalu pingsan.

***

“Hey… ssstt, Parmin, bangun! Udah jam sembilan tuh!”

Suara Rajab membangunkan Parmin yang sudah tiga jam tertidur di depan monitor. Semalaman Parmin cuma memelototi serial Kung Fu ‘Ko Ping Ho’, wajahnya kusut, rambutnya awut-awutan, tak hanya karena mengantuk, bawaan hatinya memang lagi suntuk sejak kemaren. Gara-gara haramy (maling alias copet) sialan di bis kemaren sore! Malang bagi Parmin, pencopet itu kabur tanpa dapat dikejarnya. Dua ratusan pound berikut kartu nama teman-teman dan para relasi bisnisnya lenyap! Ngak cuma itu, kartu ATM, sejumlah uang lembar seribuan kenang-kenangan dari Indo juga ludes, sandalnya hilang sebelah dan kepalanya benjol ketubruk tiang karena meloncat dari mobil dan disambut tiang lampu. Kernet bis yang tak tau masalah tiba-tiba meneriakinya, menuduh Parmin mau kabur karena nga mau bayar karcis. Mendengar kernetnya ngomel, ammu supir pun ikut-ikutan memaki-maki, mengutuk Wallahi... bagi yang ngak bayar karcis mudah-mudahan dihajar keledai!

Tukang bikyah (barang bekas) yang berada si sisi bis seolah tak mau ketinggalan, ikut marah-marah, tak tau sebabnya apa…. di seberang jalan, penjual isy (roti) pun marah-marah, berteriak-teriak pada Parmin karena rotinya jatuh berbarengan dengan Parmin yang kejedot tiang (bah?! apa hubungannya?!)

Parmin sadar, dompet yang raib bersama pencopet itu takkan kembali dengan mudah ke tangannya. Padahal, dompet itu warisan dari bapak tiri kakeknya! Terbuat dari kulit kambing asal Pulau Komodo, yang menjadikan dompet itu begitu berharga adalah, karena itu kambing generasi terakhir yang ada di pulau komodo. Dompet itu tak lain adalah juga saksi sejarah, bahwa Belanda pernah membuang seorang pejuang kemerdekaan ke pulau komodo dan Belanda memaksanya menjadi pengrajin kulit kambing!

Haramy sialan! Umpat hati Parmin untuk kesekian kali. Menyesal karena pengalaman indah sebagai pendekar dari lembah Saqr satu menit yang lalu itu ternyata cuma mimpi. Coba kalau beneran… ehm…. Tentu udah dapat dikejarnya haramy itu dengan ginkang ilmu peringan tubuh mirip pendekar Pulau Es yang sakti luar biasa. Lalu dirubuhkannya dengan ‘Tendangan Raja Singa’, atau ‘Pukulan Norton Anti Virus!’.

 

Haramy sialan! Batinnya mengumpat lagi, dan…andai ia punya jurus itu! Jurus pukulan ‘Tapak Abul-Haul!’ yang dapat membuat si korban bad sector, lalu lumpuh sehari-semalam! Ah kalau saja…

Ah?! Parmin ingat sesuatu!

“GAMAL… GAMAL SIALAAAAAN!!!” Parmin berteriak sekuat tenaga, tiba-tiba, mencak-mencak tonjok sana, tonjok sini.

“YAA! ADA APA MAAAN?!” sebuah kepala muncul dari balik selimut, dan matanya masih merah mengantuk.

“Oh… eh… uff…?! Ngak ada pa-pa kok Mas Jamal…Anu aja, tadi saya anu… jadi anu… maaf deh mas anu… saya anu… ” Parmin tergagap-gagap salah tingkah, nyengir kuda.

“Pagi-pagi begini kamu teriak-teriak Man, aneh-aneh saja…. Jangan bertingkah macam-macam!!! bikin emosi aja...” orang yang dipanggil  Mas Jamal itu kembali menyembunyikan kepalanya ke balik selimut, kembali tidur menahan kesal.

