Di Tepian Pantai Seri II - Spectrum

Spectrum

Di Tepian Pantai Seri. II

 

Kukenang waktu pertama aku bertemu denganmu…

... di suatu sore, saat aku menyusuri tepian pantai seorang diri.

Semilir angin pantai bertiup perlahan, menebar kesejukan. Pijakan kaki terasa nyaman berselimut pasir menapak tanah yang basah dari jejak hujan siang itu.

Siluet matahari menerobos awan sisa-sisa mendung, melambangkan kuasa pancaran Ilahi, menghangatkan, memberi kesan keindahan nan alami.

Nyamannya suasana sore kemudian disempurnakan kemunculan pelangi, menambah indahnya pemandangan sekitar. Pelangi yang seakan membenamkan setengah lingkarnya ke dalam laut, sedangkan setengahnya lagi melengkung menjulang ke langit, melingkar simetris, anggun dan agung… menaungi sebagian besar sisi timur horizon.

Diameter dari bentukan alamiah fenomena alam seolah berkehendak memberi kesempatan seluas-luasnya, bagi siapa pun yang kagum pada pesonanya tuk berkhayal tentang jalan lintasan ke negeri gaib di balik awan sana. Aku sendiri mengumpamakan pelangi itu laksana gerbang raksasa di tengah samudera. Dan dari gerbang itu, kudengar sayup-sayup suara seorang lelaki menyeru, memanggil namaku;

“Selamat datang Ihsan, pencemburu keindahan! Seberangi lautan, songsong aku sebagai petualang ke dunia baru! Akankah kau gentar!”

Tapi bagaimanapun imajinasiku bagi sang bianglala, aku juga masih memiliki kesadaran bahwa semua yang kusaksikan hanya bias cahaya yang diterima retina mata, pelangi tak lain dari wujud spektrum cahaya berupa-rupa pendar warna-warni dari milyaran partikel foton yang membias ke dalam kepala, diresepsi oleh saraf-syaraf neutron otakku, memberi kesan pada alam bawah sadar. Di pelupuk mata dan kedua telinga, akalku masih menyadari kesunyian yang tak terpecah selain oleh deru ombak pantai.

Ku tahu, tak ada kata-kata keluar dari balik lengkung besar pelangi, bahkan suara lelaki yang seolah memanggil namaku tak berbeda dari suaraku. Semua fenomena semata paduan kilasan cahaya dari alam raya bertaut pintasan imajinasi tak nyata dari lamunanku saja… tentang harapan yang membumbung ke langit, yang bahkan jika dituruti kan lebih besar dari diameter pelangi itu… harapan besar seorang anak yang bercita-cita menjadi astronaut setiap memandang ke langit, berharap suatu saat kan menempuh perjalanan antar bintang dengan roket berkecepatan mendekati kecepatan cahaya menaklukkan kuasa masa, mengatasi lengkungan gravitasi.

Anak itu adalah aku, yang jika sekadar menjadi diri sendiri, tak lebih dari menjadi seorang putra nelayan yang kan terus berusaha berbakti pada kedua orang tua, membantu mereka sepenuh hati dalam aktivitas keseharian, membuktikan diri bahwa aku dapat diharapkan untuk kelak menjadi pelaut yang sama baiknya dengan ayah dan leluhurku semenjak dahulu, bertahan hidup.

Dan karena alasan untuk tetap hidup itu pula, aku kan mengarungi samudera mencari ikan, sebagai sumber penghidupan. Adapun memandang bintang-bintang, membaca peta langit ‘tuk panduan haluan pelayaran adalah demi petunjuk supaya tak tersesat di tengah kegelapan malam dan samudera, namun supaya aku dapat mencari jalan pulang ke dermaga asal. Aku merasa diri ini terlahir bukan untuk jauh bertualang.

Harapan-harapan dan khayal panjang sore itu ternyata berhaluan lain, hujan rupa-rupanya mengiringi kehadiran anak manusia lain di pantai yang kukunjungi, seorang gadis kecil yang mendekati dan menyapaku, memecah kenyamananku pada kesendirian dalam renungan.

Kukenang saat itu kau menertawakan kegugupan dan sikap serba salahku, kegugupan yang tentunya wajar karena kehadiran seorang asing yang menyerahkan kamera kantong padaku tanpa ragu… minta difoto tanpa diawali ucapan salam dan perkenalan.

