Di tepian Pantai Seri III - Pluviophile
Pluviophile
Di tepian Pantai III
[Waktu]
Embun dan Salju… laut dan sungai, hujan dan gerimis, seperti itulah
kami…
Kami berasal dari substansi yang sama, namun eksistensi kami terpisah oleh
kesan anak manusia sebagai label yang berbeda, menjadikan kami takkan pernah mungkin
bersama, tak kan satu kerja dan dalam satu kata…
Di seberang, pada tempat aku memandang jauh, terbentang garis horizon yang
membatasi langit dan laut. Kulihat satu dua hamparan daratan kepulauan. Satu pulau
di antara kepulauan itu adalah tempatku merantau bertahun-tahun lamanya, dan
kini seolah sedang menantikanku kembali, laut juga seakan mengajakku segera berlayar
lagi, meninggalkan daratan pulau tempatku dilahirkan ini.
Dari daratan ini, aku pernah memulai perjalanan ke tempat yang belum pernah
kukunjungi, merasa sebagai orang baru di tempat yang baru. Merasakan bagaimana
menjadi orang yang terasing. Keterasingan yang sama seperti waktu itu.
Keterasingan yang mendamaikan adalah pengalaman yang membuatku ingin
secepatnya melakukan perjalanan dan pelayaran kembali, dan tak perlu kembali
lagi ke sini, untuk selama-lamanya. Pilihan dan haluanku kini hanya ingin
berkelana, dengan rupa-rupa label berbeda yang tersemat di diri, bersama deru
debu perjalanan, terpaan badai, hembusan angin dan riak gelombang.
Keinginanku memang tak sederhana, aku mencintai kehidupan dinamis dan
menyelami kisah perjalanan dan petualangan, merasakan akselerasi kehidupan
beserta perubahan-perubahan maupun kesinambungannya, mengalami progresivitas
dari beragam ilusi kehendak bebas-ku sendiri. Beragam label, bermacam-rupa
bentuk dan warna cinta dan derita, keabadian cerita perjalanan sang musafir.
Berbeda dengan label yang diinginkan seorang wanita yang kutemui sesaat
lagi. Wanita yang hingga belasan tahun menungguku di pulau ini justru bertahan di
atas keyakinan dan prinsip hidup menurutku terlalu sederhana dan terkesan
memaksa, yaitu keyakinan bahwa manusia dapat menyerahkan hidupnya demi penilaian
orang lain, hidup dengan postulat yang tertaut pada kepuasan orang banyak dan
menggantungkan diri pada kecenderungan konsensus publik; masa kecil yang mau
belajar dan menurut, melalui masa muda menikmati semangat juang yang tak lama, kemudian
berkeluarga dengan ikatan arus moral yang patut, lalu tutup usia sesuai agama
dan keyakinannya masing-masing.
Kuakui bahwa dalam beberapa tahun, aku bersama wanita dengan label sederhana itu telah menumbuhkan
apa yang kami sepakati sebagai ‘momentum pertemuan’ yang membentuk ‘chemistry’.
Kami larut dalam konsekuensi ‘aksi dan reaksi’. Sejak saling berbalas surat dan
salam, awal ‘label cinta’ pun melekat pada substansi hubungan kami, perhatian
antar masing-masing dari kami terpenuhi, ‘label’ demikian menumbuhkan harapan
demi harapan.
Lalu, sang waktu rupanya mengharuskan kami dipisah jarak, ‘label’ yang
kami kenakan pun bermula... tercundangi. Terpaut letak, kami pun hanya dapat bertukar
pesan dari jauh. Di saat ku merasa sunyi… kubaca suratnya berulang kali, untuk
sekedar mengingatkanku bahwa ada dia di sana sedang menungguku, yang rela menceritakan
kesepian-kesepian yang dirasakannya dalam lembaran-lembaran surat dengan
tulisan nan panjang, kadang-kadang aku pun mengungkapkan hal serupa pada
balasan surat yang kukirimkan, bahwa aku pun begitu, merindukannya.
Kadang-kadang pula, aku menghiburnya dengan janji-janji yang kuulang-ulang,
yang tak perlu dimintanya... dan aku pun tahu bahwa aku bahkan tak perlu
menepatinya. Dengan demikian, menurutku kami telah berbagi duka dan bahagia,
meski itu pun, kadang-kadang… masing-masing percaya bahwa kami masih berkomitmen
untuk setia. ‘Setia’ telah menjadi ‘label’ terakhirku dengannya… setidaknya
dengan kesetiaan, kami masih menyimpan satu dua harapan.