“Iya mas… maaf...” Parmin manggut-manggut. Ustadz yang sangat disegani Parmin ini seniornya di fakultas ushul, satu tingkat di atasnya, delapan tahun lebih tua dari umur Parmin. Dan udah enam tahun di negeri kangguru ini, eh, maksudnya… negeri Kinanah ini…

Rajab yang menyaksikan semua keanehan baru saja, hanya mengangkat bahunya, tersenyum getir setelah sebelumnya sempat tegang. Mas Jamal yang kurus dan kurang gizi seperti itu kalau marah bisa jantungan. Dia tak mau seniornya itu meninggal di tanah rantau dan mati penasaran....

“Ufh, aneh-aneh aja… masih mimpi ente, Min? Matikan komputerku dong kalau habis dipakai, jangan ditinggal tidur!” ujar Rajab kemudian, sambil berlalu ke kamar mandi.

Parmin pun kembali terpekur dengan pikirannya sendiri. “Ah, andai akulah Sin Liong itu…” katanya pelan sambil mengerahkan tenaga dengan memperagakan gerakan Tai-Chi mirip Jet Lee dan…

Tuuuut!

Ia kentut.

Upst!

***

Dua hari kemudian…

Di jalan distrik 10 Nasr City...

 

“Haraamy! Haraaaamyy!” teriakan yang ngak wajar terdengar datang dari bis warna biru yang datang menyusul di belakang el-tramco, pemuda jangkung terpongoh-pongoh berlari keluar sekuat tenaga diikuti teriakan orang-orang menudingnya.

Seorang berkulit sawo busuk, bertubuh pendek, berjaket merah muda dan bercelana kain, selang beberapa saat lalu hanya mematung kedinginginan di bangku mahattah (halte) menyipitkan mata dan mengerutkan kening menyaksikan itu semua.

Ia lalu berdiri dengan penuh semangat.

“Hah! Inilah saatnya! Inilah saatnya! Balas dendam pendekar harus ditunaikan!” semangatnya tumbuh dan darah mudanya meledak. Ia mengeraskan otot-otot kakinya, tangan mengepal erat, darah berdesir hangat…

Dalam sekejap, Parmin udah melesat berlari separuh melayang. Mungkin perpaduan antara jurus ‘Amukan Angin Tenggara’ dan jurus ‘Tarian Pedang’ diiringi pekikan menggema dengan khikang yang dahsyat! “HOOOI!! LAA TAGRIII!! HARAAM ALEIIK!!!”*

Dan…

GDUBRAKK,!! GLUDUK-GLUDUK!

Parmin roboh!(???). Tangannya membengkok ganjil, terasa sakit luar biasa. Dan pinggangnya terasa bergeser tak wajar, ngilu terasa habis dianiaya. Ususnya pun terasa membelit tak karuan, mulas…

“Aduh…!” Ia merintih tertahan.

Apa barusan ada kekuatan hebat yang membuatnya terpelanting sampai empat meter? Terjangan tenaga super-sakti dari si pencopet? Atau hawa jahat dari seorang pemilik ilmu hitam? Atau, sebuah serangan rahasia dari senjata pusaka bertuah? Atau…???

Bukan! Bukan itu semua, salah Parmin sendiri, mengejar haramy tak lihat kiri kanan. Dasar ceroboh! Ia memotong lintasan keledai gerobak sayur yang lagi kebut-kebutan!

Sekian dulu…

Bersambung ke serial ‘Pendekar Parmin Dari Lembah Saqr Digotong Kerumah Sakit’. Sambung sendiri ya! Bye bye!

=))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHUTBAH HARI RAYA IDUL ADHA 1447 H, DENGAN TEMA: DARI TAKWA INDIVIDU MENUJU KESALEHAN SOSIAL

Di Tepian Pantai Seri I - Petrichor

Sarung Untuk Bapak