Tak mampu banyak bicara, tak juga menolak, aku hanya menyanggupi permintaanmu saja. Tidaklah sulit memotret seseorang, betapa pun itu gadis kecil yang baru kukenal. Hanya saja, saat itu kau malah memberi kesan yang akan sulit kulupa, saat sebelum sempat memotretmu, aku sempat berargumen bahwa pelangi yang kau minta menjadi latar fotomu, tak kan tampak difoto. Tak terima pendapatku, kau memperdebatkannya.

Padahal belum tentu ada yang benar ataupun salah saat itu. Bukankah kita hanya perlu bersabar? Untuk membuktikan semua yang didebatkan akan terbukti dengan sendirinya, kita hanya menunggu negatif foto itu dicuci nantinya. Kuingat kita mendebatkannya seolah perdebatan tentang akhir dunia dari perspektif dua agama yang berbeda.

Tapi andai saat itu aku maupun dirimu tak berjalan sendirian di pantai yang sama, tentu kita tak kan bertemu, dan andai kita tak bertemu, kau tak kan memaksaku untuk berfoto sesuai inginmu, dan tak kan pula ada perdebatan tak perlu itu, dan andai kita tak berdebat… mungkin kau tak kan lebih jauh menanyakan namaku dan aku menanyakan namamu, dan andai tak ada sekilas tawa dan seberkas rasa kesal sore itu, bisa jadi memoriku tentangmu akan segera pupus dalam berapa hari saja… dan mungkin aku tak kan mengenangmu saat ini dengan segala kesedihan seperti ini.

Namun, segalanya terjadi begitu saja, perjumpaan kita, perdebatan kita, rona wajah kesal mu yang tak terlupakan, dan foto berlatar pelangi yang kuabadikan jauh dalam sanubariku yang terdalam… sejak saat itu.

Semua perjumpaan... adalah segala hal yang telah digariskan oleh-Nya…

***

Beberapa bulan sejak pertemuan di sore berpelangi, bukan kebetulan jika ternyata kau adalah pesaingku di sebuah lomba puisi antar sekolah. Kau utusan sekolahmu menyaingiku yang mewakili sekolah kami. Kau juara lomba, dan aku di peringkat ketiga. Dengan tersenyum senang, kau menghampiriku.

“Ihsan fotografer! Ini adalah kekalahan kedua-mu!” kau memekik gembira, menunjukkan kebanggaan dan sekilas keangkuhan.

Kau mengejekku yang tak begitu pandai membacakan puisi, terlihat lucu katamu. Dan kesalahan prediksiku perihal pelangi di belakang punggungmu yang menurutku tak kan dapat dipotret itu... sebagai kekalahan pertama-ku, kekalahan berdebat dan kesalahan argumenku menjadi suatu kebanggaan bagimu. Dan kini kau menang untuk kali kedua, memenangkan lomba baca puisi. Sebuah kemenangan yang seolah kian mengukuhkan semua keunggulanmu dibanding aku. Namun, kenyataan lain yang justru kulihat, aku tak kurang bangga karena kau pun tak menutupi fakta bahwa kau berterima kasih dan memuji hasil bidikan fotoku. Meski tidak kau katakan, kau mengakui bahwa aku memotret lebih baik dari dirimu…

Dan kemudian kita kian kerap bertemu, dan semakin dekat bersahabat. Kau pernah bergurau bahwa jika aku bersedia kau pinjami kamera dan lebih banyak praktik memotret, suatu saat aku akan menjadi fotografer andalan dan kan berkeliling dunia seperti kontributor majalah National Geographic. Aku tentu senang dipuji seperti itu… Dan lebih senang lagi karena selalu mendapat pinjaman kamera-mu, bersedia memotretmu kapan saja, dan kau menjadi objek atau mencari objek dan latar yang bagus sesukamu, di mana saja.

Meski semakin mengenalmu, semakin kumengerti siapa dirimu dan apalah diriku. Semakin aku tahu dan dekat denganmu, makin kusadari pula bahwa kita ternyata berada pada ruang kehidupan yang berbeda, dengan satu garis yang seolah takkan dapat kita lewati, satu sama lain…

***

Ku akui tak mudah berteman denganmu, tak jarang aku mendapat teguran orang tua dan kerabatku, kau pun tentunya begitu. Namun persahabatan kita tetap berjalan hingga bertahun-tahun kemudian.

