Di Tepian Pantai Seri II - Spectrum
Spectrum
Di
Tepian Pantai Seri. II
Kukenang
waktu pertama aku bertemu denganmu…
...
di suatu sore, saat aku menyusuri tepian pantai seorang diri.
Semilir
angin pantai bertiup perlahan, menebar kesejukan. Pijakan kaki terasa nyaman berselimut
pasir menapak tanah yang basah dari jejak hujan siang itu.
Siluet
matahari menerobos awan sisa-sisa mendung, melambangkan kuasa pancaran Ilahi, menghangatkan,
memberi kesan keindahan nan alami.
Nyamannya
suasana sore kemudian disempurnakan kemunculan pelangi, menambah indahnya
pemandangan sekitar. Pelangi yang seakan membenamkan setengah lingkarnya ke dalam
laut, sedangkan setengahnya lagi melengkung menjulang ke langit, melingkar simetris,
anggun dan agung… menaungi sebagian besar sisi timur horizon.
Diameter
dari bentukan alamiah fenomena alam seolah berkehendak memberi kesempatan seluas-luasnya,
bagi siapa pun yang kagum pada pesonanya tuk berkhayal tentang jalan lintasan
ke negeri gaib di balik awan sana. Aku sendiri mengumpamakan pelangi itu laksana
gerbang raksasa di tengah samudera. Dan dari gerbang itu, kudengar sayup-sayup
suara seorang lelaki menyeru, memanggil namaku;
“Selamat
datang Ihsan, pencemburu keindahan! Seberangi lautan, songsong aku sebagai
petualang ke dunia baru! Akankah kau gentar!”
Tapi
bagaimanapun imajinasiku bagi sang bianglala, aku juga masih memiliki kesadaran
bahwa semua yang kusaksikan hanya bias cahaya yang diterima retina mata,
pelangi tak lain dari wujud spektrum cahaya berupa-rupa pendar warna-warni dari
milyaran partikel foton yang membias ke dalam kepala, diresepsi oleh
saraf-syaraf neutron otakku, memberi kesan pada alam bawah sadar. Di pelupuk
mata dan kedua telinga, akalku masih menyadari kesunyian yang tak terpecah
selain oleh deru ombak pantai.
Ku
tahu, tak ada kata-kata keluar dari balik lengkung besar pelangi, bahkan suara
lelaki yang seolah memanggil namaku tak berbeda dari suaraku. Semua fenomena semata
paduan kilasan cahaya dari alam raya bertaut pintasan imajinasi tak nyata dari
lamunanku saja… tentang harapan yang membumbung ke langit, yang bahkan jika
dituruti kan lebih besar dari diameter pelangi itu… harapan besar seorang anak
yang bercita-cita menjadi astronaut setiap memandang ke langit, berharap suatu
saat kan menempuh perjalanan antar bintang dengan roket berkecepatan mendekati
kecepatan cahaya menaklukkan kuasa masa, mengatasi lengkungan gravitasi.
Anak
itu adalah aku, yang jika sekadar menjadi diri sendiri, tak lebih dari menjadi
seorang putra nelayan yang kan terus berusaha berbakti pada kedua orang tua,
membantu mereka sepenuh hati dalam aktivitas keseharian, membuktikan diri bahwa
aku dapat diharapkan untuk kelak menjadi pelaut yang sama baiknya dengan ayah
dan leluhurku semenjak dahulu, bertahan hidup.
Dan
karena alasan untuk tetap hidup itu pula, aku kan mengarungi samudera mencari
ikan, sebagai sumber penghidupan. Adapun memandang bintang-bintang, membaca
peta langit ‘tuk panduan haluan pelayaran adalah demi petunjuk supaya tak tersesat
di tengah kegelapan malam dan samudera, namun supaya aku dapat mencari jalan
pulang ke dermaga asal. Aku merasa diri ini terlahir bukan untuk jauh bertualang.
Harapan-harapan
dan khayal panjang sore itu ternyata berhaluan lain, hujan rupa-rupanya
mengiringi kehadiran anak manusia lain di pantai yang kukunjungi, seorang gadis
kecil yang mendekati dan menyapaku, memecah kenyamananku pada kesendirian dalam
renungan.
Kukenang
saat itu kau menertawakan kegugupan dan sikap serba salahku, kegugupan yang
tentunya wajar karena kehadiran seorang asing yang menyerahkan kamera kantong
padaku tanpa ragu… minta difoto tanpa diawali ucapan salam dan perkenalan.