Benarkah aksioma tentang kebahagiaan itu ada? Validkah label itu?
Kadang-kadang-kah?
Ternyata tidak! Hatiku rupanya ibarat bejana yang kian kosong, melompong… masa
lalu itu, adalah hukuman dunia bagiku. Makin kuingin melupakannya, makin kuingat
awal pertemuan kami, dan kusadari bahwa, sejak awal... potensi hubungan yang
eksis kudapatkan pada kami memang berawal dari kekosongan, kekosongan yang
bahkan tidak dapat memenuhi nilai nol (0)… kekosongan yang membuatku
menertawakan pertalian hubungan ini… bahkan kemudian menghinakannya.
Aku pernah memimpikan memimpin keluarga dengan seorang ibu dan beberapa
anak, seperti kebanyakan laki-laki lain, inilah yang seharusnya mengisi
kekosongan bejana itu. Demikian rencana yang kubuat, dan demikian orang-orang
yang mengenali kami ber-ekspektasi bagaimana kami akan berencana. Tapi semua
rencanaku tak kutemukan pada dirinya, aku kian mengkritisi wujudnya. Dia sejak
awal bukan impianku… karena seorang ibu anak-anak impianku tak lain adalah
seorang ibu ‘tertentu’, dengan label ‘tertentu’. Dan keputusasaanku memengaruhi
keputus-asaanku pada seluruh rencanaku. Aku tak mendapatkan jawaban dari
teka-teki dan masalah perasaan yang kubuat, kususun dan kemudian kuhancurkan sendiri.
Dan aku pun berkeputusan untuk tak hanya mengubah rencana-rencanaku dengan
Rayhana… maupun harapan kedua orang tuaku dahulu. Aku bahkan berkeputusan memupus
impianku di tanah pulau kelahiranku ini… Karena aku tak mampu lagi memahami
purna-nya keinginanku dengan menggantungkan pada kehendak orang-orang yang
mengenalku, mengenal kedua orang tuaku dan mengenaliku bersama Rayhana.
Aku hanyalah seorang naif yang terlambat menyadari bahwa dirinya adalah
satu dari sekian banyak dari orang yang berputus asa di dunia ini… akupun
sampai pada keputusan yang masih tertahan;
“Daripada menyerah pada anggapan wajar orang-orang, bukankah lebih baik
jika kutinggalkan saja label yang membebani kita dan pulau itu untuk selamanya,
kemudian meneruskan perjalananku…?”
itu kalimat terakhir pada surat yang kukirimkan pada Rayhana, tiga tahun
lalu.
***
[Pertentangan]
Saat di mana pertanyaan dan keraguan pada Rayhana kian memenuhi dada, makin
kupahami bagaimana hubungan yang dulu larut dalam suasana komunal tiba-tiba menjadi
sepi dan hening seperti ini… aku tak lagi mampu menghiburnya dengan kata-kata
manis yang sama secara berulang-ulang karena itu tidak kan meredakan
kerinduannya. Dan tuntutan janji untuk kembali, kian berat untuk kupikul lagi.
Kalimat; “komitmen”, “setia”, “rindu”, “menunggumu pulang” dan… “aku cemburu…”
yang awalnya terasa romantis ternyata kian menghantui diri, kian terdengar
asing karena perlahan, kusadari bahwa makin aku meyakinkannya, semakin aku
berdusta padanya… argumen kritis di kepala meneriakiku! Memperingatkan bahwa
aku tak seharusnya larut dalam segala dramatisasi prosesi asmara seperti itu!
Aku tak mampu untuk kembali menyusun rencana yang bingar, dengan tetap
berpura-pura mencintainya dan menambatkan hidupku bersamanya dan tak
meninggalkan daratan kepulauan yang kucintai ini.
Aku setuju bahwa sama sekali bukan aibku andai aku berkeputusan untuk
menikahi orang yang tak kucintai dan menambatkan diri pada arus moral yang
bingar… dan menyimpannya untukku sendiri. Berkeluarga adalah arus moral yang
patut, bermasyarakat adalah bingar yang amat wajar.
Dan betapa hidup demi pengakuan masyarakat yang membentuk moral bukanlah
hidup yang terkutuk, meskipun menurutku tidak begitu. Tapi, jika kutakar, andai
pun aku bersedia menjadi label ‘tertentu’ dengan moralitas rendah, hanya kan menjadi
awal semua kehancuran bagi masa depanku sekaligus Rayhana. Aku dan dia yang masih
terpisah karena moral dan luputnya seremonial... selama segala perbedaan
penilaian itu tak mampu kuterima, maka kekosongan hatiku nyatanya takkan
bertahan untuk terus didramatisi supaya tetap bernas; berisi... meski kupaksakan
terisi, hanyalah sekedar pengganti, dramatisasi yang dilakoni para aktor
pengganti… aktor pengganti yang terjebak dalam pementasan drama yang berkepanjangan.