Suatu waktu di kampung kita digelar pasar malam. Pasar malam yang meramaikan alun-alun kecamatan hampir satu minggu lamanya. Di sana aku membantu bapak berjualan ikan bakar. Kebetulan sekali, lokasi pasar malam tak berjarak jauh dari rumahmu. Kulihat kau dan keluargamu menghias rumah memeriahkan perayaan Musim Semi; Imlek. Tahun itu imlek di kampung kami lebih meriah dari biasanya, karena untuk pertama kalinya Hari Raya Imlek diakui sebagai hari libur nasional.

Malam puncak perayaan Imlek, juga merupakan malam terakhir dari satu pekan rangkaian pasar malam. Purnama menerangi langit saat kau menyinggahi warung kami, demi melihatku. Dan itu membuat orang-orang sekitar kembali menyorotkan  pandangan pada kita, sedang abang-abangku saling berbisik dan menertawakan dari belakang punggungku. Dan dari kejauhan, kulihat orang tuamu segan menungguimu, mereka berdiri saja di pekarangan kuil, tersenyum kecil ke arah kita.

“Bajumu bagus sekali malam ini, kau makin cantik memakainya…” aku memberi pendapat pada baju merah padam bermotif bunga Gardenia yang kau kenakan saat itu, kukagumi pakaian tradisional mandarin yang kau pakai terlihat sopan, dan kau kian terlihat manis mengenakannya.

“Dan kau Ihsan, jelek seperti biasa, dengan baju kebesaran itu… tapi aku suka bau badanmu, seharum ikan bakar” ujarmu, beriring senyum terkulum.

Aku tak tersinggung, kata-katamu pun bukan bermaksud menghina, semua itu benar, aku memang nyaris tak punya baju yang sepadan dengan ukuran badanku, karena kebanyakan adalah baju bekas abang-abangku, sejak kecil aku selalu siap untuk memakai baju ‘kebesaran’.

Dulu aku sempat mengiramu sebagai seorang yang sombong dengan kata-kata yang selalu terlalu berterus terang seperti itu. Tapi ku tahu, sebenarnya kau tak pernah menganggapku kurang dari seorang sahabat, meski dengan segala perbedaan status sosial di antara kita dan perbedaan sifat yang begitu kentara.

"Selamat ya! Selamat Hari Raya Imlek" Ucapku.

"Terima kasih Ihsan, tapi jika ingin mengucapkan selamat, ucapkan Gong Xi Fa Cai... Itu ucapan selamat imlek yang benar." Jawabmu dengan tertawa.

Aku hanya membalas koreksianmu dengan tersenyum, tak mampu menirukan rangkaian kalimat rumit itu, dan aku malu memintamu mengulangi kata-kata itu lagi. Aku hanya mengangguk pelan saat kau mengajakku berjalan menyusul kedua orang tuamu ke kuil.

Dan di Malam indah ber-purnama itu... aku ikut mengantarmu hingga ke depan gerbang luar kuil. Dan dari luar pagar, aku melihatmu sempat menolehkan wajah ke belakang dan memandang lama ke arahku, kita berbalas dan berbagi senyuman kembali. Saat itulah masa-masa terindah yang tak mudah kulupakan hingga kini. Sejak awal pertemuan kita di sore yang berpelangi dahulu, baru pada malam itu, untuk pertama kalinya aku benar-benar yakin, bahwa aku telah mencintaimu.

***

Setahun berlalu, aku rupanya tak ditakdirkan menjadi pelaut seperti bapak, tapi pendidikan yang dipilihkan beliau menjadikanku mendalami ilmu agama. Aku merantau hingga menyeberang ke pulau yang jauh dari kampung halamanku, menjadi santri di sebuah pondok pesantren.

Meski dua tahun dipisah jarak, nyatanya kita tidak merasa saling berjauhan, karena kita dihubungkan fasilitas komunikasi teranyar saat itu; koneksi internet! Penyewaan komputer kian murah dan internet kian mudah ditemui, bisnis warnet tersebar dari kota hingga ke desa, dan hubungan komunikasi kita terjaga dari fasilitas email, chatting, dan amat mudah membuat janji maupun membatalkannya dengan sekedar meninggalkan pesan melalui ‘offline messages’. Meski untuk sesekali mengunjungi warnet, aku pun harus agak mengendap-endap supaya tak ketahuan guru-guru dan pengurus di pesantren, karena mengunjungi warnet adalah terlarang bagi kami, para santri.

