Antara Ada dan Tiada, Antara Hidup dan Mati (I)
Antara Ada dan
Tiada, Antara Hidup dan Mati (Bagian Pertama)
Baru berselang Sehari mengganti
image cover facebook dengan tema “Gargantua” ala Interstellar, aku
mendengar kabar duka; Seorang Fisikawan Teoritis terkemuka, Stephen Hawking
meninggal dunia. Perihal adanya kebetulan antara berita meninggalnya seorang
ilmuwan dengan 'capture' Black Hole di setting cover facebook-ku terlihat
sebagai sebuah kebetulan kecil, tidak ada yang spesial pada kebetulan ini,
manusia hidup dan mati setiap hari, begitu juga bagi pengguna Facebook, dan “user”
dapat mengganti foto cover Facebook-nya hampir setiap menit, tentu jika koneksi
internet sedang baik dan tidak mendung. Dan jika dari persinggungan
kejadian-kejadian kematian dan update status atau setingan ini
menciptakan adanya satu fenomena yang sangat "kebetulan" seperti yang
kualami, satu kata saja, "apa hendak dikata".
Dengan dukungan perangkat digital
yang memperkuat jejaring sosial, “konon jarak: pergaulan setiap manusia di muka
bumi ini sudah sangat dipangkas, statistik menyebut jarak manusia di era medsos
hanya terpisah enam orang saja, dalam artian; kita hampir pasti ‘mengenali’ setiap manusia di muka bumi ini sebagai
kawan dari kenalan atau kenalan dari kawannya kawan kita atau kawan dari
kenalannya kawan dari kenalan kawan kita, atau mungkin… musuh dari kawan kita
yang juga kita anggap musuh kita (maaf, mungkin akan terkesan politis jika
menyebut kenalan kita ada juga yang tanpa alasan jelas tercipta sebagai musuh,
he he). Intinya, “kebetulan” semakin menjadi hal yang rutin di zaman sekarang,
bahkan kebetulan bisa dipandang sebagai satu hal yang kian langka… karena
rutinitas bukanlah kebetulan, dan menurut para skeptist, tak ada yang kebetulan
di dunia modern ini, semua pasti “by design” (ups politis lagi…)
Dengan prolog adanya “kebetulan”
yang kuceritakan tadi, aku menjadi tergerak untuk menulis tentang Stephen
Hawking sekaligus membahas Gargantua (Black Hole) di satu artikel ringan, di
tulisan ini. Tulisan yang mungkin menunjukkan rasa simpatikku pada sosok
Stephen Hawking, yang selama ini Nampak jauh di mata namun dekat di hati.
Sejauh ini, Hawking sudah berada di dalam kepalaku sama Bersama ide-ide lain
dan Bersama hadirnya figur lain seperti Carl Sagan, Neil Degrasse Tyson sampai
David Attenbourgh, mereka adalah tokoh-tokoh Science tersohor yang tak jarang
muncul sekali-kali (dalam sehari) di lamunanku, baik setelah aku menonton
program acara dokumenter atau sesaat setelah aku membaca buku, membaca artikel
dari internet, atau untuk mengisi waktu melamun di jendela bus umum yang
kutumpangi. Rekan-rekan terdekatku (non dunia maya) paham benar bahwa aku
memang mengoleksi banyak filem dokumenter dan sangat menggemari video-video
science.
Hawking adalah satu dari
tokoh-tokoh dari dunia yang aku kagumi, dan lebih dari itu, lebih dari lintasan
pikiran atau luapan perasaan saja. Di sini aku akan berusaha menulis tidak
hanya tentang seorang genius yang mendapat pujian dan apresiasi atas prestasi
di bidangnya, tapi juga tentang bagaimana objek kajian yang dikuasai Hawking
benar-benar memberikan pengaruh pada caraku memandang dunia, menyikapi realita.
Aku mengenal Hawking sejak masih
remaja, sama halnya aku mengenal Bill Gates di tahun-tahun itu di awal abad
Millennium (2001 ke atas), mungkin saat itu umurku belum beranjak 17 tahun,
saat itu aku masih tertatih-tatih untuk mengenal sekedar teori-teori fisika,
Ilmu Fisika tidak lebih hanya beban pelajaran yang tidak lebih daripada
pelajaran-pelajaran Bahasa Arab seperti Muthola’ah, Nahwu atau Shorof. Tapi
ilmu fisika ini ada pada bacaan di perpustakaan pesantren, aku paham betul
perpustakaan mana yang memuat banyak buku ilmiah populer, dan di rak mana
buku-buku itu disembunyikan, karena yang menyembunyikannya hanya aku sendiri.
Hingga aku akhirnya setidaknya menemukan alasan, mengapa aku mencintai fisika,
teori alam raya, dan kemudian mengerucut ke astrofisik dan rocket Science, yaa,
betul-betul rocket science, bukan “rocket science” sebagai satu metafora.
Aku suka teori fisika
semata-mata, karena ilmu-limu ini “keren banget”, tapi kalau ditanya apa aku
suka fisika dan benar-benar mengerti fisika sampai pintar di bidang ini, aku
akan menjawab cepat, tidak! Bahkan aku termasuk orang yang juga akan dibuat
pusing hanya sekedar untuk membaca rumus-rumus fisika, jadi tidak usah
buru-buru mau menguji kemampuan, dan tidak perlu ada niat untuk membodohiku
dengan ilmu fisika, karena sudah jelas aku memang masih sangat awam, bahkan
hingga kini rumus fisika yang mungkin masih bisa kuhapal hanya dua dari tiga
hukum Newton, dan satu Teori Einstein yang popular: E=mc2.Aku menyukai Fisika
karena menurutku ilmu ini tidak membuat orang kaya merasa tekor telah membuang-buang
uangnya, orang pintar tidak merasa hebat karena banyak hal yang masih belum
diketahui, dan orang baik merasa oke, karena keyakinan bahwa hukum sebab akibat
jelas berlaku pada siapa saja, jadi mohon untuk tidak cepat pula menyimpulkan
bahwa aku suka fisika karena aku kaya, pintar dan baik, tidak! Aku suka fisika hanya
karena semata-mata aku merasa bijak (ha ha!).