Dan sebagai resolusi yang kubuat, aku pun berkeputusan untuk mengajak
bicara orang yang pernah kuberi janji untuk kunikahi itu, tuk kutemui di pantai
ini. Aku akan mengucapkan kata perpisahan yang tak mengenakkan.
Dan demi mengatasi kekecewaannya, aku akan sedikit berwasiat dengan nasehat
yang kuupayakan membuatnya tabah dan bersyukur, bahwa segala label yang pernah
kami yakini itu tak lebih dari satu tepian daratan, satu tepian dermaga, suatu persinggahan
belaka dari drama kehidupan dunia ini.
Dan kulihat dia, yang kutunggu-tunggu datang menyongsongku ke tempat ini, tepian
pantai ini… telah kuungkapkan dalam surat yang kutitipkan pada sahabatnya,
bahwa janji pertemuan ini adalah janji terakhir yang kupegang untuknya, dan dia
masih setia menerima tawaran janjiku, sepertinya kami masih memegang ‘label’ kami
masing-masing, dengan genggaman yang amat lemah, karena aku sedang dalam
rencana dan upaya untuk melepaskannya.
Dia yang datang dengan penampilan kusut.
Begitu menyongsongku, tangkas menggertakku…
“Mengapa harus seperti ini akhirnya kita bertemu?! Kau sudah datang sejak
seminggu lalu dan baru sekarang mengajak bertemu?! Bertemu di tempat terasing
ini…?! Untuk apa?!”
Suaranya gemetar, menahan emosi. Aku sangat sadar bahwa dia ‘kan marah. Dan
sudah kuduga, siapa yang tak marah jika diperlakukan demikian, wajahku mungkin
juga terlihat menyebalkan, dari pucuk kening hingga dagu, aku pun tau bahwa wajahku
terbuka untuk ditampar siang ini. Andai marah dia kan keras menampar… temanku
yang kurang ajar padanya, pernah ditamparnya. Kali ini aku takkan mengelak
apalagi menangkis, karena aku hanya ingin kami bicara, atau bertengkar beberapa
saat saja, lalu berpisah tanpa ada yang cidera.
“Jawablah, mengapa kau seperti tak sudi bertemu denganku lagi?! Kau tiba
di sini sejak seminggu lalu… aku baru tau kalau kau sekarang punya kapal… aku
senang akhirnya cita-citamu untuk berlayar dengan kapal sendiri tercapai! Tapi kenapa
baru hari ini kau mengajakku bertemu…?! Patutkah itu…?!”
Tangan kanannya ditelekan ke pinggang. Telunjuk kirinya, menuding wajahku.
Aku tak segan pula memberinya gertakan, “Lihatlah dirimu! Meredam marah sedikit
saja tak sungkan… patutkah itu?! Padahal kita sudah berpisah empat tahun, setidaknya,
kita buka pembicaraan kita dengan cara yang lebih bersahabat, kau bahkan tidak
menanyakan kabarku dulu?!”
“Sudah, ungkapkan saja apa ingin dikatakan… aku dengar!”
“Terus terang, aku senang kita bertemu lagi, aku memang mengajakmu bertemu,
ini adalah permintaan terakhirku, aku senang kau memenuhinya.”
Dia menunduk lesu, sepertinya itu demi mendengar kata “akhir” yang baru kusebut.
Aku mendekatkan diri, supaya dia dapat benar-benar mendengar ucapanku yang
hanya dapat kusampaikan dengan pelan, “Rayhana… rasanya… kau pun tau, kita kian
jauh dari harapan kita masing-masing, selama ini kita hanya dipisah jarak, dan aku
terima jika aku lah yang disalahkan… aku yang sengaja lama tidak menghubungimu
lagi. Tapi percayalah, sudah lama aku menanti pertemuan kita seperti sekarang,
aku juga merindukanmu… tapi aku sudah mengira bahwa yang kita bersama tunggu selama
ini ‘hanya’ pertemuan seperti ini… mungkin ini bukanlah pertemuan yang kau inginkan,
dan ini juga bukan pertemuan yang nyaman bagiku. Pertemuan ini adalah pertemuan
yang kan memisahkan kita. Aku hanya sekedar ingin pamit, aku akan pergi jauh
dan sangat mungkin tak kan pernah kembali lagi ke sini. Aku hanya ingin restu
dan doa darimu, sebagai orang yang menyayangiku selama ini.”