Dua tahun di pesantren aku tak pulang ke kampung halaman. Dan pada suatu sore yang berpelangi, satu hal yang spesial sekali kudapati saat kembali kau ajak berkelakar di chatting, dan saat mengaktifkan webcam… terkejut aku dibuatmu saat pertama melihat… kau berjilab! Dan satu kata darimu yang tak terlupakan sampai kini…

“Alhamdulillah, kabarku baik Ustadz Ihsan…”

Tiba-tiba segalanya terasa berubah, kini aku tak sekedar merasa berbincang dengan kawan lama, namun seolah sedang berkenalan dengan seorang gadis muslimah yang baru kukenal.

Taukah kau? Itu pertama kalinya aku chatting dengan seorang muslimah Tionghoa! Diam-diam aku tak hanya senang, aku juga bangga!

Aku mendokumentasikan obrolan kita hari itu di email, sempat kusimpan screenshoot, juga transkip teks percakapan kita. Kata-katamu hari itu memang berbeda dari biasa, terasa sangat berharga.

Andai saja, sebelum itu kita tak belajar bersama bagaimana memanfaatkan internet, yang membuat komunikasi serasa tak berjarak lagi, mungkin aku tak pernah tahu lika-liku hidupmu dan keluargamu dalam menempuh perjalanan menuju hidayah ini. Telah sejak lama, kau selalu senang menyimak ceritaku tentang pengalamanku di pesantren dan apa yang kudapatkan dari suka duka mencari ilmu di perantauan.

Dan mungkin, jika masa-masa indah itu tak pernah kita lewati, aku tak kan menangisi undakan pusaramu… saat ini…

***

Dan pada suatu hari yang telah disebutkan, termaktub di langit. Kita pun disatukan ikrar pernikahan. Hari-hari kemudian kan kita lalui sebagai kisah pengabdian dan kata-kata cinta yang selalu layak tuk dibincangkan hingga akhir hayat kita masing-masing. Namun kau tak pernah kuberitahu, bahwa aku selalu kan mengenang pula kesan pada hari pertama kita mendiami rumah kita bersama, betapa aku terkesima saat semilir angin bertiup lembut ke dalam rumah menjadikan beberapa helai dari rambutmu yang lurus itu melambai perlahan, dan pemandangan itu kian indah karena wajahmu memantulkan seberkas cahaya mentari pagi yang menerobos dari kaca jendela.

Saat itu, aku sejenak terpaut pada harapan jenaka dan khayalan kecil semoga jendela itu selalu mengajak hembusan angin masuk perlahan ke balik kamar kita, kemudian angin kan membelai helai-helai rambutmu itu, dan jendela kecil rumah kita pun kan senantiasa membiarkan mentari pagi menyirami wajahmu, setiap hari, hingga masa tua kita… dan aku tak kan bosan demi menikmati berlalunya waktu itu, meskipun kan berlalu dalam waktu yang amat singkat, demi sedetik dua detik yang mampu menghentikan segala kegelisahan dan kesedihan.

Namun jendela kecil itu, rumah kita… kini, hanya akan kutunggu bersama dinding dan perabot di rumah yang kini terlihat berpendar biru, bersama hari-hari yang melelahkanku dan warna senja yang buram tanpa kehadiranmu. Kau takkan lagi mengingatku, dan takkan lagi mengingatkanku untuk menyiram bunga kita, akulah yang mengingatnya dengan segala deraan kesedihan yang tak henti-hentinya kutopang, bak sembilu berupa rindu yang sangat dan beban kesepian yang menghunjam.

Sendiri di rumah ini, bersama pekarangan yang seolah berwarna kelabu… bunga-bunga yang tertunduk semalam itu, seakan mengiringi kerinduanku hingga ke dasar lembah keharuan, curam dan dingin.

Bunga-bunga di pekarangan kecil kita… Ingatkah kau…?

Tidak, kini hanya aku yang dapat mengingatnya… kukenang saat hampir setahun yang lalu kau menanyakan bunga kesukaanku, aku pun menjawab bahwa aku tak begitu tahu perihal bunga-bunga… namun kau tetap memaksaku untuk menyebutkan bunga pilihanku. Aku pun memilih melati. Tak menyenangkan jika mengingat caramu menceramahiku karena aku tak banyak tahu nama-nama bunga. Kau berpendapat, bagaimana mungkin seorang yang mengaku fotografer tak sadar bahwa bunga adalah salah satu wahana terkemuka dan muara dari jutaan warna di atas muka bumi ini? Bagaimana mungkin seorang penulis puisi yang merasa mengerti keindahan dari diksi kata-kata tapi tak tahu apa-apa tentang keindahan bunga di mata manusia? Bagaimana mungkin seorang guru tak bersedia mendiskusikan kesenangan istrinya dan mengerti isi hatinya?