Oke, kita skip saja dulu sesi
narsis-nya. Aku pun mengakui bahwa Ilmu Fisika dan turunannya seakan memang
tidak tercipta sebagai ilmu yang menyenangkan untuk banyak orang, bahkan aku
sendiri seolah memang tidak ditakdirkan sebagai anak MIPA. Sampai tulisan ini
kubuat, aku harus jujur bahwa fisika bukanlah ilmu yang dapat dengan mudah
untuk dipahami.
Tapi sebagai orang yang mengenal
Stephen Hawking di saat yang bersamaan dengan aku mengenal tentang laser,
supernova, eksoplanet, bintang, UFO dan perang bintang… aku memberikan sudah
memberi penghormatan yang tinggi pada Stephen Hawking dan George Lucas di saat
yang bersamaan, untuk nama tokoh yang kusebut kedua, mungkin akan kutulis di
artikel yang lain.
Aku mengenal Stephen Hawking sebagai
seorang fisikawan termasyhur, seorang astrofisik, yang harus menjalani hidup
dengan segala keterbatasannya, tetap tdiak menghentikan beliau dari mendapat penghargaan dan penghormatan di
bidang Science, Stephen Hawking dihormati karena buah pikirannya yang memberikan
pencerahan pada perkembangan ilmu pengetahuan di Abad kedua puluh satu.
Terkemuka di bidang fisika
teoritis sejak belia, Hawking dipersepsikan sebagai seorang jenius karena
beliau memang sudah mendapatkan gelar PhD (doctor, di umur 24 Tahun) kemudian dipuji
atas terobosan scientific-nya dengan desertasinya yang bertema “Alam semesta
yang mengembang” termasuk yang paling banyak dibaca dan dicari di Institusi
Cambridge hingga kini, Hawking digadang-gadang akan menyamai legenda Einstein,
terutama dengan topik yang didalaminya, Hawking juga terlibat Bersama
scientific masa kini tentang terbukanya kemungkinan akan adanya teori pengganti
dari general Relativity Einstein, yang disebut sebagai M-Theory.
Namun keistimewaan ini kemudian dipadankan
dengan kenyataan keadaan fisiknya yang tak lepas dari keterbatasan. Hanya
berselang setahun setelah Hawking menyelesaikan disertasi PhD, Hawking tiba-tiba
diserang satu penyakit yang membuatnya tidak dapat menggerakkan hampir semua
otot di tubuhnya, Hawking hampir 100 persen lumpuh karena penyakit langka
bernama Lou Gehrig, membuatnya benar-benar terbatas secara fisik, Ironis sekali...
Ahli fisika yang dibebani keterbatasan fisik...
Penyakit tanpa obat ini membuat
otot Hawking paling tidak hanya mampu sekedar membantunya melirikkan mata. Dan
berkat tekhnologi yang dikembangkan Intel, selama puluhan tahun beliau
bergantung pada komputer pintar pembaca teks yang dikendalikan matanya, dan
mesin canggih ini lah yang dapat membuat Hawking dapat berbicara kepada dunia.
Ya, jika dilihat dari sisi positif, bisa disebut Stephen Hawking bicara
mengandalkan lirikan mata semata. Jadi andai ada pertanyaan tentang lirikan
mata siapa yang paling istimewa di muka bumi, maka jawabannya bukan Superman
dan juga bukan kamuh! Tapi lirikan mata Stephen Hawking! Lirikan mata Hawking
dapat bernilai satu sesi tiga puluh sampai enam puluh menit kuliah umum yang
dihadiri oleh para doctor fisika, dan lirikan Mata Hawking bernilai jutaan
dollar karena lirikan mata ini menerjemahkan isi kepala Hawking yang brilian
dan bernilai jutaan dollar. Tapi keajaiban bagi Hawking bukan hanya itu, satu
hal yang bisa dianggap sebagai keajaiban adalah; Hawking dapat bertahan dan
hidup lebih dari lima puluh tahun melampaui ekspektasi dokter yang memberikan “vonis
mati” baginya, karena penyakit Lou Gehrig yang diderita Hawking sempat
membuatnya disebut tidak memiliki harapan hidup melewati usia 25 tahun. Dan
Stephen hawking, meninggal dalam usia 80 tahun, sekali lagi, ini tidak lagi merupakan
kebetulan, tapi sudah merupakan sebuah keajaiban.
Tapi aku perlu menggarisbawahi bahwa bisa jadi tidak ada keajaiban bagi
seorang Hawking, karena Bapak ini ternyata tidak percaya Tuhan, dan Tuhan
adalah representasi dari keajaiban yang paling agung, Hawking, sebagaimana banyak
fisikawan lain, memandang dunia berdiri bukan atas dasar keajaiban, tapi
semata-mata konsekuensi dari sebab akibat, dan dalam bahasa awamnya, keajaiban
di sini tidak sama halnya dengan takdir, bukan karena kebetulan, tapi by
design, hukum sebab-akibat. Hawking lebih percaya hukum sebab akibat ini
melampaui hukum apapun, Hawking memandang dunia bukan atas dasar hukum Tuhan, tapi
hukum fisika. Stephen Hawking ini seorang Atheis, sesuatu yang nampaknya layak
disebut di awal, meskipun agak tabu menyebut orientasi theologis dan dogmatis
seorang ilmuwan, tapi aku menulis tidak dalam ruang lingkup perdebatan antara
dogma dan scientific ataupun pertentangan antara teologis dengan naturalis
maupun empiris, tulisan ini semata mata hanya sebuah hasil perenungan pengisi
waktu luang, sama sekali bukan tulisan ilmiah yang dapat dengan berani aku
pertanggungjawabkan.
