PUISI SEDIH MUSIM PANAS
Puisi nestapa hidup Saif baru saja
tertulis dalam sejarah. Air matanya deras, seakan takkan ada habis-habisnya.
Jam empat jelang subuh...
Ampun ya Allah…!
Hati Saif gemuruh, dua bola matanya basah
berkaca-kaca… berpelangi.
Dua hari lalu, kiriman uang dari ibu
bapaknya sudah habis tak bersisa.
Kini, Saif perlu kiriman dari orang tuanya
lagi. Hutangnya sudah hitungan Dollar,
dibayarnya baru secuil Geneh. Sedang nilai ujiannya rosib dan nilai maddah
Al Quran-nya dho’if.
Ampun ya Allah…!
Hati Saif kian bergemuruh, air matanya
kian membadai, menganak sungai.
Barukah Saif sadar? Betapa hatinya kian
berbusuk, masam. Betapa Saif pun takut mereka-reka besarnya dosanya, adakah dia
sudah durhaka…?
***
Saif bercermin diri, betapa ribuan nasehat
pernah terucap bagi teman dan anak muridnya dahulu.
Saif adalah guru si Maman yang telah
bertobat, Saif adalah pengajar Rukayyah yang kini insyaf, Saif juga guru si
Naim yang telah jera melawan ustadz-ustadznya, Asep yang dulu sering mencuri telah
jera, Saiflah yang menasehati. Mita temannya yang kini berjilbab, Dinda kian
rajin belajar. Si Rajab kawannya kian pandai bermujawwad, juara MTQ, karena
Saif yang memotivasi. Si kekar Dul Rahman tak kebal lagi. Monika menikah
tinggalkan zinah. Aminah pun tak pernah kesurupan lagi, Saif ingat dulu jin
harimau yang menunggui badan perempuan itu kocar-kacir dihantam ‘Ayat Kursi’
berikut do’a ruqyah dari Ustadz Saif.
Bagi semua murid Saif, bagi setiap teman
Saif, Saif adalah guru teladan.
Saif patut berbangga! Saif hebat! Ustadz
Saif calon ulama’!
Handai tolan Saif di kampung halaman pun
turut bahagia atas nikmat hidup Saif. Betapa kesempatan belajar ke Mesir adalah
berita gembira bagi seluruh kerabat Saif. Tak terhitung do’a serta salam melalui SMS diterima Saif di negeri
Kinanah ini.
Tak jarang do’a dan salam diterimanya pula
dari orang yang bahkan tak dikenalnya, terus terang mereka mengaku membanggakan
namanya berikut nama kampung halamannya… begitulah kelakar mereka.
Punya teman belajar di Mesir adalah
kebanggaan yang patut dibicarakan kawan dan kerabatnya.
***
Bulan lalu, kiriman foto Saif di depan
Ahram-Ahram yang megah sampai ke tangan kawan-kerabatnya. Saif berbagi
pengalaman tentang negeri yang disebut sebagai ibu segala peradaban-peradaban
dunia… betapa agung almamaternya, berapa indah lembah Nil yang membasahi
gersangnya Sahara, dan betapa peradaban Islam telah memahatkan sejarahnya di
sini sejak dahulu kala.
Saif yang memakai kopiah putih di foto
berikutnya, menjadikan menara Al Azhar yang meruncing sebagai latar, di
belakang foto tertulis huruf arab, doa pendek memohon berkat.
Saif
pintar agama, Saif penuntut ilmu!
Semua kini seolah sekadar masa lalu yang
tak berarti lagi…
Tak ayal, malam itu, hati Saif merajuk
kembali, asam mukanya seasam cuka, hidupnya serasa kelat sekelat rukam. Baru
kemarin, baru kemarin rasanya… Saif tahlil dam, ia mengantri di Rumah
Sakit Hussein dengan senyum pias mahasiswa baru di Al Azhar As Syariif...
alangkah bangganya ia membayangkan ‘kan belajar di antara beton-beton besar
coklat tua gedung Universitas Al Azhar demi empat tahun yang direncanakannya.
Namun kini cita-cita itu hanya jadi pemupuk kedukaannya kini.
Bilakah waktu dapat diputar? Atau
setidaknya, kesadaran diri-nya datang lebih awal? Atau setidaknya, atau
setidaknya… uang kiriman orang tuanya tak diboroskannya...
Dan Saif hanya berani berterus terang pada
sahabatnya saja, bahwa dia kini tak bersungguh-sungguh mencari ilmu…
“Bukankah salah kita sendiri?” katanya
pendek menimpali anggukan teman-temannya. Dia seharusnya menyesal, menyesal
pula di hadapan orang-orang yang menantinya di kampung halaman.
***
Jam lima subuh, mentari baru nampak
mahkota pijarnya, kran pun baru mulai mengalir airnya, dan embun baru terasa
dinginnya.