Kubantah saat itu, bahwa kau salah tiga hal; pertama, aku bukanlah fotografer, sedangkan perihal kedua, ku tahu indahnya bunga, tapi puisi-puisi yang kubuat tidaklah harus menyebut nama bunga dan menghafal jenis-jenis semerta warnanya. Jadi tak kan malu kuakui bahwa aku tak perlu banyak tau ragam bunga demi keindahan kata-kata. Kau tau ‘kan? Ku bukanlah seorang sastrawan, aku hanya pernah menjadi peserta lomba puisi utusan sekolah, itu pun dulu, dulu sekali saat kau menang dariku. Dan sebagai seorang guru, sama sekali tak ada kaitannya dengan tuntutan menjadi suami yang lebih sempurna dari yang selama ini pernah kau kenal.

Dan kau pun kemudian menyampaikan bahwa kau sangat ingin memiliki kebun kecil, yang ditanami bunga matahari kesukaanmu, dan tanaman bunga lain yang melengkapinya dari pilihanku. Tapi, aku serta merta tak menyetujui rencana itu, kita pun berdebat… untuk ke sekian kalinya.

Kau marah, aku diam... kita pun bungkam.

Dan tanpa izinku, tiba-tiba adikmu datang membawa empat pot bunga, dua pot berukuran agak besar dengan tanaman bunga matahari dan dua pot lain ditanami melati. Sejujurnya aku agak tersinggung, kau istriku, tak menurut laranganku. Aku sudah meyakinkanmu, halaman rumah kontrakan yang kita diami terlalu sempit untuk ditanami bunga-bunga, dan aku kan merasa kerepotan jika harus turut merawat tanaman-tanaman itu! Tanah-tanah gembur yang basah terbawa air siraman, pot berbau kompos, genangan air kotor berlumpur pun kan meluber ke mana-mana.

Namun, justru sejak itulah di mana omelanku menjadi pangkal penyesalanku kini, dan menjadi awal hari-hari bertaut kesedihan nan panjang hingga saat ini. Andai adikmu  tidak membujukku, mungkin dia tak terlepas bicara, berpesan agar aku mendengar keinginanmu, memenuhi setidaknya beberapa ‘kebahagiaan terakhir’ bagimu.

Kebahagiaan terakhir...?

Dan hari itu menjadi pangkal penyesalan di sisa hayatku masih dikandung badan.

***

Engkau, Isabel Kui Hua, kupanggil Xiaohui, yang selalu mengingatkanku bahwa menjalani hidup dengan ketangguhan merupakan sumpah setia kita pada Tuhan. Anugerah kehidupan ini tiada diukur sepanjang berapa lama kita menghitung waktu yang berlalu, namun seberapa berharga jejak-jejak kehidupan kita isi dengan ke-syukuran dalam kebahagian dan kesabaran dalam kepahitan, cerita kehidupan itu sendiri, apa adanya adalah anugerah Tuhan yang bukan berdasar permintaan kita sendiri, bahkan tidak berdasar kehendak ibu bapak kita.

Sehat dan sakit adalah bagian lain dari anugerah itu, sebuah cobaan yang nyatanya selalu mengiringi kita. Ketabahanmu sendiri memberi pembelajaran terutama padaku. Betapa amat rentan hati seorang insan, seorang Ihsan. Amat kritis kuasa akal demi menjunjung upaya-upaya menentukan hasil usaha yang kita bangga-banggakan selama ini. Di mana aku senantiasa diliput kecemasan, menghitung hari-hari terakhir bersamamu, bersama leukemia yang harus kau tanggung hingga akhir hayatmu.

Sebagai manusia, banyak dari mereka yang dibayangi kematian justru membuatnya kian tegar dan lebih menghargai anugerah kehidupan. Namun siapa sangka, bagi setiap orang yang menyayangi sesiapa yang diliput vonis batas usia seperti itu, tentu batinnya kian ringkih, dilanda kecemasan, didera ketakutan. Rasa takut akan kehilangan bahkan memicu amarah, kemarahan yang justru menunjukkan sikap pemberontakan; mempertanyakan keadilan Tuhan!