Masih ingat tentang teori asal
mula alam semesta yang konon berasal dari satu ledakan besar (Big Bang)?
Demikian, meski bukan sebagai penggagas, nama Hawking termasuk yang paling banyak
disebut sebagai yang paling banyak berperan mengembangkannya, Hawking membuat
rumusan bagaimana kosmos alam semesta ini dari asal mula penciptaan dan bahkan meramalkan
bagaimana alam semesta ini nantinya bagaimana akan berakhir. Itulah kenapa
beberapa waktu lalu Hawking sempat disebut-sebut mempercayai adanya kiamat, kiamat
(atau doomsday) ya… (bukan hari pembalasan atau the Day of Judgement). Menurut
Hawking, hukum fisika sangat mendukung teori bahwa segala yang bermula pasti
akan berakhir. Meskipun bisa jadi Stephen Hawking tidak memiliki tendensi
sebagai seorang pembela Tuhan dan adanya hari kiamat, dan maksud dari ucapannya
itu tidaklah dalam konteks dogmatis religius. Dan, Hawking tidak melandaskan
pemikiran dari wahyu Tuhan, melainkan pada Entropi, lebih spesifik lagi;
termodinamika Lubang Hitam.
Sebelum melanjutkan, kembali aku mengingatkan
diri sendiri dan sidang pembaca yang Budiman dan rahimakumullah… bahwa aku pun
di sini tidak bermaksud memuji-muji Hawking dari sisi keagungan pikiran atau
“kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”. Aku hanya ingin menulis tentang apa yang juga dibicarakan
Hawking, yaitu realita alam semesta ini.
Hawking terkemuka karena idenya
sempat dianggap mustahil dalam bidang fisika teoritis, yaitu memadukan Teori
Gravitasi Umum dan Mekanika Quantum, yang nantinya akan disebut Quantum
Gravity, Quantum Gravity ini disebut-sebut sudah dicalonkan menjadi sebuah
Theory Of Everything, teori Maha Segala, sempat disinggung di atas, teori ini
juga dikenal sebagai M-Theory. Satu teori yang diharapkan dapat menyibak tabir
“kebodohan” dari para pakar fisika, karena ada satu lubang besar sebesar
supermassive black hole itu sendiri yang berisi ketidaktahuan fisikawan, bagaimana dunia ini
berjalan, atau dengan kata lain, ketidaktahuan ini sudah membuat manusia sudah
sampai pada kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan kini sudah mentok! Sudah tidak
akan pernah kemana-mana lagi. Sejak teori relativitas Einstein diwacanakan, dan
mekanika quantum dikembangkan, fisika hanya akan berisi pada
pembuktian-pembuktian pada hal yang membawa manusia pada kesimpulan, termasuk
Hawking, bahwa realita dunia ini semakin menjauhi kata wajar dan normal, semua
kian mendekatkan manusia pada kenyataan bahwa semakin manusia mencari tahu dan
mendapatkan pengetahuan, semakin jauh pula dia dari ilmu itu sendiri.
Satu hal yang aneh dan dianggap
wajar, bahwa alam semesta dapat terukur hanya jika kita mengukur dari
perspektif ukuran skala tubuh manusia itu sendiri, tapi jika sudah berlanjut
kepengukuran mkro kosmik, antar bintang, antar galaksi, alam semesta menjadi
kian tak masuk akal dan tidak dapat terukur lagi. Begitu juga jika kita
mengukur apa yang terjadi pada tataran kosmik mikro, relatita dunia ini semakin
absurd dan bahkan tidak dapat didefinisikan.
Padahal hukum fisika saat ini
seolah sudah ingin menggantikan ilmu filsafat yang dulunya sempat dianggap
paling agung dengan kalimat: “What Is Everything?”
Bidang Filsafat ontologis tidak
lagi dianggap memadai saat ini untuk menjawab, “What Is everything”, karena
pertanyaan ini sudah mendapatkan satu pasangan kalimat yang tak kalah sempurna;
sebuah pertanyaan sekaligus sebuah pernyataan; “If the Universe is the Answer,
then what is the Question?”
Everything di sini sudah pada tingkatan
kosmologis, para fisikawan telah punya bukti-bukti fundamental yang dapat
menjelaskan tentang alam semesta secara cukup memuaskan, bagaimana Dia
terbentuk dan berjalan, LHC di Eropa dan LIGO di US telah menghasilkan banyak terobosan
dalam beberapa dekade terakhir. Jadi everything yang dikembangkan oleh Stephen
Hawking dan banyak dari fisikawan lain lebih kepada mencari tahu bagaimana alam
semesta ini berjalan berdasarkan empat interaksi fundamental (dua interaksi
kuat dan dua interksi lemah). Hawking dan fisikawan lain dapat secara nyaman
(menurut mereka, menurut kita hanya kan membuat kening berkerut) menjelaskan
alam ini dari sisi makro maupun mikro. Para fisikawan sudah dapat setidaknya
menjelaskan interaksi antara gravitasi dan elektromagnetik, begitu juga sedikit
banyak menjelaskan bagaimana perubahan Hidrogen hingga menjadi Helium dan
berakhir menjadi besi, dan sebagainya… yang mana dengan bantuan alat-alat
tercanggih dapat memberikan pelajaran dan materi materi ilmu tentang ruang dan
waktu dapat diketahui dan dijabarkan.