Tak
mampu banyak bicara, tak juga menolak, aku hanya menyanggupi permintaanmu saja.
Tidaklah sulit memotret seseorang, betapa pun itu gadis kecil yang baru
kukenal. Hanya saja, saat itu kau malah memberi kesan yang akan sulit kulupa, saat
sebelum sempat memotretmu, aku sempat berargumen bahwa pelangi yang kau minta
menjadi latar fotomu, tak kan tampak difoto. Tak terima pendapatku, kau
memperdebatkannya.
Padahal
belum tentu ada yang benar ataupun salah saat itu. Bukankah kita hanya perlu
bersabar? Untuk membuktikan semua yang didebatkan akan terbukti dengan
sendirinya, kita hanya menunggu negatif foto itu dicuci nantinya. Kuingat kita
mendebatkannya seolah perdebatan tentang akhir dunia dari perspektif dua agama
yang berbeda.
Tapi
andai saat itu aku maupun dirimu tak berjalan sendirian di pantai yang sama,
tentu kita tak kan bertemu, dan andai kita tak bertemu, kau tak kan memaksaku
untuk berfoto sesuai inginmu, dan tak kan pula ada perdebatan tak perlu itu,
dan andai kita tak berdebat… mungkin kau tak kan lebih jauh menanyakan namaku
dan aku menanyakan namamu, dan andai tak ada sekilas tawa dan seberkas rasa
kesal sore itu, bisa jadi memoriku tentangmu akan segera pupus dalam berapa
hari saja… dan mungkin aku tak kan mengenangmu saat ini dengan segala kesedihan
seperti ini.
Namun,
segalanya terjadi begitu saja, perjumpaan kita, perdebatan kita, rona wajah
kesal mu yang tak terlupakan, dan foto berlatar pelangi yang kuabadikan jauh
dalam sanubariku yang terdalam… sejak saat itu.
Semua
perjumpaan... adalah segala hal yang telah digariskan oleh-Nya…
***
Beberapa
bulan sejak pertemuan di sore berpelangi, bukan kebetulan jika ternyata kau
adalah pesaingku di sebuah lomba puisi antar sekolah. Kau utusan sekolahmu
menyaingiku yang mewakili sekolah kami. Kau juara lomba, dan aku di peringkat
ketiga. Dengan tersenyum senang, kau menghampiriku.
“Ihsan
fotografer! Ini adalah kekalahan kedua-mu!” kau memekik gembira, menunjukkan
kebanggaan dan sekilas keangkuhan.
Kau
mengejekku yang tak begitu pandai membacakan puisi, terlihat lucu katamu. Dan
kesalahan prediksiku perihal pelangi di belakang punggungmu yang menurutku tak kan
dapat dipotret itu... sebagai kekalahan pertama-ku, kekalahan berdebat dan
kesalahan argumenku menjadi suatu kebanggaan bagimu. Dan kini kau menang untuk
kali kedua, memenangkan lomba baca puisi. Sebuah kemenangan yang seolah kian
mengukuhkan semua keunggulanmu dibanding aku. Namun, kenyataan lain yang justru
kulihat, aku tak kurang bangga karena kau pun tak menutupi fakta bahwa kau berterima
kasih dan memuji hasil bidikan fotoku. Meski tidak kau katakan, kau mengakui
bahwa aku memotret lebih baik dari dirimu…
Dan
kemudian kita kian kerap bertemu, dan semakin dekat bersahabat. Kau pernah
bergurau bahwa jika aku bersedia kau pinjami kamera dan lebih banyak praktik memotret,
suatu saat aku akan menjadi fotografer andalan dan kan berkeliling dunia
seperti kontributor majalah National Geographic. Aku tentu senang dipuji
seperti itu… Dan lebih senang lagi karena selalu mendapat pinjaman kamera-mu,
bersedia memotretmu kapan saja, dan kau menjadi objek atau mencari objek dan
latar yang bagus sesukamu, di mana saja.
Meski
semakin mengenalmu, semakin kumengerti siapa dirimu dan apalah diriku. Semakin
aku tahu dan dekat denganmu, makin kusadari pula bahwa kita ternyata berada
pada ruang kehidupan yang berbeda, dengan satu garis yang seolah takkan dapat
kita lewati, satu sama lain…
***
Ku
akui tak mudah berteman denganmu, tak jarang aku mendapat teguran orang tua dan
kerabatku, kau pun tentunya begitu. Namun persahabatan kita tetap berjalan
hingga bertahun-tahun kemudian.