Itu terjadi padaku!

Kuakui bahwa aku nyaris tak pernah merenungkan hal itu. Merenungkan bahwa kematian adalah satu keniscayaan perpisahan bagi setiap perjumpaan.

Kau mengajariku hal-hal yang sebenarnya tak pantas tuk diajarkan lagi, dan apa yang ku hayati dari tuntutan keimanan yang kupelajari semenjak kecil, aku nyaris lupa bahwa bertahun-tahun kuhabiskan waktu dalam ikhtiar menempuh pendidikan tak hanya untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi, atau sekedar menjadi guru yang berbudi.

Tak terhitung berapa besar pengorbanan usaha dan proses pendidikan yang menyita pikiranku untuk menjadi pengajar seperti sekarang… ternyata tak lain, seakan tak ubahnya seorang murid sebuah kelas kehidupan sehari-hari yang keras kepala yang kesulitan mengakui bahwa aku sedang membohongi diri sendiri.

Aku keras mengajarkan etika pada anak didikku, namun morilku sendiri rapuh ditempa kenyataan yang seolah tak kan sanggup aku hadapi dan terlampau menakutkan untuk dibayangkan.

Karena aku sangat mencintaimu, amat takut kehilanganmu!

Xiaohui, bunga matahariku, mentari pagiku, seandainya kau tak berpesan dan selalu mengingatkanku untuk tak lupa menyiram dan memperhatikan bunga-bunga yang kau tanam dulu, mungkin bungamu, bungaku, bunga kita bersama tak akan semekar hari ini. Sayang kau tak sempat melihatnya.

Tadi pagi, mekarnya kelopak bunga-bunga itu indah sekali. Namun percuma bagi tanaman bunga, jika bunganya tak pernah mekar, namun apalah arti sebuah bunga yang mekar jika tak disaksikan oleh orang yang merawat dan menyayanginya…?

Xiaohui, rintik hujan dari mendung siang ini mungkin kan menyapu sebagian dari kelopak bunga-bunga kita yang telah layu, dan hujan hari ini mungkin kan meninggalkan pelangi di langit yang tak lagi dapat kita pandangi bersama lagi.

Ingin kuceritakan padamu tentang bunga melati-ku yang semerbak harumnya memenuhi rumah kita semenjak dua malam kemarin, seakan telah mengisyaratkan kan kepergianmu, dan kini keharumannya membuat dadaku terasa sesak. Adapun bunga matahari kesayanganmu, indah sekali warnanya saat mekar, seperti yang kau bayangkan dulu. Sayang... bunga matahari adalah bunga semusim, tak lama lagi, kelopak dan mahkota bunga yang indah itu, bersama daun batangnya kan luruh, menyusul kepergianmu meninggalkan tanaman melati dan diriku di sini…

“Ihsan suamiku… terima kasih telah memberi warna pada lengkungan takdirku, kini aku tau akan ke mana ujung akhir dari tepian pelangi kehidupanku sendiri. Teruslah menerangi kehidupanmu dengan mawas diri, tak kan gelap hati mereka yang tak berhenti menghargai masa lalu, masa lalu mungkin terlihat sebagai lorong gelap jika kau menoleh ke belakang, tapi dari sanalah sorot cahaya pribadimu berasal, jangan berputus asa karena sikap menerima akan menerangi masa panjangmu ke depan.

Sungguh bahagia lah mereka yang menghimpun pendar-pendar cahaya itu, menghargainya dengan menjaganya, sebagai wujud kesyukuran pada Allah. Tetaplah harum seperti melati mu, meskipun aku nanti tiada. Bahagia rasanya sudah mencintaimu, semoga Allah memberkahi anugerah cinta kita ini.”

...ku simpan, dan kuabadikan pesan yang kau tulis di diary yang kau tinggalkan untukku...

Aminn Allahumma Amin… doaku mengiringi tapak kaki-ku yang kedelapan, menjauhi pusaramu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHUTBAH HARI RAYA IDUL ADHA 1447 H, DENGAN TEMA: DARI TAKWA INDIVIDU MENUJU KESALEHAN SOSIAL

Di Tepian Pantai Seri I - Petrichor

Sarung Untuk Bapak