Namun hingga akhir hayatnya,
Stephen Hawking tidak seberuntung Einstein, karena Hawking tidak meraih
penghargaan tertinggi di bidang Fisika, yaitu Nobel Fisika. Bagi sebagian
orang, teori M atau teori Hawking Radians
atau Big Bang dan alam semesta yang mengembang, dianggap sudah dapat
menjadikan Hawking berhak atas hadiah prestisius ini, tapi memang sudah nasib
Hawking, Hawking yang mendalami fisika teoritis yang mana pembuktiannya sangat,
sangat dan sangat tidak mudah.
Karena untuk mendapatkan
penghargaan Nobel fisika, pertanggungjawaban scientifik harus mendukung teori termasuk
andai teori itu berupa penghitungan matematis, Nobel Fisika hanya dapat
dianugerahkan jika hipotesa ini dapat dibuktikan secara empirik. Lihat saja Einstein
yang mendapatkan Nobel justru tidak pada teori relativitas khusus atau umum-nya
yang revolusioner itu, namun pada percobaan yang terbukti memperkuat teori lain
pada penemuan hubungan cahaya dan partikel yang dapat diamati pada hubungan
antara laser dan hologram. Teori Einstein tentang hubungan massa dan lengkungan
alam semesta pada teori relativitas umum-nya baru dibuktikan beberapa tahun lalu
(pe-lensa-an gravitasi).
Teori relativitas umum dibuktikan
oleh percobaan pada penerimaan sinyal gelombang gravitasi laboratorium LIGO,
artinya jarak teori Einstein dengan pembuktian teorinya selama ini adalah tidak
kurang dari 60 tahun! Satu waktu yang terlalu lama untuk membuktikan suatu
kebenaran! Atau membenarkan suatu teori! Tapi percobaan gelombang gravitasi ini
pun bukan percobaan paling “termanggu-manggu” yang kita kenal, karena ada satu
percobaan tentang teori aliran partikel yang Pembuktiannya sangat memakan waktu
yang lebih lama, yaitu percobaan pada objek aspal yang selama ini dianggap
sebagai benda padat, aspal diteorikan sebagai benda cair dengan kecepatan
memuai yang sangat… sangat… dan sangat lambat sekali, aspal disebut sebagai satu
benda yang sebenarnya cair namun nampak padat di mata kita, dan percobaan untuk
membuat aspal menetes dengan sendirinya (di dalam suhu ruang, membutuhkan waktu
90 tahun, dan sekarang masih menunggu tetesan kedua-nya.
Tapi untuk membuktikan teori
Hawking, jauh lebih lama dari percobaan aspal, Teori Hawking atau disebut
sebagai Hawking Radians adalah teori kosmologis yang berkaitan dengan lubang
hitam, yang jika ini terungkap, bisa dianggap sebagai pintu gerbang pembuka
pada teori fisika baru, yang disebut sebagai Theory of Everything, yang mana waktu
pembuktiannya jika sekedar melakukan hitungan kasar saja disebut-sebut harus dilakukan
pengamatan selama milyaran tahun, ya, bukan ribuan, atau jutaan, tapi milyaran
tahun! Untuk membuktikan Teori Hawking, kita harus menunggu Black Hole untuk menguapkan
sedikit rahasia-nya setelah rahasia itu tersimpan, milyaran tahun.
Milyaran tahun ini seolah jarak
antara Hawking dengan penghargaan Nobel. Sedangkan Black Hole sendiri dianggap
sebagai suatu objek yang paling misterius di alam semesta. Tidak hanya sulit
dijangkau, tapi juga sangat sulit untuk sekedar diamati, lubang hitam juga
dianggap sebagai benda terkuat yang dikenal dalam bidang fisika, atau di segala
apa yang dapat dicapai semua manusia (tentunya bagi yang masih… tidak percaya
keberadaan Tuhan). Kekuatan lubang hitam dapat disetarakan dengan kekuatan
supernova atau ledakan bintang yang cahayanya dapat lebih terang daripada kombinasi
milyaran bintang di sebuah galaksi.
Dalam teori, Lubang hitam
memiliki energi yang lebih kuat dari matahari yang menyinari bumi sejak milyaran
tahun lalu. Itu untuk segi kekuatan energi dorongnya, adapun dari segi energi
tarikannya, lubang bintang tidak saja dapat menelan planet dan bintang
sekaligus tapi juga dianggap berada pada hampir ada di setiap sumbu galaksi dan
mempengaruhi pergerakan seluruh bintang hingga ke penjuru terjauh dari
lengan-lengan cakram galaksi. Bahkan lubang hitam disebut dapat menjadikan
ruang dan waktu yang kita kenal menjadi tidak dapat diukur lagi, kekuatan
energi yang terkandung pada lubang hitam belum pernah dikenal dan belum dapat
dibayangkan dan ditakar. Kekuatan ini bisa diartikan dalam artian negatif,
Lubang hitam atau Black Hole adalah pemusnah tanpa tanding. Black Hole, bagi
sebagian orang, dianggap sebagai manifestasi dari akhir dunia, akhir dari
segala-galanya. Bahkan, perkembangan ilmu pengetahuan menerima teori bahwa
lubang hitam adalah wujud nyata dari "kiamat" itu sendiri. Hawking
dan ilmuwan lain setuju dengan hipotesa bahwa lubang hitam meremukkan realita
ke dalam satu bentuk yang tidak dapat digambarkan lagi, lubang hitam meremukkan
sesuatu yang disebut hanya sekedar disebut sebagai realita, atau “informasi”.