Suatu
waktu di kampung kita digelar pasar malam. Pasar malam yang meramaikan
alun-alun kecamatan hampir satu minggu lamanya. Di sana aku membantu bapak
berjualan ikan bakar. Kebetulan sekali, lokasi pasar malam tak berjarak jauh
dari rumahmu. Kulihat kau dan keluargamu menghias rumah memeriahkan perayaan
Musim Semi; Imlek. Tahun itu imlek di kampung kami lebih meriah dari biasanya,
karena untuk pertama kalinya Hari Raya Imlek diakui sebagai hari libur
nasional.
Malam
puncak perayaan Imlek, juga merupakan malam terakhir dari satu pekan rangkaian
pasar malam. Purnama menerangi langit saat kau menyinggahi warung kami, demi
melihatku. Dan itu membuat orang-orang sekitar kembali menyorotkan pandangan pada kita, sedang abang-abangku saling
berbisik dan menertawakan dari belakang punggungku. Dan dari kejauhan, kulihat
orang tuamu segan menungguimu, mereka berdiri saja di pekarangan kuil,
tersenyum kecil ke arah kita.
“Bajumu
bagus sekali malam ini, kau makin cantik memakainya…” aku memberi pendapat pada
baju merah padam bermotif bunga Gardenia yang kau kenakan saat itu, kukagumi
pakaian tradisional mandarin yang kau pakai terlihat sopan, dan kau kian terlihat
manis mengenakannya.
“Dan
kau Ihsan, jelek seperti biasa, dengan baju kebesaran itu… tapi aku suka bau badanmu,
seharum ikan bakar” ujarmu, beriring senyum terkulum.
Aku
tak tersinggung, kata-katamu pun bukan bermaksud menghina, semua itu benar, aku
memang nyaris tak punya baju yang sepadan dengan ukuran badanku, karena
kebanyakan adalah baju bekas abang-abangku, sejak kecil aku selalu siap untuk
memakai baju ‘kebesaran’.
Dulu
aku sempat mengiramu sebagai seorang yang sombong dengan kata-kata yang selalu
terlalu berterus terang seperti itu. Tapi ku tahu, sebenarnya kau tak pernah
menganggapku kurang dari seorang sahabat, meski dengan segala perbedaan status sosial
di antara kita dan perbedaan sifat yang begitu kentara.
"Selamat
ya! Selamat Hari Raya Imlek" Ucapku.
"Terima
kasih Ihsan, tapi jika ingin mengucapkan selamat, ucapkan Gong Xi Fa Cai... Itu
ucapan selamat imlek yang benar." Jawabmu dengan tertawa.
Aku
hanya membalas koreksianmu dengan tersenyum, tak mampu menirukan rangkaian
kalimat rumit itu, dan aku malu memintamu mengulangi kata-kata itu lagi. Aku
hanya mengangguk pelan saat kau mengajakku berjalan menyusul kedua orang tuamu
ke kuil.
Dan
di Malam indah ber-purnama itu... aku ikut mengantarmu hingga ke depan gerbang
luar kuil. Dan dari luar pagar, aku melihatmu sempat menolehkan wajah ke
belakang dan memandang lama ke arahku, kita berbalas dan berbagi senyuman
kembali. Saat itulah masa-masa terindah yang tak mudah kulupakan hingga kini.
Sejak awal pertemuan kita di sore yang berpelangi dahulu, baru pada malam itu,
untuk pertama kalinya aku benar-benar yakin, bahwa aku telah mencintaimu.
***
Setahun
berlalu, aku rupanya tak ditakdirkan menjadi pelaut seperti bapak, tapi
pendidikan yang dipilihkan beliau menjadikanku mendalami ilmu agama. Aku
merantau hingga menyeberang ke pulau yang jauh dari kampung halamanku, menjadi
santri di sebuah pondok pesantren.
Meski
dua tahun dipisah jarak, nyatanya kita tidak merasa saling berjauhan, karena
kita dihubungkan fasilitas komunikasi teranyar saat itu; koneksi internet!
Penyewaan komputer kian murah dan internet kian mudah ditemui, bisnis warnet tersebar
dari kota hingga ke desa, dan hubungan komunikasi kita terjaga dari fasilitas email,
chatting, dan amat mudah membuat janji maupun membatalkannya dengan
sekedar meninggalkan pesan melalui ‘offline messages’. Meski untuk sesekali
mengunjungi warnet, aku pun harus agak mengendap-endap supaya tak ketahuan
guru-guru dan pengurus di pesantren, karena mengunjungi warnet adalah terlarang
bagi kami, para santri.