Saif terhenti menangis, demi muadzin
shalat subuh memanggil. Betapa di menit-menit paling menyedihkan ini, Saif
mensyukuri insyafnya hatinya. Meski dia sadar belum cukup! Saif harus berani
berkorban… berkorban bersabar satu tahun karena dirinya Rasib.
Walau belum cukup! Saif harus lebih banyak
menyediakan waktu demi ilmu…
Bila tak cukup! Saif harus bertobat!
Bertobat dari ragam maksiat!
Begitulah batinnya tak henti-hentinya
berucap, penuh harap dan penyesalan.
Dibukanya pelan buku catatan harian… dan
dibalik selembar kertas, sebuah syair yang pernah ditulisnya terbaca, itu buah
pena saat niat dan tekadnya masih perkasa, dahulu saat menjadi mahasiswa baru;
Selayar sekapal
Bersama mengangkat sauh
Sesayap, semesin
Kita terbang menjauh
Bapak beribu rindu
Ibu terisak melepas pilu
Sumpahku lekat, tekadku kuat
Ku kan pulang cepat, janjiku bulat
Waktu, tempat
Tujuan, hidup, merantau
Lega dan sesaknya
Rela dan makan hatinya
….
Saif pun kembali terisak, air matanya
serasa asin di ujung lidah, bergetar tangannya menulis penuh rasa;
Betapa kini, Aku Saif sebatang kara di
negeri seribu menara
Alangkah layu niatku, bermula bencana
bagiku
Ibadah separuh saja, menjauh pula pahala
Jauh Bapakku berzikir
Jauh Ibu bersujud di tahajjud
Adikku bersedih tak pernah lagi kupeduli
Nur Sumayya merindukanku, meratapi diri
Kakekku demi cucunya, khusu’ mengucap
tasbih
Nenekku menungguku lelah di pembaringan
Sedang aku, cucunya di sini, betapa ku
dilanda musibah lupa
Kalimat simpati sudah terlanjur kukirim
Keluarga di rumah gemuruh
Demiku semua gempita gembira
Di sini ku belajar dengan baik,
ke jenjang kedua, aku naik!
Alangkah bingar makian langit,
aku hanya pembual tengik!
***
Buah sedih Saif kembali merembes basahi
pipinya, turun ke dagu, merayap ke leher, meresap ke baju. Pilu Saif
menjadi-jadi, sejadi-jadinya. Kesadaran Saif menuntut nuraninya agar berani
berikrar, berani berprinsip, seperti ulama’ yang ini dan ulama’ yang itu,
laiknya sahabat nabi yang ini dan sahabat yang itu. Tentu Saif pun amat hendak
meneladani Rasulullah.
Saif ingin sekali menjalani hari dengan
timbangan amal yang berat… iman dan amal, iman dan takwa, ilmu dan tekhnologi.
Banyak yang Saif harapkan meski harus sulit terwujud. Tapi Saif kini lebih
rapuh dari tunas keladi.
Saif lelah jika tak sempat bersenang dan
bermain-main… Bukan insomnia bila Saif tidur di saat fajar baru menyinsing, dan
begadang membuang waktu adalah kebiasaannya yang percuma, hingga kini, hingga
saat ini.
Tertidur kembali… sang calon ulama’… meski
risau Saif tak harapkan mimpi. Bangunnya pun nanti kan penuh siaga.
Saif berjanji bahwa hari ini ia kan tidur
pagi untuk terakhir kalinya. Jika bangun nanti, kan jadi hari baru, dan jadi
hidup baru baginya, tak ingin ia lewatkan hari penuh kesia-siaan.
Bagaimanapun, Saif tak sudi menjadi lelaki
sia-sia. Entah sejak kapan saif tak ingin begitu? Bukankah sejak dulu Saif
berani berdusta? Berdusta pada dirinya sendiri… bukankah itu juga kesia-siaan?
Kapan kesia-siaan itu menjadi kebiasaan…?
Kebiasaan yang memulakan semua kekacauan?
Entah kapan...?
Saif sudah tertidur sebelum mengingat.
Semua sadar, semua belajar, semua ada
hikmahnya....
Semua kan ada akhirnya.
Seperti pembaringan yang ditiduri Saif.
Segala lelah Saif pun berujung di tepian
ranjang dan basahnya bantal.
Tertidur kembali, tiba-tiba, begitu cepat,
adzan Ashar berkumandang membangunkannya. Mata Saif masih membengkak. Ia
terpana mengapa dunia belum merubahnya?! Sedang ia tak pernah berniat jahat
merubah dunia agar menjadi pelupa seperti dirinya…
Nyatanya berubah adalah hal sulit bagi si
pemalas! Saif belum jera juga, ia bak batu, tuli, mati rasa sepanjang Dzuhur,
melewati Ashar.
Tak guna puisi, tak guna doa, jika
kesadaran telah membatu, jika niat belajar telah terganggu. Maka kutukan takkan
melepaskan diri darimu…
Saif kini merasa tak ubahnya sebagai
benalu. Benalu bagi segala masa lalunya sendiri.
Komentar
Posting Komentar