Apa itu informasi?
Mungkin secara popular informasi
dipahami sebagai berita, atau ilustrasi yang bisa diceritakan atau dibagikan
kembali, informasi bisa jadi adalah ide seseorang yang yang bisa dituangkan ke dalam
tulisan, informasi juga bisa berupa Salinan foto atau file di sebuah perangkat
elektronik, bahkan informasi juga bisa diartikan Salinan DNA dari satu makhluk
biologis ke keturannya.
Seorang laki-laki mungkin membawa
pergi rahasianya ke liang lahat, pada keabadian daripada kefanaan, tapi dia
meninggalkan informasi, asam aminonya masih ada terbawa oleh air yang larut di
tanah dan kemudian diserap pohon menjadi buah, atau mungkin juga diterbangkan
oleh semilir angin bercampur debu ke tempat jauh, menyatu menjadi asam amino
makhluk organik lain, begitu yang juga bagi api yang memusnahkan bara, api dan
kayu masih meninggalkan informasi berupa air yang menguap, karbon yang
tertinggal, karbon dioksida yang berupa asap hingga silika yang menjadi abu, fenomena
pembakaran saja dapat diartikan sebagai sebuah informasi, begitu juga sinar
matahari yang menguapkan air yang menjadikannya hujan, yang kemudian memadamkan
api, semua adalah bagian dari informasi, informasi merupakan satu hal yang
secara ringkas adalah hal yang dapat diamati, dapat diketahui.
Di sinilah kompleksitas dari lubang
hitam, lubang hitam memusnahkan semua informasi yang memuat realita atau berita,
lubang hitam dikenal sebagai objek yang mana memiliki apa yang disebut sebagai event
horizon di garis terluarnya, sesuatu yang melewati even horizon akan tertelan
untuk selamanya, termasuk cahaya; secara literal; lubang hitam memusnahkan segala
informasi, tak ada kata, tidak ada cahaya atau api, apalagi tak zat padat dan
cair yang dapat mengalir “mengabarkan” keadaan yang terjadi di balik event
horizon, dan hingga saat ini tak ada fenomena pembakaran atau pemadaman,
semuanya hilang ke balik ke lubang hitam, tertelan, “tertelan” di sini pun
tidak sempurna untuk menjelaskan apa yang terjadi di balik event horizon.
Sebagian ilmuwan sampai pada kesimpulan, bahwa lubang hitam membuka kemungkinan
adanya alam semesta lain di dalamnya, bahkan ada yang berteori bahwa alam
semesta yang kita kenal saat ini berada dalam suatu lubang hitam.
Padahal Informasi adalah hal yang
sangat berharga bagi Hawking dan Ilmuwan lain untuk dapat menjelaskan fenomena
alam semesta serta merumuskan satu hal yang mereka sebut sebagai Singularity,
satu kata yang sama agungnya dengan Theory of Everything tadi.
Pada Singularity yang disebut
sebagai inti daripada lubang hitam, teori fisika hanya sampai pada memberi
Batasan semacam Schwarzschild radius dalam rumusan matematis, adapun bagaimana
Informasi ini dapat digali dan dibuktikan secara empiric, hanya akan menjadi
cerita yang berbeda? Cerita tentang tidak mungkinan dan tentang milyaran tahun
tadi…
Jika di tulisan ini, sampai
paragraf ini dimaknai sebagai informasi yang tersampaikan ke balik kepala Anda,
dan dapat dianggap sebagai pengetahuan yang baru, maka pengetahuan baru ini
dapat pula sampai ke kepala orang lain dalam sekejap mata, secepat cahaya,
pengetahuan ini adalah fragmen dari informasi yang sekilas tampak dikopi dan
di-paste-kan... namun sebenarnya ini adalah wujud dari perpindahan satu
elektron dari satu tempat ke tempat yang lain, sistem rumit nan tangkas ini
bekerja tanpa kita sadari. Dalam memahami realita informasi ini, seorang dapat
saja mengantarkan pergi informasi (file tulisan ini) ke luar angkasa sana dengan
mengkorversikannya ke bentuk sinyal radio, dan dalam kecepatan cahaya pula,
sampai ke bulan dalam waktu tiga menit dan sampai ke matahari dalam waktu 15
menit. Dengan maksud 'membawa lari' informasi ini dari kehancuran bumi yang
mungkin akan terjadi ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun kemudian, entah itu kapan.
Begitu juga sebuah file dalam sebuah memori elektronik dapat bertahan hingga
puluhan tahun lamanya, demikian pula yang terjadi pada kilas cahaya dapat
"membawa pergi" warna-warni yang memang sudah berasal dari matahari
ke seluruh dunia di siang hari, semua hal di dunia ini adalah himpunan
informasi. Pengertian pada kita pada bagaimana memahami sesuatu antara yang ada
ataupun yang tidak ada. Jika dalam bidang ontologis sesuatu yang ada harus memiliki
atribusi esensi, substansi, relasi, hingga relevansi.
Tapi jika segala realita di atas
disandingkan dengan lubang hitam maka tu menjadi tidak relevan lagi, karena
lubang hitam adalah anomali realita itu sendiri. Maka bagi scientist itu sama
saja menghadapkan semua yang ada kepada akhir dari segala-galanya, batas
pengetahuan manusia berakhir di event horizon. Jika selama ini kita mengira
bahwa pemusnahan berarti kematian makhluk hidup, atau berarti api yang
menghanguskan arang menjadi abu. Maka hal itu tidak terlalu tepat di mata
ilmiah, akhir segalanya adalah event horizon.