Dua
tahun di pesantren aku tak pulang ke kampung halaman. Dan pada suatu sore yang
berpelangi, satu hal yang spesial sekali kudapati saat kembali kau ajak
berkelakar di chatting, dan saat mengaktifkan webcam… terkejut
aku dibuatmu saat pertama melihat… kau berjilab! Dan satu kata darimu yang tak
terlupakan sampai kini…
“Alhamdulillah,
kabarku baik Ustadz Ihsan…”
Tiba-tiba
segalanya terasa berubah, kini aku tak sekedar merasa berbincang dengan kawan
lama, namun seolah sedang berkenalan dengan seorang gadis muslimah yang baru
kukenal.
Taukah
kau? Itu pertama kalinya aku chatting dengan seorang muslimah Tionghoa! Diam-diam
aku tak hanya senang, aku juga bangga!
Aku
mendokumentasikan obrolan kita hari itu di email, sempat kusimpan screenshoot,
juga transkip teks percakapan kita. Kata-katamu hari itu memang berbeda dari
biasa, terasa sangat berharga.
Andai
saja, sebelum itu kita tak belajar bersama bagaimana memanfaatkan internet,
yang membuat komunikasi serasa tak berjarak lagi, mungkin aku tak pernah tahu
lika-liku hidupmu dan keluargamu dalam menempuh perjalanan menuju hidayah ini.
Telah sejak lama, kau selalu senang menyimak ceritaku tentang pengalamanku di
pesantren dan apa yang kudapatkan dari suka duka mencari ilmu di perantauan.
Dan
mungkin, jika masa-masa indah itu tak pernah kita lewati, aku tak kan menangisi
undakan pusaramu… saat ini…
***
Dan
pada suatu hari yang telah disebutkan, termaktub di langit. Kita pun disatukan
ikrar pernikahan. Hari-hari kemudian kan kita lalui sebagai kisah pengabdian
dan kata-kata cinta yang selalu layak tuk dibincangkan hingga akhir hayat kita
masing-masing. Namun kau tak pernah kuberitahu, bahwa aku selalu kan mengenang
pula kesan pada hari pertama kita mendiami rumah kita bersama, betapa aku
terkesima saat semilir angin bertiup lembut ke dalam rumah menjadikan beberapa
helai dari rambutmu yang lurus itu melambai perlahan, dan pemandangan itu kian
indah karena wajahmu memantulkan seberkas cahaya mentari pagi yang menerobos
dari kaca jendela.
Saat
itu, aku sejenak terpaut pada harapan jenaka dan khayalan kecil semoga jendela
itu selalu mengajak hembusan angin masuk perlahan ke balik kamar kita, kemudian
angin kan membelai helai-helai rambutmu itu, dan jendela kecil rumah kita pun
kan senantiasa membiarkan mentari pagi menyirami wajahmu, setiap hari, hingga
masa tua kita… dan aku tak kan bosan demi menikmati berlalunya waktu itu,
meskipun kan berlalu dalam waktu yang amat singkat, demi sedetik dua detik yang
mampu menghentikan segala kegelisahan dan kesedihan.
Namun
jendela kecil itu, rumah kita… kini, hanya akan kutunggu bersama dinding dan
perabot di rumah yang kini terlihat berpendar biru, bersama hari-hari yang
melelahkanku dan warna senja yang buram tanpa kehadiranmu. Kau takkan lagi
mengingatku, dan takkan lagi mengingatkanku untuk menyiram bunga kita, akulah
yang mengingatnya dengan segala deraan kesedihan yang tak henti-hentinya
kutopang, bak sembilu berupa rindu yang sangat dan beban kesepian yang
menghunjam.
Sendiri
di rumah ini, bersama pekarangan yang seolah berwarna kelabu… bunga-bunga yang
tertunduk semalam itu, seakan mengiringi kerinduanku hingga ke dasar lembah
keharuan, curam dan dingin.
Bunga-bunga
di pekarangan kecil kita… Ingatkah kau…?
Tidak,
kini hanya aku yang dapat mengingatnya… kukenang saat hampir setahun yang lalu
kau menanyakan bunga kesukaanku, aku pun menjawab bahwa aku tak begitu tahu
perihal bunga-bunga… namun kau tetap memaksaku untuk menyebutkan bunga pilihanku.
Aku pun memilih melati. Tak menyenangkan jika mengingat caramu menceramahiku
karena aku tak banyak tahu nama-nama bunga. Kau berpendapat, bagaimana mungkin
seorang yang mengaku fotografer tak sadar bahwa bunga adalah salah satu wahana
terkemuka dan muara dari jutaan warna di atas muka bumi ini? Bagaimana mungkin
seorang penulis puisi yang merasa mengerti keindahan dari diksi kata-kata tapi
tak tahu apa-apa tentang keindahan bunga di mata manusia? Bagaimana mungkin
seorang guru tak bersedia mendiskusikan kesenangan istrinya dan mengerti isi
hatinya?
Kubantah
saat itu, bahwa kau salah tiga hal; pertama, aku bukanlah fotografer,
sedangkan perihal kedua, ku tahu indahnya bunga, tapi puisi-puisi yang
kubuat tidaklah harus menyebut nama bunga dan menghafal jenis-jenis semerta
warnanya. Jadi tak kan malu kuakui bahwa aku tak perlu banyak tau ragam bunga
demi keindahan kata-kata. Kau tau ‘kan? Ku bukanlah seorang sastrawan, aku hanya
pernah menjadi peserta lomba puisi utusan sekolah, itu pun dulu, dulu sekali
saat kau menang dariku. Dan sebagai seorang guru, sama sekali tak ada kaitannya
dengan tuntutan menjadi suami yang lebih sempurna dari yang selama ini pernah
kau kenal.
Dan
kau pun kemudian menyampaikan bahwa kau sangat ingin memiliki kebun kecil, yang
ditanami bunga matahari kesukaanmu, dan tanaman bunga lain yang melengkapinya
dari pilihanku. Tapi, aku serta merta tak menyetujui rencana itu, kita pun
berdebat… untuk ke sekian kalinya.
Kau
marah, aku diam... kita pun bungkam.
Dan
tanpa izinku, tiba-tiba adikmu datang membawa empat pot bunga, dua pot
berukuran agak besar dengan tanaman bunga matahari dan dua pot lain ditanami
melati. Sejujurnya aku agak tersinggung, kau istriku, tak menurut laranganku.
Aku sudah meyakinkanmu, halaman rumah kontrakan yang kita diami terlalu sempit
untuk ditanami bunga-bunga, dan aku kan merasa kerepotan jika harus turut
merawat tanaman-tanaman itu! Tanah-tanah gembur yang basah terbawa air siraman,
pot berbau kompos, genangan air kotor berlumpur pun kan meluber ke mana-mana.
Namun,
justru sejak itulah di mana omelanku menjadi pangkal penyesalanku kini, dan
menjadi awal hari-hari bertaut kesedihan nan panjang hingga saat ini. Andai adikmu tidak membujukku, mungkin dia tak terlepas bicara,
berpesan agar aku mendengar keinginanmu, memenuhi setidaknya beberapa
‘kebahagiaan terakhir’ bagimu.
Kebahagiaan
terakhir...?
Dan
hari itu menjadi pangkal penyesalan di sisa hayatku masih dikandung badan.
***
Engkau,
Isabel Kui Hua, kupanggil Xiaohui, yang selalu mengingatkanku bahwa menjalani
hidup dengan ketangguhan merupakan sumpah setia kita pada Tuhan. Anugerah
kehidupan ini tiada diukur sepanjang berapa lama kita menghitung waktu yang
berlalu, namun seberapa berharga jejak-jejak kehidupan kita isi dengan ke-syukuran
dalam kebahagian dan kesabaran dalam kepahitan, cerita kehidupan itu sendiri,
apa adanya adalah anugerah Tuhan yang bukan berdasar permintaan kita sendiri, bahkan
tidak berdasar kehendak ibu bapak kita.
Sehat
dan sakit adalah bagian lain dari anugerah itu, sebuah cobaan yang nyatanya
selalu mengiringi kita. Ketabahanmu sendiri memberi pembelajaran terutama padaku.
Betapa amat rentan hati seorang insan, seorang Ihsan. Amat kritis kuasa akal
demi menjunjung upaya-upaya menentukan hasil usaha yang kita bangga-banggakan
selama ini. Di mana aku senantiasa diliput kecemasan, menghitung hari-hari
terakhir bersamamu, bersama leukemia yang harus kau tanggung hingga
akhir hayatmu.
Sebagai
manusia, banyak dari mereka yang dibayangi kematian justru membuatnya kian tegar
dan lebih menghargai anugerah kehidupan. Namun siapa sangka, bagi setiap orang
yang menyayangi sesiapa yang diliput vonis batas usia seperti itu, tentu batinnya
kian ringkih, dilanda kecemasan, didera ketakutan. Rasa takut akan kehilangan bahkan
memicu amarah, kemarahan yang justru menunjukkan sikap pemberontakan;
mempertanyakan keadilan Tuhan!
Itu
terjadi padaku!
Kuakui
bahwa aku nyaris tak pernah merenungkan hal itu. Merenungkan bahwa kematian adalah
satu keniscayaan perpisahan bagi setiap perjumpaan.
Kau
mengajariku hal-hal yang sebenarnya tak pantas tuk diajarkan lagi, dan apa yang
ku hayati dari tuntutan keimanan yang kupelajari semenjak kecil, aku nyaris lupa
bahwa bertahun-tahun kuhabiskan waktu dalam ikhtiar menempuh pendidikan tak
hanya untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi, atau sekedar menjadi
guru yang berbudi.
Tak
terhitung berapa besar pengorbanan usaha dan proses pendidikan yang menyita
pikiranku untuk menjadi pengajar seperti sekarang… ternyata tak lain, seakan
tak ubahnya seorang murid sebuah kelas kehidupan sehari-hari yang keras kepala
yang kesulitan mengakui bahwa aku sedang membohongi diri sendiri.
Aku
keras mengajarkan etika pada anak didikku, namun morilku sendiri rapuh ditempa
kenyataan yang seolah tak kan sanggup aku hadapi dan terlampau menakutkan untuk
dibayangkan.
Karena
aku sangat mencintaimu, amat takut kehilanganmu!
Xiaohui,
bunga matahariku, mentari pagiku, seandainya kau tak berpesan dan selalu
mengingatkanku untuk tak lupa menyiram dan memperhatikan bunga-bunga yang kau
tanam dulu, mungkin bungamu, bungaku, bunga kita bersama tak akan semekar hari
ini. Sayang kau tak sempat melihatnya.
Tadi
pagi, mekarnya kelopak bunga-bunga itu indah sekali. Namun percuma bagi tanaman
bunga, jika bunganya tak pernah mekar, namun apalah arti sebuah bunga yang
mekar jika tak disaksikan oleh orang yang merawat dan menyayanginya…?
Xiaohui,
rintik hujan dari mendung siang ini mungkin kan menyapu sebagian dari kelopak
bunga-bunga kita yang telah layu, dan hujan hari ini mungkin kan meninggalkan
pelangi di langit yang tak lagi dapat kita pandangi bersama lagi.
Ingin
kuceritakan padamu tentang bunga melati-ku yang semerbak harumnya memenuhi
rumah kita semenjak dua malam kemarin, seakan telah mengisyaratkan kan
kepergianmu, dan kini keharumannya membuat dadaku terasa sesak. Adapun bunga
matahari kesayanganmu, indah sekali warnanya saat mekar, seperti yang kau bayangkan
dulu. Sayang... bunga matahari adalah bunga semusim, tak lama lagi, kelopak dan
mahkota bunga yang indah itu, bersama daun batangnya kan luruh, menyusul
kepergianmu meninggalkan tanaman melati dan diriku di sini…
“Ihsan
suamiku… terima kasih telah memberi warna pada lengkungan takdirku, kini aku
tau akan ke mana ujung akhir dari tepian pelangi kehidupanku sendiri. Teruslah
menerangi kehidupanmu dengan mawas diri, tak kan gelap hati mereka yang tak
berhenti menghargai masa lalu, masa lalu mungkin terlihat sebagai lorong gelap
jika kau menoleh ke belakang, tapi dari sanalah sorot cahaya pribadimu berasal,
jangan berputus asa karena sikap menerima akan menerangi masa panjangmu ke
depan.
Sungguh
bahagia lah mereka yang menghimpun pendar-pendar cahaya itu, menghargainya
dengan menjaganya, sebagai wujud kesyukuran pada Allah. Tetaplah harum seperti
melati mu, meskipun aku nanti tiada. Bahagia rasanya sudah mencintaimu, semoga
Allah memberkahi anugerah cinta kita ini.”
...ku
simpan, dan kuabadikan pesan yang kau tulis di diary yang kau tinggalkan
untukku...
Aminn
Allahumma Amin… doaku
mengiringi tapak kaki-ku yang kedelapan, menjauhi pusaramu.
Komentar
Posting Komentar