“Sampai kini kata-katamu sulit kumengerti…? Restu apa? Pergi ke mana lagi?
Bagaimana dengan janji-janji dan harapan bersama itu? Bang Nabil… tidakkah kau mengerti
sedikit saja bagaimana perasaanku selama ini dalam penantian?! Tanpa kabar
darimu?! Surat-suratmu yang datang belakangan hanya dipenuhi kata-kata
perpisahan. Label? Aksioma?! Atau apalah itu! Tidak banyak yang kupahami
maksudnya. Lalu kiriman suratmu menghilang! Lalu kabarmu pun menyusul hilang?!
Tak ada dari kawan-kawanmu yang tahu ke mana dirimu! Bahkan kerabat-kerabat
dekatmu memberitahuku kalau kami sudah sama-sama kehilangan dirimu selama tiga
tahun! Tanpa berita sama sekali...!
Aku tahu dirimu, dan ketabahanmu dengan kesendirian, tapi bukankah kita
telah berbagi begitu banyak hal?! Lalu mau kau abaikan semua?! Menyakitkan
sekali! Adakah bang Nabil benar-benar tak merasa apa yang kurasakan?! Kau bangga
menganggap dirimu lelaki yang tak perlu mengaku terlalu peka. Tapi aku amat kenal
Bang Nabil, kau bukan orang yang mau menzalimi orang dan tak kan sudi berbuat kejam!
Tidakkah peduli pada diriku? Aku bahkan mungkin adalah satu-satunya wanita yang
dekat denganmu di kampung halamanmu ini! Di luar sana, kau hidup dan tak ada
yang mau peduli padamu!”
Ia kembali mengungkit betapa halus perasaannya dan menyindir
ketidak-pekaan perasaanku. Sudah sedemikian seringnya dia begitu, tak jarang
sejak dulu dia menyebutku tak pernah memahami isi benaknya.
“Kutanya lagi! Tak taukah kau bagaimana beratnya penantian selama ini,
bang Nabil?!” dia menghardikku dengan raut wajah yang seperti minta dikasihani,
berlinang air mata... air mata itu pertanda bahwa ia mengalami destruksi jiwa
yang memprihatinkan. Terlihat lelah, lelah oleh amarah dan kesedihannya
sendiri.
Aku tau, bagaimana setidaknya hati wanita itu kini… pasti sakit. Dan kini dia
lelah dan tersiksa oleh deraan batin, bahkan dia kian tak sanggup menopang
berat badannya dengan kedua kakinya, ketika kusaksikan dia terduduk lemas di
atas sebatang kayu mati, menangis dengan kepala tertunduk, air matanya tumpah
deras, sesenggukan.
Dengan segala perasaan bersalah, aku hanya terdiam menyaksikan
kesedihannya… ingin kukatakan padanya… rasa sakitnya saat ini hanya bisa
mengusik rasa peduliku dan perhatianku pada kesehatan raga dan kewarasan
jiwanya, dan itu pun bukan lagi menjadi tanggung-jawabku tapi tanggung-jawab
dari bagaimana mekanisme imun tubuhnya sendiri mengatasinya. Sedang untuk
berusaha menghiburnya, aku merasa tak perlu lagi. Karena aku juga telah lelah, lelah
menahan kesakitanku sendiri, bahkan jauh hari sebelum mengenal Rayhana, jauh
hari sebelum melihatnya menangis sesenggukan di atas kayu mati itu.
“Rayhana… maafkan aku… kiranya, kesalahanku padamu teramat besar, uraian
tentang keinginanku untuk pergi kan kian menyakiti… tapi, aku tetap akan pergi.
Mungkin suatu hari kau pun akan mengerti.” tak dapat kuelakkan, aku pun telah terdesak
untuk harus meminta maaf padanya. Rasa kasihan kadang kala melenyapkan kebencian
bahkan tak jarang memercikkan kecintaan, tapi bagaimana aku memadamkan
kebencianku dengan meminta maaf padanya? Karena sebenarnya dalam diam, kami seolah
sudah bersepakat bahwa kami sedang membenci diriku sendiri, membenci ke-egoanku,
membenci rencanaku untuk meninggalkan segala ‘label cinta’ yang kini telah memudar.
Nyaris saja tangisannya menuntunku untuk menggagalkan rencanaku untuk
menyampaikan kata-kata tambahan untuk menganulir momen perpisahan ini. Aku kembali luruh dalam
tata krama diplomasi dengannya lagi. Selalu begitu… dari dulu aku memang takluk
pada segala kelembutan yang dia miliki, inferioritas yang dia kuasai, dan… jika
sudah begini, aku nyaris tidak bisa berkata tidak, dan seperti biasa… aku jadi tak
berani memandang wajahnya dengan kilas ketulusan seperti itu…. Kata-kata perpisahan
yang ingin kulanjutkan kian tertelan…
“Aku mengerti maksudmu mengajakku ke sini Bang Nabil, tempat pertama kita
bertemu ini. Ini mungkin menurutmu adalah tempat terbaik di mana kau
mengucapkan perpisahan, kau mau pamit. Tapi… tidakkah kau lihat, aku kini hanya
perawan tua…?” ujarnya dengan tatap mata tajam… seperti menudingku. Pandangan
itu, sorot mata yang menyalahkanku.
Aku mengerti maksudnya, dalam ‘bargaining’ terkait usia
denganku. Aku pun mengalami apa yang dia takutkan, dia pun pasti tau itu. Tapi
kini dia tak menahan diri untuk berterus terang bahwa dia menyalahkanku? Membiarkannya
menjadi perawan tua adalah salah-dosaku? Apakah dengan meninggalkannya lantas aku
telah menyia-nyiakan usia dan sisa hidupnya?
“Rayhana, terus terang… aku tidak terima jika kau merasa ditelantarkan
sampai menyebut diri perawan tua, sekarang! Bukankah sejak dulu sudah jujur
kuungkapkan…? Tak satu dusta pun… aku telah memberimu peluang seluas-luas
lautan, aku sudah menyerahkan padamu banyak pilihan! Kau pun bisa sepertiku, bisa
berlayar ke manapun kau suka. Sejak dulu kukatakan begitu! Tapi sekarang… kau menyalahkanku?!”
Amarahku meledak… tak kusangka, tiba-tiba, aku marah di tengah
kesedihannya.
“Itulah masalahmu! itulah keanehanmu, kau merasa berbaik hati dengan
memberiku harapan, lalu kau ingin memupus semua begitu saja?! Kebebasan
bagiku?! Itu menurutmu! Tapi nyatanya, tidak pernah kau mengerti perasaanku!
Bahkan empat tahun tahun lamanya kita berbalas surat, aku masih tak bisa
menyadarkanmu bahwa selama ini kau tidak hidup dalam kenyataan! Mimpi-mimpi-mu
yang justru menghancurkan impianku!”
“Baik… jika memang kau sudah sadar bahwa aku hanya buat kau bermimpi,
kenapa kau tidak bangun sejak dulu?! Aku sudah memberimu ruang yang bahkan
sudah melewati toleransi label ini!”
“Nah, kan…! Dengarkan lagi katamu sendiri! Sampai sekarang pun masih kau
anggap cinta tak lebih dari label! Sudah sejak lama, aku mengingatkanmu! Apa
yang kau maksud label itu?! Rasakan ini, rasakan realita ini! Lihat aku
menangis! Lihat perawan tua ini! Ini bukan tentang cerita di khayalmu dan label
yang bisa kau kenakan lalu kau lepas! Itulah kau, seorang yang hanya jadi
peratap di dunia nyata, kau ingin menjadi raja dalam impian yang sempurna… jika
itu mimpimu sendiri, itu masalahmu! Tapi kau hancurkan kenyataan hidupku! Itulah
masalah kita!”
Kuingin berteriak padanya… Kuingin ingatkan dia kembali! Lancang sekali
dia membenturkan impianku dengan realitasnya?! Seolah aku adalah orang yang tak
memiliki kesadaran dan perikemanusiaan sekaligus?! Coba saja kembali pada
kenyataan terdahulu!
Tidakkan dia melihat pada masa lalunya sendiri?! Di mana hidup indah
seindah impian di taman surga cinta bermula adalah label yang dia ciptakan
sendiri. Lalu berbelit-belit seperti ini… adalah cerita hasil karangannya.
Sedangkan aku telah menghabiskan waktu dengan menuliskan banyak surat yang mengajarinya
bagaimana melihat realita, semua penjelasan-penjelasan yang kususun, ribuan baris
kata… tapi seolah tak dipahaminya! Apa memang dia selalu tak peduli untuk
paham?! Semua inisiatifku untuk menyadarkannya tentang kekejaman zaman dianggapnya
sekedar angin lalu, angin lalu yang tak henti bersama pergantian siang dan
malam, pasang surut air laut, dan berjalan seiring rotasi bulan, yang berlarut-larut
selarut malam, dan fajar yang tak terbit-terbit! Dia sedang dan masih meyakini
cinta adalah karsa! Omong kosong! Cinta hanyalah label, cinta hanya nama, dan
perasaan ini hanyalah ilusi saja. Ilusi berkehendak bebas!
“Sudahlah…” dia bangkit dari duduknya, “ …yang pasti, aku mencintaimu
sepenuh hatiku Bang Nabil, tidak ada yang lain…mungkin kau memang tak akan pernah
memahami perasaan hatiku ini…?! Aku bahkan bersedia tak perlu bangun lagi, jika
hidup yang kau pahami adalah mimpi belaka, aku bersedia tidur selamanya demi
dirimu… kau belum pernah ‘kan mendengar orang mati bermimpi?! Tapi, aku bersedia
untuk itu… Sayang sekali, mengapa bukan aku dermaga yang kau pilih?! Bahkan…
setidaknya… mengapa aku bukan pihak yang terkait pada label yang kau pahami
itu?!” dia kembali terisak.
Aku, hanya tercenung…
Namun… apakah demikian benar, aku telah melakukan kesalahan besar padanya karena
paradigma label ini…?!
Apakah aku memang telah menyia-nyiakan cintanya, dengan terus meneruskan
kesalahanku dalam memahami istilah ini, kesalahan yang membuatku lupa, betapa
berharganya dirinya?
“Ini sudah terjadi… maafkan semua kesalahanku, Laili… Rayhana Malamku.”
Dia berpaling, menunjukkan bahwa ia membenci panggilan itu, sejak dulu… aku
memanggilnya dengan nama itu, bagiku dia adalah malamku yang suci, indah nan
dingin…
“Laili, terserah kau mau mendengarnya atau tidak… tapi, lihatlah, di mana
kita berada sekarang…? lihatlah pulau di sana, dan, lihatlah kita di sini,
pantai ini, daratan ini… satu saat nanti, aku hanya ibarat daratan di sana, di
pulau itu, sedang kau di sini, di daratan ini… dan daratan di sana, kau masih
bisa melihatnya bukan?! Bukankah perpisahan adalah keniscayaan pertemuan?! Rindu
kita masih tak terpupus, rasakan anugerah semua rasa yang kita nikmati saat
ini… aku dengan pantaiku, kan terpisah denganmu dan pantaimu. Bukankah dengan
perpisahan ini kita mengalami hal yang sama, melihat hal yang sama pula…? Kita
dan pantai-pantai yang kita nikmati… tidakkah itu masih menyimpan keindahan?! Lagipula,
kita masih dapat merasa saling memandang satu sama lain, bukan? Kau sebut aku adalah
daratan di muka horizon, aku pun begitu, bukankah kita masih identik? Kita
masih menghadapi samudera kehidupan yang sama, dengan gelombang laut yang sama…
dan masih bersama pasir yang serupa pula, kita masih dapat menikmati anugerah yang
sama… kita masih bisa berbahagia, bersama! Kita masih bisa bersama tua! Bersama
Lupa dan bersama binasa! Tak saling menyakiti! Itulah hakikat hidup Rayhana!
Itulah cinta sebenarnya!”
Dia berpaling membelakangiku… bergumam pelan sekali, “Rasa sakit dan cinta
bisa sama, tapi hati kita takkan pernah sama Bang Nabil… cinta berlimpah pada adanya
perbedaan, bukan hanya pada kesamaan.”
Lalu, tak ada jawaban dan kata-kata dariku, keputusanku sudah bulat, yang
ada hanya tangis, dan keheningan yang retak. Rayhana berlalu dengan iringan air
mata, bergegas meninggalkanku, akupun tak lama kemudian pergi meninggalkan
tepian pantai ini, dan beranjak meninggalkan pulau ini. Di pantai terasing itu,
kami berpisah, tak pernah berjumpa lagi.
***
[Seluk Beluk dan Timbal Balik]
Jika ingin tahu lebih dalam tentang sebuah akhir cerita, ketahuilah, bahwa
akhir dari semua cerita tadi bukanlah sebuah klimaks, melainkan antiklimaks,
lalu seiring pergantian jeda demi jeda, banyak hal yang tidak engkau kehendaki
terjadi dan banyak hal yang kau kehendaki tidak terjadi, namun tak bisa kau ungkiri
bahwa drama demi drama membuatmu terhanyut, terbawa, dan cerita pun mengalir,
mengalir dalam hatimu, dan tak bisa tidak, kau telah menerimanya sebagai sebuah
cerita, meski tak sepenuh rela, seperti yang telah kuperbuat dengan perempuan
yang menyesali jati dirinya sebagai perawan tua tadi…
Delapan tahun sebelum berjumpa Rayhana, aku mengenal Laila, seorang
perempuan yang kukagumi. Namun dua tahun sebelum pertemuanku dengan Rayhana, Laila
dipersunting seorang putra saudagar, yang lebih muda... lebih kaya dariku,
karena ibu yang melahirkan pemuda itu lebih kaya dari kedua orang tuaku, dan
bahkan lebih kaya dari semua nenek dan kakekku.
Hatiku terburai, bukan hanya karena kasihku direbut, tapi karena cintaku
didahului orang, seorang lebih mampu mendapatkan cinta Laila dibanding aku,
sebelum aku mampu berbuat apa-apa. Aku memang tak pernah memiliki Laila sebagai
bagian hatiku, di hatinya... bahkan secuil pun dari cinta Laila tak pernah
tertaut padaku. Aku mengagumi Laila dengan segala diam, menyembunyikan
kekaguman, tapi, keberanianku tak cukup untuk mengungkapkan rasa hatiku
padanya. Hingga kuhabiskan waktuku untuk proses akademis. Kukira, kedewasaan
dan kematangan dapat membuat nyaliku semakin kukuh hingga dapat mendekati
Laila, dan mungkin menyatakan cintaku, dan itu harapku… namun aku salah, jeda
waktu yang kubuat, membuat aku terlambat.
Lalu, Rayhana adalah rembulan yang muncul di tengah kegelapan, tapi apalah
artinya rembulan tanpa malam yang menawan? Sedangkan sejak nihilnya sosok Laila
bagi hidupku, aku bukan lagi apa-apa, aku adalah gulita dan kesunyian, malam
yang suram dan minta ditinggalkan. Kulewati hari-hariku dengan aktifitas
mencari makan, namun dalam keadaan makan maupun kelaparan pun, aku menyimpan
dendam, dendam pada ketidakberdayaan.
Aku berbuat nista pada Rayhana, dengan pura-pura mencintainya,
mengintervensi eksistensinya, menyebutnya sebagai Malamku, memanggilnya “Laili
yang kusayangi”, “Laili yang suci”, Rayhana kujadikan malam yang kupaksakan
untuk kumiliki, kumiliki pura-pura.
Seagung apapun Rayhana menyanjung dan sebesar apapun cintanya padaku, tak
dapat kubalas sebanding dengan perasaan yang pernah kucurahkan pada Laila.
Kembali aku menyusun jeda waktu menjaga jarang dengan Rayhana beberapa tahun,
kususun jeda itu agar aku bisa belajar mencintai orang yang tak kucintai,
belajar merinduinya, belajar untuk cemburu jika kudengar ada yang mendekatinya.
Namun yang terjadi, justru hatiku semakin berpaling dari Rayhana, aku menjadi
bosan dengan perasaan yang dibuat-buat ini, lebih dari itu aku merasa kian jahat,
kian berdosa. Hingga keputusanku adalah dengan mengakhiri segala drama di
pantai terasing tadi, menjadikannya tragedi.
***
[Presipitasi]
Sejarah menautkan hidupku yang berubah dari sebuah titik menjadi sebuah
lingkaran, di mana hatiku mengitari gravitasi Laila, lalu menjadi seperti
segitiga saat aku bertemu Rayhana, tanpa hilangnya kehadiran bayangan Laila.
Kemudian, tiba-tiba, aku kembali ke satu titik kulminasi, dengan keputusanku,
keputusan karena kebingungan pada tekadku untuk mengakhiri semua ‘label-label’
ini. Di titik inilah aku memutuskan untuk berlayar di samudera hidup ini,
cintaku… memilah-milah mana mimpi yang patut dinyatakan dan mana kenyataan yang
patut menjadi impian belaka akan membebaskan diri dari segala kepura-puraan. Meski
tak jarang, penjadi pemilah mengharuskanku membayar mahal dengan kesendirian
dan kesunyian. Bagaimanapun, perjalanan hidup ini mengajariku tentang kepastian
bagi ketidakpastian, sekaligus keterbatasan bagi ketidakterbatasan.
Sore ini, dari jendela mushola, kuintip langit di mana kelabu belum
berlalu dan hujan baru saja reda, kuedarkan pandanganku pada lanskap lembah dan
perbukitan ini, dekat dengan pantai yang terasing, kulihat garis-garis pantai
yang dideru ombak dengan pelanginya yang menggoda untuk diabadian dalam
ingatan. Nun di sana, seorang lelaki termenung dinaungi sebuah pohon ditemani
kicau burung Murai, dan di sisi lain pantai, kulihat dua anak manusia hanyut oleh
rasa saling suka, saling cinta, saling bercanda. Seorang anak muda memotret
teman wanitanya, dilatar pelangi.
Aku kenal pria yang duduk termangu itu, bukankah dia juga memotret
karibnya dulu? Aku bersumpah bahwa aku sedang menyaksikan pemandangan yang
sangat serupa beberapa tahun lalu! Dua pasang muda mudi saling memotret dan
dilatar pelangi. Semata kebetulan atau takdir kehidupan…? Mengapa sejarah
menjadi demikian terlihat berulang di depan mataku? Seperti DeJavu. Seorang mungkin
mengalami kebahagiaan dan kesialan, kesuksesan dan kegagalan yang sama pada
dirinya, berkali-kali, dan di lain pihak, satu kesuksesan serta kegagalan yang
sama juga dialami oleh orang yang berbeda-beda, berkali-kali pula…? Apakah
demikian siklus kehidupan berjalan? Atau manusia sama saja dengan tumbuhan dan
binatang, di mana pada akhirnya kami harus menyerah pada siklus metabolisme dan
simbiosis? Adakah ‘tawakal’ ini mengabaikan (teori) evolusi?
Di mataku, mata seorang manusia tua ini, dunia seakan hanya berbentuk
spiral, gurat lingkar-lingkarnya terlihat bergerak maju dan mundur di pandangan
mata dan empat indra lainnya, menekan persepsi, menjadikan ilusi bahkan delusi
seolah begitu amat nyata dan rigid, namun spiral itu tak lain hanya berputar di
tempatnya.
Tak ada jawaban maupun tanggapan bagi argumen dan pertanyaan-pertanyaanku.
Keheningan dari monolog ini mengingatkanku saat kembali saat mengalami
kebahagiaan dan kesedihan bersamaan saat meninggalkan Rayhana dulu, rasa ambivalen
getir, yang telah berlalu sejak lima puluh tahun lalu.
Aku telah menemukan kedamaianku sendiri
di sini, di tengah
keterasingan bersama deru ombak, jauh dari pulau tempat aku dilahirkan. Betah bersama bintang-bintang yang selalu kukagumi… jumlahnya bersaing
dengan buih-buih di lautan yang menemaniku di hari-hari pelayaranku… Ah… Aku
layaknya dua wujud itu! Bintang-bintang dan buih-buih lautan, terapung
mengisi ruang kosmik
sebagai himpunan partikel, terus bergerak pada edar yang telah ditentukan kuasa Ilahi.
Kini aku tua bersama kerinduan yang nyatanya
masih
tersimpan, terlebih pada almarhumah Rayhana, satu-satunya orang yang pernah kuupayakan
untuk kucintai dan dia sudah sepenuh hati mencintaiku. Kadang, terbersit tanya
sederhana, adakah rasa yang kuingat ini juga sama dengan perasaan dua lelaki
yang ada di pantai itu pada masing-masing wanita yang mereka potret di hari
lalu dan hari ini?
Kurasa aku mampu menjawabnya dengan tanpa keraguan, rasa yang kurasa
dengan rasa yang dirasakan orang lain, tidak pernah sama, sama sekali tak
identik… terutama aku dan dua pemuda itu, karena kedua lelaki di sana dicintai
oleh orang yang juga amat mereka cintai. Dan aku…? Aku adalah orang yang tua
yang terperangkap pada konsep-konsep dari kosakata ‘label’ yang kuyakini.
Kini, aku masih bersama sebuah mimpi yang begitu panjang, dan aku berada
di senja mimpi ini, aku tak berniat untuk membangunkan diri karena kesadaranku
penuh akan mimpi ini, dan aku tak begitu peduli… jika pun aku bangun, ku kan
tetap bersama kenyataan yang tak sempurna… dan keputusanku tak pernah berubah, aku
kan tetap ‘berlayar’ daripada memilih ‘hidup’.
Biarlah embun, biarlah salju… biarlah laut, biarlah biru, biarlah
sungai, biarkan badai, biarkan hujan! Aku kan tetap berlayar, kembali ke tengah
lautan.
“Navigare necesse est, vivere non necesse”
Komentar
Posting Komentar