Menunggu adanya emisi atau
radiasi yang diuapkan oleh Black Hole selama milyaran tahun hanya akan mebuat Teori
Stephen Hawking terdengar hanya menjadi bagian dari dongeng dan bualan. Tapi
ini bukan sembarang opini, sama hal nya dengan bukan sembarang opini bahwa teori
Fisika memang sudah sampai batas ini, di mana manusia tidak mampu lagi
mempraktekkan teori-teori yang memang sudah diyakini kebenarannya. Kini ilmu
fisika khususnya dan science kian terasa sebagai agama yang hanya dapat
dipercaya dan diyakini tanpa bisa dibuktikan dengan percobaan. Itulah mengapa
hingga akhir hayatnya, Stephen Hawking tidak menerima penghargaan Nobel. Teori Hawking
bisa disandingkan dengan teori Boson atau High Boson, dan itupun Boson baru
menerima penghargaan Nobel setelah CERN mengkorfirmasi teorinya.
Hawking juga bicara tentang Big
Bang. Meski bukan sebagai penggagas, Hawking dianggap berperan besar
mengembangkannya, membuat rumusan dari asal mula penciptaan dan yang meramalkan
bagaimana alam semesta dapat berakhir. Itulah kenapa beberapa waktu lalu,
Hawking sempat disebut mempercayai adanya kiamat, karena menurutnya segala yang
bermula pasti akan berakhir. Meskipun, pada tahun-tahun belakangan, Hawking
justru seperti sedang meralat ucapannya, nanti jika ada waktu dan mood yang
cukup aku tidak akan keberatan untuk membahasnya juga.
Cukuplah Hawking dengan segala
pujian yang terpatri baginya, setidaknya kita dapat belajar banyak dari
keberadaan beliau di tengah-tengah kita, hingga belajar ketidak beradaan beliau
di tengah-tengah kita, sebagaimana seorang yang dihormati selama hidupnya,
Hawking tetap mendapat tempat terhormat berkat usaha kerasnya yang dianggap
sangat bermanfaat bagi kemanusiaan, dengan rumusan-rumusan yang dikembangkannya
dan dengan pencapaiannya, manusia dapat semakin baik memahami realita dari alam
semesta ini. Hingga akhir hayatnya, Hawking tetap berusaha untuk memadukan dua
hal yang dianggap mustahil dalam bidang fisika teoritis; Teori Gravitasi Umum
dan Teori Mekanika Quantum, yang nantinya akan disebut Quantum Gravity. Sekali
lagi, teori Quantum Gravity, baru dianggap sebagai calon ilmu, dan sifat
keilmiahannya bahkan masih diperdebatkan, karena baik Quantum Gravity atau teori
M, dan teori lain bernama String Theory, kian membawa kita pada hal pada cerita
surrealist, karena teori-teori baru ini justru membuka pintu pada adanya
multiverse atau alam semesta lain.
Menyatakan bahwa ada dunia lain
di balik dunia yang ada sekarang membawa fisika kembali ke awal
kejahiliahannya. Karena hukum fisika tidak menerima itu, fisika sendiri
berbicara hanya pada hal yang dapat diamati, sedangkan pada hal yang tidak
dapat diamati, fisika akan serta merta menolak atau bahkan membungkamnya dengan
satu bukti pengamatan! Karena fisika adalah ilmu yang bicara tentang realita,
dan tidak akan menerima adanya hal-hal yang berada di balik realita.
Namun perkembangan fisika kian mengacaukan
rancang-bangun fisika itu sendiri, ada dua bidang Fisika yang berbicara tentang
realitas ini sejak awal yang nampak menjelaskan arti segala kehidupan di muka
bumi, dari menerangkan bagaimana air mengalir dari tempat yang lebih tinggi
tekanannya ke tempat yang lebih rendah tekanannya, bagaimana juga fisika
Bersama ilmu kimia menjelaskan bahwa api yang menjilat-jilat di udara hanyalah
bagian dari proses perubahan satuan satuan energi (quanta) dan memberikan
penjelasan yang cukup memuaskan jika api dipandang sebagai satu bentuk besaran
energi plasma yang merubah energi suatu benda ke dalam bentuk energi lain, fisika
dapat dianggap sinambung bersama ilmu kimia dan biologi dalam menjelaskan bagaimana
unsur karbon tanah kemudian juga menyusun asam amino manusia, dan terakhir,
fisika juga menjelaskan bagaimana bintang bintang di surga ternyata dibentuk
oleh unsur-unsur yang sama dengan matahari dan ternyata bintang-bintang di
langit itu ternyata tersusun dari zat-zat yang masih sama dengan yang ada di
bumi, bintang-bintang yang terbuat dari pembakaran Hidrogen dan Helium bukanlah
benda-benda yang berasal dari surga sana, hidrogen dan helium masih merupakan bagian
dari unsur-unsur yang masih bisa ditemukan di bumi.
Ilmu Fisika membuktikan bahwa
bintang bintang yang berkelip di angkasa bukanlah bintang-bintang di surga, dan
mungkin pernyataan bintang di surga terdengar agak mengganggu. Tapi sejak awal
abad 19, justru yang paling mengandalkan sinara bintang dengan realita alam di
sini adalah pakar-pakar di bidang fisika hingga kemudian berkembanglah satu
cabang ilmu baru yang disebut astrofisik. Dan Hawking juga dipandang merupakan
satu dari tokoh astrofisik.
Pakar astrofisik ini ingin
menjembatani perdebatan antara pakar fisika empiris yang diwakili oleh Einstein
dan pakar fisika teoritis yang memiliki tokoh yang tak kalah menarik yaitu
Bohr, Bohr Bersama teori mekanika quantum yang dikuasainya seolah ditakdirkan selalu
bertentangan Einstein, meskipun pada dasarnya Borh tidak pernah menolak Teori
General Relativity, dan begitu juga Einstein mengakui adanya mekanika quantum, tapi
keduanya terlibat perdebatan pada dualisme realita, terutama pada percobaan
Double Slit yang kontroversial, percobaan ini membuat Einstein pada akhirnya
sampai pada kata “Tuhan tidak bermain dadu”.
Tapi astrofisika terbangun dari
kerjasama para pakar matematika, para ahli statistic, hingga pakar kimia hingga
ahli atom untuk menjelaskan serta merumuskan perilaku zat-zat elementer dan
radiasi benda-benda dengan harapan mereka dapat merumuskan satu teori baru
tentang ‘everything’ dari informasi yang bida dibagikan oleh photon atau
cahaya, kerja sama ini melibatkan ilmuwan listrik hingga elektromagnetik untuk
sama-sama berbagi ilmu termasuk untuk mempelajari pergerakan elektron yang kian
aneh saat diamati, para ilmuwan ini berkumpul Bersama di pertemuan spektakuler
Bersama di Brussel, bahkan Marie Currie pun hadir di sana.
Namun di pertemuan ini justru
bukan persamaan persepsi yang paling dikenang, tapi perdebatan antara Einstein
dan Bohr. Perbedaan ini dikenal sebagai perdebatan Bohr yang mempertahankan
pendapatnya bahwa fisika pada akhirnya hanya akan terbangun dari hitungan yang
mengira-ngira atau cocoklogi karena pada level quantum, perhitungan manusia
menjadi tidak lagi dapat sampai kepada keakuratan dan kepastian ukuran, dan
Eintein yang selalu meraih kesuksesan dalam teori fisika nya melalui pendekatan
matematis menolak keras ide ini, Einstein percaya bahwa Fisika adalah ilmu
pasti, hukum yang dirumuskan fisika dari sejak Newton merumuskan hukum gerak
benda bersifat pasti untuk seluruh alam semesta, maka tidak mungkin cocoklogi
dapat diterapkan dalam bidang ini. Dan dalam perdebatan ini, nampaknya argument
Bohr lah yang justru lebih kuat, di mana hukum fisika akan berakhir pada
perkiraan manusia saja, fisika akan berakhir pada ketidakmampuan manusia untuk
melewati batas subjektifitasnya.
Padahal fisika berawal dari
keyakinan bahwa manusia dapat saja memiliki keyakinan penuh bahwa kebenaran
yang didapatkan dari pendekatan deduktif. Diawali oleh seorang tokoh yang
bernama Copernicus, dengan gerakan Reformasi Copernican, mayoritas ilmuwan
berada disisinya sejak itu membela Copernicus, karena dianggap sudah berani melawan
dogma gereja mengubah pandangan Geocentris ke Heliocentris. Kerajaan surga di
langit seolah diralat oleh Copernicus, ilmuwan senantiasa membuktikan diri
mereka memadukan kekuasaan alam dengan realita yang dipahami dan dapat dicapai
oleh akal manusia, satu demi satu ilmuwan bertahan dari bantahan bantahan ayat-ayat
suci. Namun empirisme yang digagas oleh copernican di Eropa kian tidak
terbendung lagi, kebenaran agama dianggap dogma yang tidak dapat dibuktikan
dengan kajian ilmiah. Sebut saja kemudian, belakangan Galileo yang mendukung
Copernicus pun selanjutnya mendapatkan dukungan Newton yang mendeduksikan
gerakan hukum geraknya pada rotasi planet-planet yang mengelilingi matahari.
Di barat, empirisme tidak
mendapat lawan seimbang lagi, membawa pembaruan dan manusia ke sistem modern. Empiris
seolah hanya mendapatkan lawan yang seimbang, ketika menghadapi para
rasionalis.
Lalu siapa pemenangnya kini,
empiris atau rasionalis? Dan siapa yang memegang kendali saat ini di bidang
fisika? Empirist kah atau rasionalist? Atau kini ilmu fisika hanya akan jadi argument
kuat bagi orang-orang beriman sepertiku untuk kembali mengingatkan bahwa aku
juga berhak untuk menyatakan sandaranku pada cosmological argument, dan aku
setidak-tidaknya berhak untuk sekedar tetap menjadi occasionalist.
Namun kita tidak usah buru-buru
membahas hal-hal sentimental di artikel ini...
Cerita jejak-jejak persinggungan
antara empirist dan rasionalis mungkin akan terdengar seperti perseteruan yang
menegangkan urat syaraf, atau bahkan berdarah-darah seperti pertentangan antara
pro-copernicus dengan gereja, namun tidak, perbedaan pendapat ini lebih banyak
membawa perubahan positif dibanding perubahan negatif, filsafat berkembang
lebih kokoh dengan ilmu-ilmu baru yang berkembang kemudian, sebut saja misalnya
perkembangan filsafat ilmu, atau epistemology. Banyak pendekatan-pendekatan
baru dari hasil "kerjasama" tak sengaja antara Rasionalis dan
empirist, seperti neuroscience yang mendamaikan pertentangan keras
antara pro jiwa dan pro fisik (behaviorist), ada pula Kantianism yang
berusaha memadukan idealism dan realism. Kita juga tidak dapat melupakan
positivisme yang dibawa Comte yang berusaha membangun struktur sosial dengan
ilmu pasti.
Dan di sini kita akan melihat
pada ilmu fisika, yang kemudian menurunkan ilmu astrofisik. Sebagaimana sudah
disinggung Panjang lebar di muka, bahwa Perkembangan ilmu fisika diberi ruang
yang amat ekspresif di awal kini sedang menghadapi yang seolah mengarahkan umat
manusia pada kebuntuan. Dukungan modal yang besar, fasilitas memadai justru
mengantarkan para ilmuwan pada apa yang mereka sebut sebagai keterbatasan
pengetahuan yang justru membawa ilmu fisika semakin menghadapi realita menuju
alam arwah. Bayangkan saja, kini sampai ada istilah "palung
kebodohan" hanya demi menunjukkan adanya tidak mungkinan untuk menyibak
rahasia yang ada pada materi gelap dan energi gelap.
Teknologi termutakhir dan
termahal di muka bumi semata mata dikembangkan demi perkembangan fisika seperti
laboratorium raksasa CERN yang dibangun oleh uni Eropa, dan stasiun luar
angkasa yang digagas oleh amerika, ataupun teleskop Hubble kemudian nanti digantikan
Teleskop Max Webb, kedua duanya mengejar pengetahuan yang masih berderai luas
baik itu di langit, dengan pendekatan astrofisik nampaknya hanya akan
membuahkan hasil yang tak lebih bai dari hasil foto Black Hole yang masih
terlihat Blur tempo hari. Di bumi, pendekatan mekanika quantum yang dikembangkan
di CERN sampai pada kesimpulan bahwa setelah big bang, untuk mendapatkan anti
materi dan menguak tabir fenomena yang tak biasa pada realita semesta masih harus
menempuh jalan Panjang, karena graviton masih merupakan satu enigma hingga kini.
Sampai di sini, perubahan bentuk foton (pendar cahaya) menjadi atom, zat yang
memiliki massa, dalam hal ini adalah hidrogen, sebagai atom paling sederhana,
paling ringan dan paling berlimpah di alam semesta semata mata hanya dalam
teori dan tidak dapat diprakarsai oleh manusia.
Percobaan CERN yang berawal dari
standar teori Big Bang ini justru baru membuktikan keberadaan partikel-partikel
lain yang membentuk massa atom, dan belum mengurai banyak tentang materi
pembentuk awal ini, dan belum menyudahi pertanyaan pada "dari mana massa
itu muncul", atau dengan kata lain, dari mana realita ini dapat hadir? Karena
tanpa massa, maka tidak ada istilah benda, dan tanpa benda tak ada gravitasi,
tanpa gravitasi tentu tidak akan terbentuk ruang, tanpa ruang maka waktu tidak
akan berjalan... dan seterusnya... Itulah mengapa Boson sempat disebut materi
Tuhan, karena Boson adalah satu yang menjadikan satu hal yang awalnya ada dari
tiada.
Di langit sana, Hubble yang
namanya diabadikan sebagai nama teleskop tercanggih saat ini, tidak banyak
menyibak misteri yang signifikan. Bayangkan saja, sampai sekarang sudah masuk
tahun ketiga untuk sekedar dapat melihat "lubang hitam" di Sagitarius
A yang merupakan pusat Bima Sakti.
Semua percobaan dan hasil keras
riset menghasilkan satu kesimpulan yang justru membuka pertanyaan besar pada
dunia science, apakah realita sebenar dari alam semesta ini? Kedua proyek
termahal ini seolah sedang mencari jawaban dari semua pertanyaan realita
terbesar dunia, adakah ini ada di antara bintang-bintang atau ada pada semilir
angin?
Terdengar puitis bukan?
Jika jawaban realita dunia ini
ada pada bintang, maka pendekatan astrofisik yang paling memadai, dan jika ini
ada pada semilir angin, maka itu menjadi urusan CERN untuk memecah mecah atom
hingga berkeping-keping, dan mengetahui unsur-unsur materi Tuhan yang mungkin
dapat dikuak... Dan sayang sekali, kedua pencarian ini sama-sama membentur
dinding tinggi nan buntu atau menemui palung yang disebut palung (trench of
ignorance).
Tulisan ini semata mata cerita
tentang persinggungan dan persinggahan akudalam menjalani hidup, kebetulan
banyak waktu luang bagi aku untuk melamun tapi tidak cukup banyak kesempatan
untuk menulis. Nampaknya tidak hanya kurang beruntung, tapi juga tidak
berbakat.
Sama halnya ketika antara fisika
dan ilmu-ilmu lain juga mengalami persinggungan dan persinggahan antara satu
dan yang lainnya. Dengan ilmu kimia, dengan ilmu informasi, bahkan dengan ilmu
agama.
Tapi persinggungan seperti ini
bukan untuk pertama kalinya terjadi, karena memang fisika memang memiliki
tujuan mulia tidak hanya sekedar memberi kemudahan pada manusia dalam mengatur hidup,
lebih dari itu, fisika bisa saja memberi masukan yang sangat berharga bagi
manusia dalam memandang bagaimana mengatur hidup, terutama memahami kenyataan, realita
dunia ini.
Tidaklah aneh ketika seorang
fisikawan kemudian seolah mulai lari dari kenyataan yang ditemuinya dalam
percobaan percobaan ilmiah dan mulai meracau dengan kata-kata hikmah bak
seorang Sophis. Penemuan-penemuan yang membuka kemungkinan bahwa manusia dapat
mengendalikan kekuatan setara bom atom membuat manusia mungkin merasa bahwa mereka
juga dapat membuka kesempatan untuk mengendalikan waktu.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar